Mohon tunggu...
Muhammad Yusuf Ansori
Muhammad Yusuf Ansori Mohon Tunggu... Mari berkontribusi untuk negeri.

Bertani, Beternak, Menulis dan Menggambar Menjadi Keseharian

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kemunafikan dalam Sikap Pragmatis Orang Indonesia

8 April 2020   06:05 Diperbarui: 8 April 2020   06:33 15 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kemunafikan dalam Sikap Pragmatis Orang Indonesia
Ilustrasi: makasar.tibunnews.com



KalauAnda tidak 'merasa' dengan apa yang saya sampaikan, ya tidak usah tersinggung. Saya hanya ingin membahas orang-orang yang masih memilah-milah hubungan antarbangsa antara Cina dan negara lainnya.

Ini masalah yang seharusnya sudah dilupakan dan disingkirkan dari lemari ingatan. Tetapi, isu ini kembali menyeruak ketika pandemi melanda negeri.

Media sosial masih dipenuhi dengan isu rasis dan mendiskreditkan warga Cina. Mending jika sebuah berita disampaikan dengan netral, tetapi jika sudah dibumbui kata-kata "tak pantas" kok kayaknya saya mencium bau  "kemunafikan".

Sebagaimana kita maklumi, negeri ini sudah menjalani hubungan persahabatan dengan negara di seberang sana. Amerika, Eropa, Korea dan Jepang adalah kelompok negara yang sudah lama hilir mudik di negeri ini. Pengaruhnya, baik secara sosial, ekonomi dan budaya sudah 'merasuk' dalam kehidupan bernegara kita.

Produk Jepang, misalnya, menjadi bagian dari sebuah kebanggaan apabila kita turut serta menggunakannya. Alat rumah tangga, kendaraan hingga permainan pengisi waktu luang hampir semuanya produk Jepang.

Tetapi, tidak ada tuh yang berkoar-koar anti Jepang. Padahal, Jepang sudah pernah menjajah negeri ini!

Beda cerita jika membicarakan Cina. Orangnya sampai produknya tidak luput dari cacian dan makian. Terus, salah mereka apa?

Kalau dianggap menguasai ekonomi Indonesia, bagaimana dengan Jepang yang sudah duluan menguasai jiwa kita?! Kalau mereka komunis, memangnya semudah itu kita akan menjadi komunis juga?!

***

Saya muak dengan sikap "sebagian" warga negeri ini yang seakan so' paling nasionalis tetapi sebetulnya pragmatis. Seakan memagari negeri dari hegemoni bangsa asing tetapi tidak sanggup membangun negerinya sendiri.

Mengolah tanah yang dianugerahkan Tuhan pada kita pun tidak sanggup. Tetapi, seakan paling berjasa membangun negeri ini. Sehingga, tidak boleh ada orang Cina di antara kita.

Namun, diam-diam mereka "mempersilahkan" Amerika menguasai berita. Media sosial dan konten internet yang notabene dari sana, kok kita gunakan? Kapan ada yang berteriak "mari boikot Google, Facebook dan Twitter!". Hah, nggak ada tuh ....

VIDEO PILIHAN