Mohon tunggu...
Muhammad Nizarullah
Muhammad Nizarullah Mohon Tunggu... Freelancer - Manusia Yang Sedang Mencari Jati Diri

Enterpreneur, Freelancer

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ajaran atau Budaya?

2 April 2020   08:00 Diperbarui: 2 April 2020   07:58 109
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: islampedia.id

Meski alasan kemanan bagi perempuan dipakai, faktanya perempuan masih belum aman di rumahnya sendiri. Menurut Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan tahun 2019, ada sebanyak 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan selama 2018. Diantaranya, pacar sebagai pelaku sebanyak 2073 kasus. Sedangkan, suami sebagai pelaku, tetap berada diperingkat teratas, yaitu sebanyak 5114 kasus (Dea, 2019: 30).

Namun demikian, tetap saja masih ada perempuan yang membela suami mereka seolah menunjukan kepatuhan kepada suami dan menjaga reputasi rumah tangga, padahal sikap tersebut semakin melanggengkan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Faktanya, korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) semakin melambung. Dea (2019: 29)  juga mengungkapkan kasus perempuan yang sedang hamil tua dibunuh oleh suaminya, selain itu perempuan difabel juga diperkosa oleh ayahnya dan dua saudara laki-lakinya selama betahun-tahun.

Bukan hanya korban KDRT yang melonjak, poligami pun diikut sertakan dengan alasan menyempurnakan akidah. Ayat Al-Quran (Q.S. An-Nisa’: 3) yang memperbolehkan menikahi perempuan lebih dari satu, dijadikan rujukan oleh akhi-akhi misoginis dengan tidak melanjutkan bunyi ayat selanjutnya yaitu “jika takut tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja”. Alasan apa yang dijadikan landasan untuk mengikuti sunah rasul? Jangan ditafsirkan ayat diatas sebagai perintah. Tak semuanya isi dalam Al-Qur’an adalah perintah.

Kenapa Rasul tidak pernah menikah sebelum Khadijah R.A. wafat? Di awal Islam, belum diturunkannya ayat tentang menikah lebih dari satu (jika sanggup berlaku adil). Kemudian Allah memberikan keistimewaan kepada Rasul untuk menikahi banyak perempuan karena alasan dakwah dan memerdekakan budak. Rasul tidak memiliki budak. Rasulullah Saw. Berpoligami pada sepuluh tahun terakhir periode dakwahnya ketika banyak terjadi peperangan.

Pilihan nabi untuk menikahi janda-janda pada fase itu menerangkan fase sosial yang khas, suami-suami mereka mati di dalam perang, dan nabi mengambil pilihan untuk menikahi mereka karena alasan dakwah. Islam datang menerangkan konsep pembatasan jumlah serta konsep keadilan yang diakhiri dengan syariat larangan bilamana laki-laki tak mampu berbuat adil (Kalis, 2019: 60).

Lalu, bagaimana dengan akhi-akhi yang kebelet ingin menikahi 4 perempuan sekaligus? Masih adakah perbudakan di atas muka bumi ini? Atau jangan-jangan, dengan menikahi 4 perempuan membuat laki-laki lebih maskulin, benarkah? Atau lebih parah lagi, terpengaruh dengan kampanye poligami sekelompok pedagang ramuan penis kuat, yang menjual nama agama untuk pelaris bisnisnya! Silahkan renungi sendiri!

Selamat merdeka untuk perempuan!

Penulis: Muhammad Nizarullah

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Rhetor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun