Novel

Hembusan Angin Cemara Tujuh 49

9 Agustus 2018   19:17 Diperbarui: 9 Agustus 2018   19:21 824 0 0

*Hembusan Angin Cemara Tujuh 49*

Bangunan Masjid berdiri tegak, cukup megah dibanding bangunan di lingkungan sekitarnya. Masih sunyi, satu satu jamaah mulai berdatangan. Rata rata bersarung dan berpeci hitam Bung Karno, muncul dari belokan gang, melangkah menuju halaman Masjid tak berpagar.

Di pojok halaman kiri depan, berdiri dua pohon Randu Alas Raksasa.Dua pohon tua itu bak menara kembar menjulang menggapai langit.

Sutopo membuka kran tempat Wudhlu. Gemericik airnya, bening dingin membasahi telapak tangan. Nyass, rasa kantuk Sutopo sirna. Marbot mulai memukul pukul kerangka Beduk beberapa saat. Tiba tiba menggelegar suara Beduk membahana di langit pagi bumi Macanan yang masih ranum.

Suara Adzan Subuh menyusul berkumandang mendayu, mengelusi jiwa jiwa Insan Illahi. Panggilan Sholat Subuh melantun meliuk, melumuri langit dan relung hati dengan kedamaian.

Jamaah Subuh pagi itu berjajar tiga shaf. Imam melantunkan surah surah doa dengan merdu, lembut dan takjim menggetarkan jiwa.

Air mata Sutopo meleleh dari ke dua matanya, menghayati lafal lafal ayat suci yang mengalun indah. Campur aduk perasaan haru, sedih sekaligus gembira. Sutopo mensyukuri karunia Ilahi, dirinya telah berhasil menggapai jenjang tertinggi , tingkat pendidikan yang bisa dibayangkannya sewaktu kecil.

Dan pagi ini, dirinya masih mampu tegak berjajar lurus dalam jamaah sholat Subuh , bersama sama orang orang yang taat, ikhlas dan berpengharapan.

Karena harapan adalah kekuatan, energi penggerak kehidupan. Apakah harapannya di masa datang? Hanya menjadi orang kaya? Sutopo bertanya diri. Tak berjawab.

Pepatah yang mengatakan *Indah kesuksesan, namun lebih indah perjuangan* menjadi kenyataan baginya.

Sutopo gembira dengan hasil yang dicapainya saat ini. Namun mengenang perjuangannya selama lima tahun lebih sampai saat sore kemarin, adalah suatu perjalanan, perjuangan yang lebih indah dibanding hasilnya.

Sekali lagi benar, Indah kesuksesan namun lebih Indah perjuangan. Karena kesuksesan yang diperoleh tanpa perjuangan hanyalah keberuntungan, miskin keindahan.

" Po Po, bahanmu sudah siap?

Lamunan panjang Sutopo buyar. Wikarya menepuk pundaknya, seolah tahu kalau temannya sedang melamun.

Sutopo tersenyum malu ketangkap basah melamun. Saraf dan badan Sutopo tegak kembali berdiri di masa kini. Sutopo bergegas dan serius memeriksa kembali bahan ekspose mereka.

Bahan ekspose itu adalah tentang *what dan why* perusahaan, untuk masa lima tahun ke depan. Dalam brain storming, mereka juga berdiskusi mengenai *How to*. Diskusi seru, apakah perlu memuat juga perihal How to itu, terjadi perbedaan pendapat. Penjelasan Wikarya akhirnya menyatukan pendapat mereka.

How To tidak perlu di susun dalam ekspose ini. Penyusunan How to, akan menjadi rangkaian program aksi yang melibatkan seluruh jajaran. Kalau How To mereka tampilkan, akan seperti ngajar ikan berenang atau ngajar burung terbang .Lebih tepat Direksi nanti yang akan memimpin dan merumuskan program aksi How to.

Apabila usulan what dan why mereka akan dijadikan pertimbangan, itu sudah menjadi kontribusi besar mereka bagi perusahaan.

Substansi ekspose mengacu ke prinsip *SMART*. S adalah spesifik, M measurable. Sedangkan A achievable, R relevan dan T time bound.

What dan why harus spesifik, jelas clear, tidak terlalu umum. Sehingga yang berkepentingan segera bisa memahami maksudnya. Measurable, ada indikator dan ukuran suksesnya. Achievable, what harus menantang tapi bukan mengawang tak terjangkau.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2