Mohon tunggu...
Mutia Senja
Mutia Senja Mohon Tunggu...

Menulis sesuka hati.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

[Resensi] Tiap Jiwa Adalah Pemenang

21 Maret 2019   00:00 Diperbarui: 21 Maret 2019   00:03 0 0 0 Mohon Tunggu...
[Resensi] Tiap Jiwa Adalah Pemenang
TJAP by Yuditeha

Suatu ketika, saya membaca buku terjemahan Albert Camus berjudul The Outsider (Sang Pemberontak), seorang filosof absurdis dari Aljazair, Perancis. Novel yang ingin menuai keinginan demi yang absolut dan kebenaran. 

Meski dianggap sebagai sesuatu yang negatif, kebenaran lahir dari hidup dan perasaan, tapi tanpa kemenangan atas diri sendiri atau atas dunia tidak akan pernah mungkin terjadi. Tokoh utama digambarkan menginginkan pembebasan dan kemerdekaan atas diri sendiri dan hati nurani. Sehingga Meursault melakukan apa saja yang ingin ia lakukan.

Tjap. Mengutip pernyataan Gunawan Tri Atmodjo perihal buku ini menyatakan, 'Meski megambil prahara 65, novel ini bercerita tentang hubungan intim antara ibu dan anak perempuannya. 

Hubungan yang dalam kultur Jawa sarat ewuh pekewuh itu digugat'---menjadi semacam antonim dengan tokoh yang ditulis Camus. Adat istiadat dan kebudayaan menjadi alasan tersirat yang melatarbelakangi bagaimana penulis menggambarkan karakter tokoh dalam setiap tulisannya. 

Maka tidak heran jika penulis tidak dapat lepas dari lingkungannya. Sebab saling terjadinya timbal balik inilah---yang dalam ilmu sains dinamakan simbiosis. Barangkali istilah ini cukup untuk memaknai bagaimana alur cerita keduanya memiliki kemiripan 'aksen'.

Berbeda dengan Pertiwi---sosok perempuan yang justru memerdekakan dirinya dengan mengorbankan jiwa dan raga semata-mata untuk membantu sesama. Ia mengedepankan kepentingan rakyat terutama golongan kaum tertindas dan lemah dengan menjadi bagian dari Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Pertiwi adalah tokoh utama yang sebagian besar diceritakan oleh penulis dengan berlembar-lembar surat yang dibuatnya untuk seorang terkasih; ibundanya.

Membaca novel seperti membaca sejarah masa lampau yang penuh lika-liku. Pembaca dihadapkan dengan persoalan yang membuahkan tanda tanya tentang bagaimana Gerwani, PKI, bahkan kejadian G30S PKI terjadi. 

Ya, seperti membaca buku kuno yang penuh debu, cover buku ini mewakilkan kejadian masa lampau yang dialami seorang perempuan; berwarna coklat usang, polos dan terkesan "diam". Menyimbolkan bahwa sejarah di era modern seperti tertimbun---kerap diabaikan oleh generasi muda walaupun hanya sekadar dikenang sebagai cambukan semangat berbangsa dan bernegara.

Mengutip dari Wikipedia.org, Gerwani merupakan organisasi wanita yang aktif di Indonesia pada tahun 1950-an dan 1960-an. Oganisasi terlarang ini didirikan pada tahun 1950, dan memiliki lebih dari 650.000 anggota pada tahun 1957. 

Kelompok ini memiliki hubungan yang kuat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), tetapi sebenarnya merupakan organisasi independen yang memperhatikan masalah-masalah sosialisme dan feminisme, termasuk reformasi hukum perkawinan, hak-hak buruh, dan nasionalisme Indonesia. Setelah kudeta 30 September 1965, Gerwani dilarang, dan di bawah Presiden Suharto organisasi ini mejadi contoh yang sering dikutip dari tindakan amoralitas dan gangguan selama era pra-1965.

Mengapa dikatakan terlarang? Mengutip pernyataan Pertiwi dalam surat yang ditulisnya pada 8 September 1965, isu penggabungan alasan sebagai perempuan dan sebagai pekerja adalah arah yang akhirnya kami bangun. Meski begitu, Gerwani sangat menghargai perbedaan dari dalam, yang ada di setiap jiwa perempuan itu sendiri. Ditilik dari segi pekerja itulah yang mendominasi alasan akhirnya Gerwani beraliansi ke komunis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x