Mohon tunggu...
Muhammad Thoha Maruf
Muhammad Thoha Maruf Mohon Tunggu... Penulis

Penulis yang gemar beranjangsana. Kadang juga aktif di sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Solusi Kesehatan Covid-19: Bisakah Diterapkan?

10 Juli 2020   07:53 Diperbarui: 10 Juli 2020   07:52 21 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Solusi Kesehatan Covid-19: Bisakah Diterapkan?
sumber foto : unsplash

COVID-19 penyebarannya sangat mudah, manusia pada rentang semua usia beresiko terkena dampaknya. Saat vaksin dan obat belum ditemukan, resiko masifnya rantai penularan sangat besar. Oleh Tidak seperti kebanyakan virus pada umumnya, COVID-19 belum ditemukan vaksinnya sampai saat ini. Berbagai peneliti telah berupaya untuk mencari vaksin yang digunakan untuk mencegah virus. Penelitian yang dilakukan sampai melibatkan banyak pihak. Namun belum juga menemukan tanda-tanda yang menuju arah kemajuan. Sebab itu tiada cara lain selain mencegahnya. 

Sejauh ini pencegahan yang telah dilakukan oleh pemerintah kurang maksimal. Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya angka orang yang terkena dampak. Berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah terkesan hanya buang-buang duit. Tentu imbas pemborosan anggaran berdampak pada sektor lain, terutama pembangunan infrastruktur.

Melihat lambannya penanganan pemerintah akhirnya masyarakat mempunyai inisiatif sendiri. Tidak hanya masyarakat kota bahkan orang-orang desa juga mempunyai inisiatif sendiri. Meskipun masker dan hand sanitizer tergolong langka, masyarakat tetap berusaha mencegahnya. Banyak masyarakat yang beralih profesi demi kepentingan orang banyak. Misalnya orang yang berprofesi sebagai penjahit, yang biasanya menjahit pakaian pada saat COVID-19 berkembang pesat, para penjahit memilih untuk membuat masker.

Alih profesi juga dilakukan oleh masyarakat yang menerima PHK dari tempat kerja. Mereka memilih membuat hand sanitizer agar dapat dinikmati oleh khalayak umum. Meski tujuan mereka masih mempunyai embel-embel bisnis, tetapi setidaknya apresiasi perlu kita berikan kepada mereka yang masih peduli terhadap sesama. Tak jarang para pembuat masker dan hand sanitizer membagikan barang-barangnya secara gratis.

Selain itu juga ada kemandirian dari warga, hampir di depan rumah selalu tersedia tempat untuk cuci tangan. Hal serupa juga sering ditemukan di tempat-tempat umum, misalnya bank, pasar, masjid, dan tempat-tempat yang lain. Haind sanitaizer yang digunakan juga beragam. Terkadang ada yang menggunakan ala kadarnya, seperti: sabun cuci piring. 

Tidak dapat dipungkiri faktor sumber daya manusia juga berpengaruh pada pencegahan yang yang dilakukan. Minimnya sosialisasi dan maraknya berita bohong disinyalir menjadi penghambat. 

Program kampung tangguh yang diberikan pihak kepolisian terkadang hanya membuat geleng-geleng kepala. Daripada memberikan dana kepada pemenang kampung tangguh, seyogyanya dana tersebut dapat digunakan untuk kepentingan bersama. Terlepas sumber daya manusia dari warga mampu atau tidak. 

Kampung tangguh selama ini hanya menjadi ajang pamer dari setiap warga desa maupun Kelurahan. Mereka mengatasnamakan relawan COVID-19, padahal sering ditemukan mereka sering melanggar protokol kesehatan. Seperti halnya pemerintah, orang-orang yang mengatasnamakan relawan tanpa memperhatikan protokol adalah orang yang gemar mengumbar janji.

Yang terjadi di lapangan penanganan yang dilakukan oleh relawan tergolong ngawur. Hal itu dapat dibuktikan dengan cara yang mereka lakukan. Tidak hanya manusia yang diharuskan menggunakan cairan anti virus, tetapi juga kendaraan yang digunakan harus diberikan cairan terlebih dahulu sebelum memasuki kawasan desa mereka. 

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah pemerintah tidak pernah memberikan contoh resep pembuatan hand sanitizer. Informasi demi informasi yang beredar terkadang malah menjerumuskan. Kegiatan yang bersifat luhur seperti pembuatan hand sanitizer dapat berubah menjadi pembuatan racun andaikan tidak ada yang mengarahkan dengan baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x