Mohon tunggu...
MURDIANSYAH
MURDIANSYAH Mohon Tunggu... Guru di SMPN Satap 8 Baraka Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan.

"Jika kau diperhadapkan dengan beragam masalah, maka seduhlah kopi, cium aromanya, seruput perlahan lalu rasakanlah merdeka.”

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pendidikan Diambang Dekadensi Moral

2 Mei 2021   11:37 Diperbarui: 2 Mei 2021   12:17 143 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan Diambang Dekadensi Moral
Sumber gambar: edukasi.kompas.com

Indonesia tengah digerogoti berbagai macam penyakit kronis. Degradasi moral, lupa sejarah dan identitas, kemerosotan karakter, redupnya jiwa nasionalisme sampai pada paham radikalisme senantiasa mengancam keutuhan bangsa serta berbagai macam persoalan lain yang kian menumpuk. Tanpa terkecuali bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, sosial budaya masih menyisakan sejumlah masalah akut yang perlu penataan mendesak.

Bidang pendidikan yang diharapkan menjadi wadah untuk menempa kualitas manusia Indonesia masih memprihatinkan. Kesenjangan antar sekolah di perkotaan dengan pedesaan dalam hal infrastruktur, kelengkapan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran yang belum memadai sampai pada pemerataan sebaran guru di seluruh pelosok negeri masih menjadi momok yang belum tertangani. Tidak heran jika kualitas yang dihasilkan berbanding terbalik dengan kuantitas yang dicapai.

Luas wilayah dan besarnya jumlah penduduk kadang dijadikan alibi sebagai salah satu konsekuensi yang menghambat pembangunan sumber daya manusia. Padahal beberapa negara yang juga berpenduduk besar seperti Brazil, Rusia, India dan China memperlihatkan capaian Indeks Pembangunan Manusianya (IPM) tergolong tinggi. Sementara IPM Indonesia sendiri masih berada pada posisi 111 dari 189 Negara (laporan HDI tahun 2019).

UUD 1945 pasal 31 yang menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan Pendidikan di Tanah Air sangat banyak memberikan pengaruh besar terhadap peningkatan sekolah secara kuantitatif. 

Ayat (2) menegaskan bahwa "setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya". Kemudian dikuatkan melalui ayat (4) bahwa "negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Meningkatnya jumlah sekolah dan perguruan tinggi serta bertambahnya kesadaran pendidikan setiap tahunnya harusnya berbanding lurus dengan kualitas manusia yang dihasilkan. Namun faktanya, pertumbuhan jumlah lulusan dasar, menengah sampai perguruan tinggi belum menampakkan perubahan yang signifikan terhadap pembangunan manusia. Secara keseluruhan mutu pendidikan di Indonesia yang terlihat masih mengalami kemandulan. Peningkatan kuantitas dengan kualitas yang dihasilkan masih mengalami kesenjangan yang sangat jauh dari apa yang diharapkan.

Kondisi pendidikan di Indonesia yang demikian memprihatinkan memberikan tantangan besar kepada pemerintah untuk meramu formula yang lebih tepat demi memajukan pendidikan di tanah air. Indonesia harus membuka mata batin dan belajar dari negara lain yang berhasil mempraktikkan pendidikan terbaik mereka tanpa harus memanufer tujuan pendidikan yang dicita-citakan leluhurnya. 

Dalam ungkapan Ki Hajar Dewantara "kemajuan sebuah bangsa terletak pada pendidikan dan para generasi bangsa itu sendiri". Baginya, pendidikan merupakan lokomotif yang bisa menghantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat, sejahtera dan merdeka yang seutuhnya secara lahir batin.

Tujuan pendidikan yang diharapkan Ki Hajar Dewantara secara garis besarnya adalah menciptakan manusia yang beradab, bukan pendidikan yang terus mengalami kemunduran dan kemerosotan. Bukan pendidikan dengan beragam kelengkapan administrasi yang menyibukkan sehingga mengenyampingkan substansi pendidikan itu sendiri. Bukan pendidikan yang mengejar angka tinggi semata sebagai patokan prestasi tapi lupa pembentukan karakter sebagai identitas bangsa itu sendiri. 

Bukan pendidikan yang hanya bisa mengeluarkan slogan-slogan imajinatif tapi tong kosong. Pendidikan harus mampu menjadi lokomotif membentuk karakter dan moral generasi bangsa karena amat sangat disayangkan jika dengan pendidikan justru malah mengaburkan bahkan melenyapkan moral dan karakter generasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN