Mohon tunggu...
Ibra Alfaroug
Ibra Alfaroug Mohon Tunggu... Petani - Dikenal Sebagai Negara Agraris, Namun Dunia Tani Kita Masih Saja Ironis

Buruh Tani (Buruh + Tani) di Tanah Milik Sendiri

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mistis dan Kearifan Lokal sebagai Kontrol Sosial

31 Oktober 2021   15:46 Diperbarui: 1 November 2021   02:23 288 18 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrated by: regional.kompas.com

Mistis, Horor dan Kearifan Lokal

Cerita mistis yang erat dengan cerita ghaib nan horor. Setiap daerah punya cerita loh yang berkaitan dengan budaya lokal penduduk setempat. 

Keterkaitan ini bisa disaksikan akan ritual-ritual adat masyarakat yang masih eksis hingga sekarang. Berbentuk pantang larang seperti tabu, aib dan pamalih. Hingga kini masih dipegang teguh sebagai tradisi.

Pendek kata, lain suku sudah tentu berbeda cerita mistisnya. Merupakan khasanah kearifan lokal sebagai identitas budaya nusantara. Warisan para leluhur, cipta, rasa, dan karsa.  

Begitupun cerita rakyat yang mistis nan horor di masyarakat. Roro Jongrang, Sangkuriang, Sepahit Lidah, Muning Raib dari tanah Rejang misalnya. Juga makhluk horornya, dari Mak Sumay hingga Suster Ngesot pun ada. 

Ilustrated by: autorin.com
Ilustrated by: autorin.com

Meskipun zaman teknologi dan perkembangan dunia semakin maju. Bukan berarti hal-hal yang berbau horor dan mistis hilang di masyarakat. Percaya pada makhluk lain yang tak kasat oleh mata manusia. 

Katanya hanya pemilik indra keenam dan berkemampuan khusus yang dapat melihat penampakan langsung dan merasakan auranya kemistisan sesuatu.

Dan yang dapat berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus yang notabene diluar jangkauan akal manusia. Dengan perantara jampi atau mantra serta pernak-pernik dalam memasuki alam metafisika yang mistis nan sakral.

Tak kalah seremnya, aura ghaib yang selalu digambarkan ruang gelap nan pengab, sepi nan senyap, serta kotor dan tidak terawat. Mendiami Gedung tua, pohon beringin, lembah, kubur tua  dan sebagainya. Pokoknya horor, merinding euuy.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan