Muhammad Yulian Mamun
Muhammad Yulian Mamun Karyawan Swasta

Laki-laki. 165 cm. Asal Banjarmasin dan merantau di Jakarta. Menggemari sejarah dan desain grafis. Pengasuh http://mryulian.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Piala Dunianya Mesir Hampa Tanpa Aboutrika

12 Februari 2018   12:56 Diperbarui: 13 Februari 2018   02:39 1128 2 1
Piala Dunianya Mesir Hampa Tanpa Aboutrika
sumber foto: egypttoday.com

Fakta Aboutrika populer dan dicintai di negerinya: penjualan kaos bola (jersey) dengan namanya di Mesir, baik KW ataupun ORI lebih laku daripada kaos Messi & Ronaldo.

Beberapa pengamat sepakbola memprediksi Mesir berpeluang memberi kejutan pada Piala Dunia tahun depan. Calon protagonisnya tentu Mohamed Salah, superstar Liverpool seharga 42 juta Euro yang seakan ogah kendor mencetak gol.

Ada juga sederet nama yang merumput di Liga Inggris seperti gelandang Arsenal, Mohamed El Neny, Ahmed Hegazy bek tangguh West Bromwich Albion, hingga pemain berbakat Ramadan Sobhi di Stoke City. Belum lagi beberapa nama lain yang berlaga di kompetisi Eropa.

Ada satu wacana yang menyeruak di dunia maya tak lama setelah Mesir memastikan lolos setelah mengalahkan Kongo pada Oktober 2017 silam.

Tagar "Trika di Piala Dunia" menjadi trending topics di jagad Twitter Mesir. Publik meminta Mohammed Aboutrika, seorang pemain yang sudah kadung pensiun agar balik membela timnas. Sebagian pihak menganggap kreativitas dan sihirnya di lini serang Mesir masih diperlukan untuk menunjang daya ledak Salah dan bintang muda lain yang sedang panas-panasnya.

Seperti biasa perdebatan pun muncul dari sana, ada yang pro dan kontra. Tak hanya di jejaring internet, gagasan ini sempat ditanggapi cukup serius dalam beberapa berita di surat kabar dan talkshow olahraga di televisi Mesir. Bagi para sebagian pendukung Aboutrika, hampa rasanya jika pujaannya tidak ikut serta.

Aboutrika sendiri dengan kerendahan hati menolak wacana itu. "Saya berterima kasih atas perhatian kalian (agar ikut tampil di Piala Dunia). Tapi Saya tak ingin merampas hasil keringat rekan-rekan di timnas. Mereka lebih berhak untuk tampil di sana," cuitnya lewat akun pribadinya.

Nama Aboutrika memang kurang familiar di kalangan para pencinta bola tanah air. Orang lebih mengenal sosok Salah atau Mido misalnya. Padahal sebaliknya, namanya begitu harum di tanah kelahirannya, benua Afrika dan dunia Arab.

Keajaiban sering muncul dari kedua kakinya. Dialah fantasista bagian dari skuad impian asuhan pelatih Hassan Shehata saat memenangi Piala Afrika 2006 & 2008.

Pada Piala Afrika 2006 yang dihelat di negeri sendiri, Aboutrika bersama Mohamed Barakat dan striker Emad Metab membentuk trisula 'segitiga bermuda' di lini serang Fir'aun. Ia mencetak gol terakhir adu penalti di final melawan Pantai Gading. Sedangkan di final dua tahun setelah itu, ia memanfaatkan blunder bek kawakan Kamerun Rigobert Song untuk mencetak gol kemenangan.

Gaya mainnya sebagai trequartista mungkin bisa dimirip-miripkan dengan maestro Brasil, Kaka. Pria kelahiran 7 November 1978 ini biasa mengatur serangan di sepertiga akhir lapangan lawan dengan tusukan dan umpan tak terduganya. Tak heran publik Mesir menjulukinya "El Magico" karena sihirnya saat memegang si kulit bundar.

Mentas di Piala Konfederasi 2009 adalah sekian dari penampilan terbaiknya. Aboutrika sama sekali tidak canggung berada satu arena dengan para bintang dunia. Melawan Brasil, ia membuat anak asuh Dunga bekerja keras dan butuh gol penalti Kaka di menit terakhir untuk menang 4-3.

Giliran Italia kena terornya dan harus rela takluk menanggung malu. Saya yang ketika itu masih kuliah di ibukota Mesir merasa beruntung ikut berada di tengah fans saat kemenangan timnas mereka atas Gli Azzuri tersebut.

Kedai teh tempat nonton bareng seperti hendak roboh akibat kehebohan saat Aboutrika mengarsiteki gol Mohammed Homos ke gawang Buffon lewat sepak pojok. Sayangnya kekalahan antiklimaks dari Amerika Serikat di laga terakhir membuat Mesir tersingkir di fase grup.

"Teroris" yang Dihormati dari Rekan dan Rival

Keterampilan olah bola Aboutrika memang kelas dunia. Didier Drogba menyebutnya sebagai "Legenda Afrika yang paling underrated". Ali Khaled, editor Four Four Two Arabia menyayangkan kenapa Aboutrika tidak pernah bermain di kompetisi elit Eropa.

Memulai karir profesional di kasta kedua Liga Mesir bersama Tersana di usia 19 tahun, Aboutrika selanjutnya membawa timnya promosi.

Bakatnya akhirnya memikat klub raksasa dari Kairo, Al Ahly. Selama membela panji Al Ahly dalam kurun waktu 2004-2014 ia ikut mempersembahkan 7 gelar juara Liga Mesir, 2 Piala Mesir, 1 Piala Super Mesir dan 5 medali juara Liga Champions Afrika. Semua itu melengkapi 118 gol dari 292 penampilan bersama si Merah dari Kairo. Torehan ini bisa saja bertambah mengingat akurasi pangkalan data sepakbola Mesir tidak lebih baik dari Liga Indonesia.

Sedangkan bagi timnas, ia ikut andil dalam 2 gelar juara piala Afrika dalam total 105 caps dan 38 gol yang ia sumbangkan. Sarjana sejarah dari Cairo University ini juga sempat tampil pada Olimpiade London 2012 sebagai salah satu dari 3 pemain senior. Semuanya dilengkapi prestasi individu baik saat membela klub maupun timnas.

Pantas saja ia disebut legenda jika menilik dari sejumlah prestasi ini. Tapi yang membuat---hampir---semua rakyat Mesir begitu mencintainya adalah sikap luhur dan teladan akhlaknya di di manapun ia berada. Tidak ada kartu merah yang mencoreng raport karirnya berkat sikap santun di lapangan.

Selain aktif berderma dalam kegiatan sosial, ia juga vokal menyuarakan kampanye kemanusiaan.Tanpa ragu ia melakukan selebrasi gol pada Piala Afrika 2008 dengan membuka kaus bertuliskan "Symphatize with Gaza", sebuah dukungan terhadap masyarakat Palestina yang saat itu diblokade Israel.

Konsekuensi denda dari Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF) diterimanya dengan lapang dada. Yang membuat bulu kuduk merinding adalah pesannya agar nanti jika ia meninggal dunia agar kaus tersebut disemayamkan bersama jasadnya di liang lahat. Wasiat ini disampaikannya ketika saat didaulat menjadi tamu kehormatan dalam Malam Anugerah Bola Emas Pesepakbola Terbaik Aljazair, Juli 2016.

egypttoday.com
egypttoday.com
Nomor punggung 72 digunakannya saat membela Baniyas di liga Uni Emirat Arab dalam periode singkat saat Liga Mesir vakum akibat politik. Nomor ini juga digunakannya di musim terakhirnya di Al Ahly. Angka ini adalah penghormatan kepada jumlah korban tewas dari pendukung Al Ahly dalam kerusuhan di stadion kota Port Said, 1 Februari 2012.

Ultras Ahlawy, kelompok pendukung fanatik Al Ahly begitu cintanya pemain ini. Suatu ketika, Tawfik Okasha politikus Mesir mengata-ngataiAboutrika di televisi sebagai (maaf) "sampah" karena kedekatannya dengan gerakan terlarang Ikhwanul Muslimin (Islamic Brotherhood).

Ultras Ahlawy sontak tersengat! Mereka membela sang idola dengan lantang meneriakkan chants balasan yang lebih keji kepada Okasha dalam sebuah sesi latihan Al Ahly. Saking kotornya isi yel-yel tersebut, saya merasa tidak pantas untuk menyebutkannya di sini kepada anda para pembaca. Apalagi Anda yang di bawah umur dan belum akil balig.

Memekik chant tidak senonoh bukanlah tindakan yang terpuji. Janganlah sekali-kali fans tanah air yang mengaku sebagai patriot Pancasila menirunya. Tapi aksi Ultras Ahlawy ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang layak dicinta.

Pemerintah Mesir pernah membekukan asetnya tahun 2015 akibat sangkaan mendanai gerakan Ikhwanul Muslimin. Selanjutnya pada Januari 2017 pemerintah memasukkan namanya dalam daftar teroris yang harus diwaspadai. Akibatnya Aboutrika terpaksa berdomisili di Qatar dan kini aktif sebagai pandit di stasiun olahraga yang sama dengan Pangeran Siahaan.

"Terusir" dari tanah air memang berat dan menjadi ujian bagi para orang hebat. Seperti halnya para pahlawan nasional kita yang harus hidup di pembuangan atau Nabi Muhammad yang harus hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat ayahnya wafat Februari 2017 silam, sampai Aboutrika tidak bisa menghadiri prosesi pemakaman karena khawatir terjadi hal yang tak diinginkan. Padahal Aboutrika sendiri menyangkal tuduhan tersebut, ia mengaku sebagai warga negara yang nasionalis dan patuh pada undang-undang.

Apalah artinya tuduhan teroris. Toh cinta pada Aboutrika tak luntur begitu saja, justru simpati yang makin mengalir. Segelintir pembenci memang ada, tapi itu tak ada artinya dibanding cinta yang tulus apalagi dari orang banyak.

Pasca lolosnya Mesir dari kualifikasi Piala Dunia, saya ngobrol dengan seorang teman, fans berat timnas Mesir via media sosial. Setelah mengucapkan selamat atas keberhasilan Mesir, pembicaraan akhirnya menyinggung Aboutrika.

"Aboutrika orang baik. Kami semua (rakyat Mesir) menghormatinya terlepas dari cara pandangnya. Aku pikir dia bukan orang yang pantas disebut teroris. Walaupun kamu tahulah, tinggal di Qatar memang bukan pilihan yang baik," ujarnya mengutarakan respek. Responnya ini mencengangkan saya, padahal pandangan sobat yang satu ini anti terhadap gerakan Ikhwanul Muslimin apalagi dengan hubungan Mesir dan Qatar yang memanas belakangan ini.

Essam El Hadary kiper senior kompatriotnya di timnas angkat suara soal isu yang merundung Aboutrika.

"Bagi saya ia orang baik yang saleh dan taat beragama. Saya akan menjadi orang paling bahagia di dunia andai dia membobol gawang saya. Karena itu adalah sebuah kehormatan," ujarnya.

Tak terhitung pembelaan dari fans bertebaran di media sosial, termasuk dari pendukung Zamalek, musuh bebuyutan Al Ahly. Begitupun Aljazair, rival yang pernah punya hubungan panas dengan Mesir setelah insiden kualifikasi Piala Dunia 2010 tak ketinggalan memberikan rasa hormatnya. Contohnya adalah momen Anugerah Bola Emas Aljazair yang telah disebutkan di atas. Peristiwa lainnya dalam pertandingan Liga Champions Afrika tahun 2011 pendukung klub Aljazair, MC Alger memberikan standing ovation saat Aboutrika diganti keluar.

Oke, bangsa Arab memang terkenal dengan budaya mujamalah, yaitu basa-basi dan pujian hiperbolik yang berlebihan. Tapi jika penghargaan itu datang dari banyak orang apalagi dari rival, tentu itu bukan pemanis di bibir belaka.

Akhirulkalam, ayah dari sepasang putra kembar dan seorang putri ini telah mencontohkan pada dunia bahwa budi pekerti adalah unsur terpenting dalam hidup manusia.

Kekayaan, ketenaran dan kekuasaan tanpa perilaku yang baik akan menjadi sumber kehancuran. Orang berakhlak tidak perlu memaksa orang untuk mencintainya, apalagi dengan pencitraan penuh dusta. Justru segenap makhluk Tuhan baik di langit dan bumi yang akan berdatangan memberikan cinta mereka, dengan tulus.