Novel

Hembusan Angin Cemara Tujuh 47

5 Agustus 2018   09:09 Diperbarui: 5 Agustus 2018   09:17 873 0 0

Hembusan Angin Cemara Tujuh 47

Sutopo surprise menemui ibunya duduk di ruang tamu kosan sore ini, di kampung Macanan. Duduk rapi , dengan wajah tenang dibalut busana tradisional Jawa yang khas. Ibunya membawa satu bungkusan dan sebotol air putih.

Bungkusan dan botol itu diserahkan ibunya ke Sutopo, sambil berujar, kalau Bungkusan itu berisi lauk daging Sapi , berupa gorengan lidah, otak dan hati. Ibunya memasak sendiri lauk itu. Ibunya mengatakan, kalau masakan itu adalah simbol , pendorong dan harapan ibunya , supaya Sutopo bisa lulus dalam ujian pendadaran dua hari yang akan datang.

Dengan mengkonsumsi lauk lauk itu, Ibunya berharap Sutopo dapat lebih tenang dan konsen menjalani ujian. Lidah, sebagai simbol supaya Sutopo dapat berbicara lebih lancar, jelas dan tepat sasaran. Kemudian Otak, simbolisasi pendorong agar kecerdasan dan daya ingatnya tidak gampang pudar, dalam menghadapi kondisi tertekan dan kondisi buruk lainnya. Kemudian Hati, hati mencerminkan niat, keberanian dan juga ketangguhan menghadapi segala macam ujian.

Dengan mengkonsumsi itu, ibunya berharap Sutopo akan bisa lancar menjelaskan dan menjawab pertanyaan dengan logika jernih , serta tujuan dan arah yang jelas.

Kemudian botol itu, berisi Air Doa dari Bapaknya. Di desanya bapaknya juga dikenal sebagai pendoa yang baik. Kali ini dia berdoa khusyuk untuk anaknya.

Setelah menyerahkan bungkusan dan botol air itu, ibunya segera bergegas untuk pulang kembali ke rumah. Ditawari untuk menginap hanya tersenyum. Ditawari dibonceng motor ke stasiun, Ibunya menolak.

Di depan kosan Ibunya , memanggil becak untuk mengantar ke stasiun Lempuyangan. Ibunya akan naik kereta api Kuda Putih tujuan Solo yang terakhir hari ini.

Kembali ke kamar, membuka bungkusan bawaan Ibunya, tergolek melela tiga potong daging Lidah, Otak dan Hati. Membayangkan makan malam nanti akan sangat sedap. Nasi putih hangat yang akan dibeli dari warung seberang jalan, dilengkapi dengan tiga potong daging mlekoh ini, akan menjadi santap malam yang istimewa, very delisius.

Namun bukan bayangan rasa delisius itu yang menggetarkan hati , Sutopo terharu dengan kesungguhan dan susah payah orang tuanya , memberikan dorongan untuk keberhasilan anaknya dengan cara yang diketahuinya.

Ibunya orang rasional namun menyukai simbolika simbolika. Pasti logika Ibunya menolak, kalau tiga daging itu bakal menjadi faktor kelulusannya, namun spirit dan doa yang di simbolisasi itu yang akan menguatkan mental dan daya juang Sutopo, yaitu adanya perasaan kalau orang tuanya selalu mengawal di sekitarnya.

Sore itu, Sutopo sudah menyusuri selasar lantai satu Gedung Pusat. Dia berjalan santai, masih banyak waktu, sampai tiba giliran nya, peserta kedua ujian pendadaran kali ini.

Melangkah pelan, menoleh ke kiri memandangi tujuh cemara yang tegak berjajar anggun. Membisu, pucuknya bergoyang berayun gemulai,  ke kiri ke kanan dihembusi angin sore lembut, bak belaian lembut seorang Ibu kepada bayinya di ayunan.

Sawuran putih sepanjang selasar itu kembali ada. Bauan sayup kemenyan juga mengambang. Namun Sutopo tidak merasakan suasana magis lagi, sudah terbiasa. Nalarnya lebih kuat, baginya hal hal mistik di ujian pendadaran itu hanyalah guyonan dan pelarian putus asa dari orang orang yang kurang percaya diri dan kurang persiapan.

Sutopo meneruskan langkah mantap. Dia merasa persiapannya telah matang dan komprehensif untuk menghadapi pendadaran sore ini, siapapun dosen yang akan mengujinya.

Menunggu di lantai tiga di depan ruangan, bersandar di pagar selasar, memunggungi jajaran Cemara Tujuh, perasaan Sutopo tenang, sumarah, ikhlas, tidak ada rasa Was Was, seperti ujian ujian sebelumnya.

Inilah barangkali yang disebut positive thinking. Seandainya sore ini kembali tidak lulus, Sutopo akan menerimanya dengan senyum. Karena masih diberi kesempatan, untuk kembali mempelajari dan mendalami ilmu manajemen korporasi, yang jangkauannya memang sangat luas, bahkan mungkin tak terbatas. Kalau sore ini dia dinyatakan lulus, Sutopo juga telah merasa pantas, layak dari sisi keilmuan yang memang sudah digelutinya sangat serius, khususnya dimasa masa persiapan ujian pendadaran ini.

Kalaulah lulus, kelulusannya bukan sekedarnya, bukan keberuntungan, bukan karbitan, bukan hadiah atau belas kasihan.

Sutopo tenang menunggu giliran.

Peserta ujian pertama muncul dari ruangan dengan keringat di pelipisnya. Wajahnya pias, dan bergegas melangkah ke barat. Ketahuan, tidak usah bertanya sudah bisa menduga, kalau mas itu tidak lulus. Kini giliran Sutopo diuji.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2