Mohon tunggu...
Mujiman Siswo Hartono
Mujiman Siswo Hartono Mohon Tunggu... Guru - GURU PINGGIRAN

Lahir di Bandung, 07071970, SD sampai SMP di daerah pinggiran kota Jokja, tepatnya Kulon Progo (West Progo). Melanjutkan studi di UGM (Universitas Gebelas Maret Solo) pada tahun 1990, lulus tahun 1997 (gara-gara program wajib belajar 7 tahun. Setelah lulus jadi pengembara di berbagai LSM (Lembaga Setengah Malaikat). Sekarang aktif mengajar di Wonogiri sejak tahun 1999. Saat ini tengah menimba ilmu di pasca UGM Solo. Selama di Solo, gabung dengan mas Dwiki di Kelompok Studi Mangkubumen, sering diajak demo, baik demo beneran atau demo masak indomi (maklum fuqoroi wal masakin)..

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Sekolah Bikin Pintar?

22 Oktober 2010   13:55 Diperbarui: 26 Juni 2015   12:12 103 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Bubarkan sistem persekolahan, kata Ivan Illich. Kenapa bisa terjadi beberapa siswa kelas 9 SMP mendapat nilai 3 pada mata pelajaran tertentu dalam ujian nasional? Kenapa pembelajar dari komunitas belajar yang dibilang 'sekolah ora nggenah' oleh pengawas pendidikan di Salatiga bisa mengalahkan secara telak prestasi para siswa sekolah reguler? Masih layakkah untuk dipertahankan sistem persekolahan kita, yang kita yakini sebagai institusi yang mencerdaskan?
Kesuksesan akademik siswa memang dipengaruhi berbagai faktor baik internal maupun eksternal siswa. Namun kita sepakat faktor internal jauh lebih bisa diandalkan. Para psikolog dan ahli pendidikan pun sudah jauh-jauh hari meyakini motivasi intrinsik siswa lebih ampuh daripada motivasi ekstrinsik. Timbullah pertanyaan, lalu tugas utama sekolah apa? Pantaskah suatu sekolah membanggakan diri sebagai sekolah favorit ketika siswa-siswinya stres dan tidak bisa menikmati sistem yang ada? Suatu sistem yang cenderung membebani fisik dan psikologis siswa? Betulkah sekolah sudah bisa menginspirasikan dan mengkondisikan siswa sehingga mereka mempunyai motivasi sejati untuk belajar. Maksudnya, sekolah hendaknya mampu menciptakan siswa yang gandrung atau 'keranjingan' belajar.
Apa yang sering terjadi dalam sistem pendidikan di negara kita yang indeks kualitas hidpunya hampir-hampir terendah di dunia ini adalah sistem paksaan. Entah diakui atau tidak sekolah belum bisa menciptakan budaya belajar yang sejatinya. Siswa merasa terpaksa mengerjakan PR, terpaksa belajar, terpaksa ikut tambahan pelajaran di sekolah, terpaksa atau pedihnya dibiasakan curang dalam UN agar memperoleh nilai bagus atau minimal lulus agar bisa menyenangkan gurunya, orang tuanya, kepala sekolahnya, kepala dinasnya, bahkan bupatinya. Apa arti semua ini? Kamuflase. Seperti sukses, seperti hebat, seperti pintar, seperti semangat.
Kalau begitu, apa format yang tepat bagi pencerdasan anak bangsa kita sebagai tuan rumah abad ke-21 ini? Tak lain tak bukan adalah hilangkan segala kepalsuan. Kalau sistem formal pendidikan sudah tak mampu lagi menghantarkan putra-putri bangsa menuju gerbang harapan para founding fathers negara kita, sudah saatnya kita beralih ke penddikan informal atau nonformal. Bahasa sederhananya, pendidikan dalam keluarga dan pendidikan bukan sekolah. Kemendiknas yang sudah dari dulu mengakui dan bahkan mempunyai bagian yang mengurusi Pendidikan Luar Sekolah ternyata belum bisa menyakinkan publik akan ampuhnya sistem pendidikan non-sekolah ini untuk mencerdaskan anak bangsa. Padahal sejarah mencatat (tentunya mengajarkan kita) bahwa Edison dan Franklin menjadi orang pintar bukan karena sekolah! Seorang mahasiswa termuda di Inggris, 14 tahun, berhak mengenyam pendidikan tinggi juga karna pendidikan di rumah. Jadi, mengapa homeschooling yang di Indonesia dipopulerkan Kak Seto ini tidak digarap serius? Mengapa mindset kita masih menganggap program Kejar Paket A, B, C sebagai anak tiri dan celakanya sering digunakan sebagai kendaraan jabatan tingkat rendah? Misal, Paijo ingin jadi anggota DPRD tapi tak punya ijazah SMA, lalu ikut mendaftar ujian kejar paket C. Ujian dikerjakan atau dibantu penuh oleh tutor yang juga lagi 'ngobyek'. Jadilah si Paijo mendapat ijazah setara atau lebih tepatnya 'pura-pura dianggap setara SMA'.
Nah, mau dibawa ke mana dunia pendidikan kita? Puaskah kita sebagai negara yang lugasnya saja bodoh dibanding Vietnam? Masihkah kita 'tidur' ketika kita sejatinya sedang dijajah secara ekonomi dengan membanjirnya produk mancanegara di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi? Tidaaaak!!! Jadikan sekolah sebagai tempat yang mencerdaskan bukan merobotkan manusia. Jika tak cukup dengan sistem formal, back up-lah dengan sistem rumahan, sistem non-sekolah sebagai sistem murah tapi kalau digarap secara profesional dan sepenuh hati insya Alloh mencerdaskan. Murah tapi berkualitas, siapa yang tak ingin?

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan