Mohon tunggu...
Muslimah Peradaban
Muslimah Peradaban Mohon Tunggu... Analisis

Pengamat dan Penganalisis isu dari sudut pandang Islam.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Game Online dan Kerusakan Generasi Millenial

26 April 2019   09:26 Diperbarui: 26 April 2019   10:04 0 0 0 Mohon Tunggu...

Nurlela

Permainan on line atau game on line saat ini sedang merebak di tengah tengah masyarakat terutama di kalangan remaja. Generasi milenial ini memang akrab dengan gadget dan paling suka bermain Bahkan permainan ini pun bisa di akses semua kalangan baik oleh remaja, orangtua bahkan anak - anak. 

Semua permainan yang di tawarkan di dalam game on line memberikan hiburan yang luar biasa yang menjadikan para gamers terdorong untuk memainkan nya lagi dan lagi.game on line. Jenis permainan di dunia maya ini bisa di jangkau oleh semua orang di seluruh dunia tanpa batas dan waktu.

Tidak hanya memberikan hiburan, game on line pun memberikan keuntungan yang dahsyat baik bagi produsen game on line karena banyak item dan karakter yang di jual kepada para gamers game on line  yang saat ini jumlah pengguna nya semakin meningkat. Seperti di lansir di Tek.id jumlah gamer di indonesia di perkirakan akan meningkat secara signifikan. 

Pokkt Decision Lab dan Mobile Marketing Associattion (MMA), melakukan studi terkait game di Indonesia dan menyatakan jumlah gamers di negeri ini mencapai 60 juta dan jumlah tersebut di perkirakan meningkat menjadi 100 juta di tahun 2020. Sedangkan bagi para gamers, bermain on line menjadi ajang untuk mengumpulkan uang dalam berbagai even atau pertandingan.

Namun di balik 'sedapnya' game on line timbul berbagai dampak negatif tidak hanya bagi kesehatan namun juga menimbulkan banyak tindakan kriminalitas yang di lakukan oleh para 'pecandu' game on line. 

Seperti yang terjadi di Bukitraya pada kamis 10 januari 2019, dua orang remaja yakni TMR ( 18 tahun) yang berstatus seorang pelajar dan Julio Gangga (19 tahun) nekat melakukan tindakan penjambretan karena membutuhkan uang untuk bermain game on line (jawapos.com). Tidak hanya itu pada sabtu 16 februari 2019 tiga orang pelajar di tangkap polisi karena membobol SMK 02 Takeyon untuk mengambil uang untuk di gunakan bermain game di warnet.

Selain itu fakta membuktikan kecanduan bermain game on line juga mampu membuat anak - anak malas untuk belajar  atau memahami pelajaran di sekolah. Mereka lebih peduli dengan permainan game on line di bandingkan pelajaran di sekolah. Pelajaran sekolah menjadi tidak menyenagkan lagi. Padahal dengan belajar mereka akan mendapat banyak ilmu yang dengan nya mereka akan menjadi generasi yang hebat.

Tidak hanya itu game on line pun turut berperan membentuk karakter remaja. Kondisi remaja yang terisolasi dari interaksi dengan masyarakat menjadikan mereka tidak peduli terhadap orang lain. Para generasi milenial pun menjadi terlena dan malas untuk meraih cita - cita dan memilih untuk menenggelamkan diri dalam dunia game on line. Banyak orngtua yang prihatin dan mengeluhkan kondisi anak anak mereka karena mereka menjadi anak - anak yang sulit di atur dan kasar.

Namun sungguh di sayangkan di saat banyak orang tua yang resah karena maraknya game on line yang justru lebih memberikan banyak dampak negatif di bandingkan dampak positif pada anak - anak mereka, pemerintah justru  memberikan kemudahan dan memfasilitasi para remaja untuk bermain game secara on line. Dalam debat capres putaran ke 5 di The Sultan Hotel pada 15 april 2019 lalu, capres nomor urut 1 Joko Widodo  menyatakan industri game di indonesia memiliki peluang yang amat besar bagi pertumbuhan ekonomi di negeri ini yakni 11 - 12 triliun rupiah pertahun. Karenanya pemerintah akan membangun infrastruktur digital untuk memfasilitasi para gamers.

Sungguh miris mengingat remaja adalah generasi penerus suatu bangsa. Remaja merupakan sosok yang sangat berperan dalam proses pembangunan bangsa. Banyak harapan yang di letakan di pundak remaja. Namun kini sang 'agent of change' justru di tenggelamkan dalam dunia maya yang melenakan.

Hal ini amatlah wajar dalam sistem liberalisme kapitalis. Sistem ini dengan asasnya pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) telah menjadikan manfaat sebagai tolak ukur perbuatan. Sehingga tidak heran jika sistem ini menjadikan tujuan setiap tindakan hanya untuk mengejar materi semata. Sehingga tak segan - segan menjadikan apapun sebagai objek untuk meraih materi sekalipun itu bisa merusak generasi seperti halnya game on line.

Hal ini amatlah berbeda dengan islam, keberadaan remaja sebagai generari penerus suatu bangsa amatlah penting. Karena maju tidak nya suatu bangsa tergantung pada kualitas remaja pada hari ini. Karena nya islam memandang semua pihak bertanggung jawab dalam pembentukan generasi muda, baik orangtua sebagai wadah pertama dan utama di rumah, lingkungan tempat remaja tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat yang lain dan negara yang bertanggung jawab melahirkan generasi islam sebagai bagian dari tugas negara.

Sebagai sebuah mabda islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya pengaturan terkait dengan media baik media cetak maupun elektronik. Islam memandang media  baik cetak maupun elektronik sebagai madaniyah hasil kecanggihan teknologi yang secara hukum boleh di gunakan. Hanya saja media massa perlu di awasi keberadaan nya karena baik buruknya pengaruh media massa terhadap masyarakat tergantung pada baik buruknya sistem yang menghadirkan.

Negara sebagai pemegang kebijakan berkewajiban untuk mengerahkan segenap potensi dana, ahli dan teknologi untuk menangkal masuknya pemikiran, ide, serta nilai yang bertentangan dengan aqidah islam melalui media massa, serta melarang semua konten media yang merusak seperti pornografi dan kekerasan baik dengan pelaku manusia maupun kartun/animasi baik melalui media cetak maupun elektronik dan memberikan sanksi yang tegas kepada para pelakunya.

Selain itu negara pun berkewajiban menghadirkan 'santapan yang menyehatkan' bagi pembentukan kepribadian masyarakat terutama kalangan remaja agar mereka memiliki pola pikir dan pola sikap islam (syaksiyah islm) dengan menghadirkan keteladanan generasi sukses dalam peradaban islam sebagai role model melalui media cetak dan elektronik, karenanya tidak ada tontonan yang melemahkan baik berupa film maupun games yang membuat kecanduan, dan meniadakan tokoh tokoh khayalan dengan kekuatan super.

Inilah gambaran bagaimana islam menjaga generasi dari kerusakan karena media. Hanya saja ini semua akan terwujud jika islam di terapkan secara sempurna. Karena generasi yang unggul tidak akan lahir dari sistem yang rusak. Generasi yang unggul hanya akan lahir dari sistem yang unggul yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Sejarah sudah membuktikan penerapan islam secara kaffah dalam bingkai khilafah mampu melahirkan generasi yang cemerlang.

Waalahu'alam