Mohon tunggu...
Musfiq Fadhil
Musfiq Fadhil Mohon Tunggu... Tenaga Kesehatan - Abdul Hamma

Lulusan Ilmu Kesehatan Masyarakat - Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Ulang Tahun Melodi

4 November 2023   03:07 Diperbarui: 4 November 2023   12:38 438
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: www.lazada.com.ph/products/32-piano-keys-melodica-horn-musical-instrument-with-carrying-bag-for-beginner-kids-children-gift

Bunga-bunga kamboja masih basah ketika pada pagi itu Dableh dan Painah sudah nongkrong berdampingan di sisi sebuah kuburan tempat jasad anak semata wayang mereka disemayamkan. 

Setelah 15 detik terlewati untuk nongkrong sambil bengong, Painah mulai mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di permukaan segunduk tanah itu dengan teliti, lalu disapunya rumput-rumput yang berserakan menggunakan sapu lidi tak bergagang yang sengaja ia bawa dari rumah.

Sementara Painah sedang bersih-bersih, Dableh mengelus-elus nisan anaknya dengan pelan dan penuh kelembutan. Seolah-olah ia takut kedua telapak tangannya yang kapalan itu akan mengganggu anaknya yang sedang damai dalam dekapan keabadian.

Ada semacam kegetiran tergambar pada raut muka Dableh ketika ia menyadari bahwa papan kayu yang sedang ia elus itu ternyata sudah dalam kondisi melapuk dan cat hitam bertuliskan "Melodi binti Dableh" pun hampir pudar sehingga pasti akan samar-samar apabila dibaca oleh orang dengan mata minus tiga. 

Namun raut kegetiran itu tak berlangsung lama. Tanpa ada aba-aba sebelumnya, tiba-tiba Painah langsung mementungkan sapu lidi yang sedang ia genggam tepat di tengah kepala Dableh yang botak. Tak cuma sekali, tapi tiga kali bertubi.

Seketika raut wajah Dableh yang tadinya hampir menumpahkan tangisan, berubah menjadi merah malu menahan perih di kepala botaknya. 

"Heh, Botak! Kau lupa ya kalau kita ke sini itu bukan buat bersedih?" Bentak Painah kepada suaminya.

"He.e.." Dableh mengangguk-angguk sambil meringis. Tangan kanannya sibuk menggaruk kepala dan tangan kirinya sibuk mengorek lubang kuping yang gatal kena bentakan Painah yang cempreng.

Tujuan mereka berdua berada di sana tak lain adalah untuk merayakan ulang tahun Melodi. Kalau dihitung-hitung, pagi itu adalah hari ulang tahun kelahiran Melodi yang ke sebelas sekaligus ulang tahun pertama kematiannya.

Tepat sebelas tahun yang lalu Painah melahirkan bayi perempuan. Saat baru lahir bayi itu mengeluarkan tangisan kencang yang terdengar merdu sekali. Oleh sebab itulah oleh Dableh bayi itu diberi nama Melodi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun