Mohon tunggu...
Maya Maulida Rifai
Maya Maulida Rifai Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga - 20107030141

oke, love u

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

10 Tahun Hidup Tanpa Hangatnya Pelukan Ibu

11 Maret 2021   21:11 Diperbarui: 13 Maret 2021   08:33 280
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Hai aku gadis yang rindu akan pelukan ibu, ibu meninggalkan aku sudah 10 tahun lamanya. Saat aku masih berumur 8 tahun dan tidak memahami betul apa yang sebenarnya terjadi, kejadian 10 tahun yang lalu itu juga momen dimana aku melihat dengan mata kepala sendiri ibuku sakaratul maut. Begini ceritanya.

Sore hari tanggal 5 Agustus 2010, aku baru main badminton sama teman-teman rumah dan juga KKN UGM yang sedang ditugaskan di kampungku. Temanku entah lupa aku siapa namanya menitipkan raket badminton yang dia bawa biar aku simpan di rumahku, dia nitipin raketnya karena rumahku emang gak jauh dari lapangan tempat aku main badminton. 

Gak tau kenapa aku naruh itu pas diatas kepala ibu, dan gak lama lagi temenku memintanya kembali soalnya dia mau pulang deh kayaknya.. lupa-lupa inget aku guys. 

Tapi pas aku mau ambil raketnya, aku ngeliat ibu baru muntah-muntah yang gak biasa soalnya muntahnya darah.. Ibu yang udah siap mau pergi periksa ke dokter jadi ketunda berangkatnya gara-gara ibu muntah yang gak biasa. 

Aku gak tega lihat ibu begitu terus aku lari gak jadi ambil raket temenku dan langsung nangis di dapur sambil ngintip untuk memastikan kalo ibu bakal baik-baik aja. 

Dan yang terjadi aku lihat ibu mengeluarkan muntahan darahnya dan wajah ibu menjadi warna ungu. Aku yang gak tau kenapa ibu kok bisa kayak gitu cuma bisa mlongo.. ngeliat Bapak histeris sambil ngucap "Allahu Akbar" dan mencari mobil yang bisa bawa ibuku ke rumah sakit, aku makin bingung terus cuma ikutan nangis awalnya tapi kenapa orang-orang di sekitarku juga ikutan nangis jadilah aku seperti orang ngamuk dan tetanggaku menggendong untuk menengankan aku agar semua terlihat sekaligus terasa baik-baik aja. Semalam aku tidak dirumah, aku dibawa tetanggaku kerumahnya yang lumayan jauh dari rumahku soalnya aku belum tau jalan mana-mana waktu kecil.

Bangun tidur dirumah tetanggaku tanggal 6 Agustus 2010, aku di bohongi oleh anak dari tetanggaku itu kalau dia akan pergi membeli makan yang padahal dia pergi kerumahku biar aku gak ikut. Aku gak tau kenapa dia harus bohong padahal itu hari dimana Ibu udah meninggal semalamnya dan aku gak dikasih tau apa yang sebenarnya terjadi, ya mungkin mereka mau kasih tau ke aku di waktu yang tepat biar aku gak shock. Coba kalo dipikir gak ada anak yang gak shock ditinggal ibunya sendiri.

habis itu aku dibawa kerumah dengan sambutan hangat dari tetanggaku, mereka semua berdiri di pinggir jalan seolah aku orang special yang sedang jalan menuju rumah. Jujur aku bingung banget awalnya kenapa mereka memperlakukanku kayak gitu, dalam hati tanya "emang apasih yang terjadi" habis itu aku liat di pertigaan jalan depan rumahku banyak temen-temen sekolahku waktu itu masih SD yang mereka ada bilang "yang sabar ya Maya" dalam hatiku teriak "HAH?" dan gak jawab apa-apa.

Sampai habis jalan ke arah rumah mbakku langsung menggendong dengan tangisan sambil bilang "Ibu meninggal dek", aku nangis histeris lalu mbakku menawarkan aku untuk melihat wajah ibu terakhir kalinya. Karna aku takut sama orang yang udah meninggal aku menolak itu tapi mbakku masih aja membujukku untuk lihat wajah ibu dan aku tetap gak mau. Sampe sekarang aku nyesel kenapa aku nolak itu.

Alhamdulillah Ibuku meninggal di hari jum'at yang mulia, Ibuku juga sempat mengucap syahadat di sakaratul mautnya, Subhanallah. Ibu di sholatkan di masjid UIN Kampusku sekarang dengan para lelaki yang sholeh di sholat jum'at. MashaAllah satu masjid penuh ikut menyolatkan Ibuku. Selesai menyolatkan ibuku, ibuku dibawa lagi untuk di makamkan di tempat istirahat terakhirnya, di Makam UIN. Melihat tubuh ibuku sudah di tutupi penuh kain kafan dan akan dimasukkan ke liang lahat rasanya aku tidak ikhlas dan siap jika raga Ibu sudah tidak di rumah lagi nanti. 

Aku rindu pelukan ibu, ocehan ibu.. rasa ingin punya ibu lagi pastinya ada tapi gak tau kenapa aku gak mau kalo ibuku nanti itu bukan kandung, tapi tiri. Antara tidak siap menerima karakter ibu yang baru dan punya saudara lagi.. soalnya aku rasa bapak sudah cukup lelah merawat 4 anak perempuannya untuk dia rawat sendiri. Kakak perempuanku lah yang sekarang menjadi ibu tapi pake berantem haha.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun