Mohon tunggu...
Ibra Alfaroug
Ibra Alfaroug Mohon Tunggu... Petani - Dikenal Sebagai Negara Agraris, Namun Dunia Tani Kita Masih Saja Ironis

Buruh Tani (Buruh + Tani) di Tanah Milik Sendiri

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Melansir Kata dalam Debat Pilkada Provinsi Bengkulu

30 November 2020   11:37 Diperbarui: 4 Desember 2020   03:37 146
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrated by; medialampung.co.id

Nah! Karena kita rakyat adalah penting dalam menentukan mereka terpilih. Wajib dong kita menjadi sosok orang penting walau sesaat. Dicari cari seperti mencari obat tuk pasien.

Dinamisnya Politik

Hingar bingar kontestasi politik daerah menjelang pilkada merupakan kelaziman dalam merebut simpati rakyat. Ragam cara lumrah tuk dilakukan. Agar terpilih menduduki hirarki tertinggi didaerah. Yaitu tampuk kepemimpinan.

Dalam dagelan politis, yang akan menjadi kepala daerah adalah orang maju ke bursa kontestasi itu, atau suara terbanyak diantara mereka para calon?

Yang mesti digarisbawahi dalam hal ini, biasanya dalam kontestasi akan terbentuk berbagai kubu dalam masyarakat yang berbeda akan pilihan.

Terkadang menimbulkan pergesekan antar pendukung dari hulu sampai dengan hilir. Yang berujung gejolak sosial, apabila kontes politik dibangun dengan paradigma pragmatis dalam artian sempit memahaminya.

Khususnya buat masyarakat yang masih belum 'mlek' politik. Menjadi imbasnya sebagai kuda tunggangan semata. Nah, kita rakyat harus cerdas kan!

Dinamisnya politik bukan merujuk pada kata salah dan benar. Namun, bertujuan tuk menang dan kalah. Dengan ragam cara bersifat persuasif, pembentukan opini bahkan mobilisasi massa. Jual beli janji disertai transaksi posisi. Dan Tak jarang money oriented adalah senjata mutakhir untuk menang, kan!.

Jika hanya menitik kata benar atau salah, maka terlalu banyak runut materi yang akan jadi bahasan. Sudut pandang, referensi, kaidah kesusilaan dan Standar ideal, seharusnya versi kita. Mungkin standar ganda akan penilaian politik menuai pro dan kontra.

Alih-alih mahkamah konstitusi nantinya akan menjadi bimbang jika semua keluhan sengketa dikabulkan. Dan tak ada lagi yang mau menjadi penyelenggara.

Nah, menjadi catatan penting selagi tahapan dalam kontes besar ini dilakukan seiring dengan aturan yang ditetapkan. Penyelenggara harus punya nyali berhadapan akan kemungkinan, nantinya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun