Sosial Artikel Utama

Dakwah Islam dan Tantangan "Islamophobia"

17 Mei 2018   14:50 Diperbarui: 18 Mei 2018   08:00 2788 9 2
Dakwah Islam dan Tantangan "Islamophobia"
muslimgirl.com

Aksi terorisme mengguncang lagi negeri ini. Islam kembali menjadi "agama tertuduh", mengingat para pelaku adalah muslim dan bermotif jihad. Beberapa negara telah menyikapi peristiwa ini dengan mengeluarkan travel advice, himbauan (larangan) kunjungan ke Indonesia. Meskipun aksi terorisme bukanlah merupakan ajaran Islam, namun prasangka dan prejudise ini sulit untuk dilepas. Di sinilah perlu dakwah islam yang toleran, untuk mengkonter stigma miring tentang islam dan teroris ini.

Kita memasuki sebuah era, di mana Islam dianggap sebagai sebuah kekuatan besar. Era itu, sebagaimana yang menjadi tesis Huntington disebut sebagai benturan antar peradaban (clash of civilization). Meskipun tesis ini tidak selamanya benar, namun kenyataan hari ini memposisikan ummat Islam sebagai sebuah ancaman. 

Berbagai prejudis dan stigma buruk yang disandangkan pada Islam, mulai dari aksi anarkis sampai pada bom jihad menjadi pembenaran atas tesis Huntington ini. Sampai sini, harus ada upaya untuk menunjukkan diri, bahwa Islam bukanlah seburuk yang diasumsikan banyak orang (lain).

Tujuan diturunkannya Islam adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam merupakan agama yang cinta damai. Sehingga ajaran Islam ini harus disampaikan dengan cara yang damai pula. Dalam Islam, upaya untuk menyampaikan ajaran Islam ini dikenal dengan istilah dakwah.

Dakwah dalam hal ini memiliki peran yang signifikan dalam penyampaian ajaran Islam. Melalui dakwah, maka manusia akan tertarik pada ajaran Islam tersebut. Nilai-nilai Islam yang toleran dan cinta damai, harus tetap diposisikan sebagai pegangan utama bagi ummat Islam dakwah dalam berdakwah. 

Meski saat ini Islam dan kaum Muslim dicap sebagai "agama dan umat beragama" yang kekerasan.. Sebagai ujung tombak penyeru Islam, para juru dakwah harus tetap konsisten berdakwah dengan toleran sebagai usaha nyata menepis stigma tersebut. Dengan dakwah yang toleran itu diharapkan citra Islam dan kaum Muslim bisa pulih kembali dan dapat dirasakan dampaknya sebagai agama rahmatan lil alamin.

AboutIslam.net
AboutIslam.net
Islam Sebagai Tertuduh

Pasca Peristiwa 11 September 2001, Islam seakan-akan dijadikan kambing hitam sebagai agama yang radikal, bahkan mendukung terorisme. George Bush, Presiden Amerika Serikat kala itu, setelah peristiwa 11/9 tersebut mengobarkan "perang terhadap terorisme", yang bagi kaum muslim ini dianggap sebagai perang melawan Islam (Akhmed, 2003). 

Berbagai stereotipe terhadap Islam pun muncul, mulai dari praktek kekerasan dan intoleransi sampai pada perlakuan buruk kepada perempuan. Dunia (baca:Barat) hanya memadang Islam melalui Osama Bin Laden dengan al-Qaida-nya, atau al Bagdadi dengan ISIS-nya, sementara dunia Islam yang majmuk seakan diabaikannya.

Liputan media Barat terhadap Islam sampai sini kemudian menambah keterpurukan Islam. Banyak gambaran tentang Islam yang jauh dari kenyataan. Terlebih kaum orientalis yang melakukan kajian terhadap Islam tapi diiringi misi tertentu yang merugikan Islam. 

Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Edward Said (2002), bahwa Barat memposisikan Timur (orient), termasuk Islam sebagai bagian dunia yang mundur dan destruktif. 

Gambaran media dan propaganda yang tidak seimbang ini akhirnya melahirkan apa yang disebut dengan Islamfobia atau ketakutan terhadap Islam. Pada titik tertentu, Islamfobia ini mendorong timbulnya serangan-serangan terhadap kaum Muslim.

Berdakwah dengan Ramah

Melihat fenomena dunia yang seperti tersebut, maka ummat Islam harus mampu menghadirkan strategi dakwah yang lebih efektif. Di tengah stereotip yang semakin menyudutkan Islam, harus ada reformulasi strategi dakwah yang mampu menghadirkan karakteristik Islam yang sesuai dengan tujuan semestinya.

Dari sini, kiranya perlu untuk menghadirkan dakwah Islam secara ramah. Ada beberapa hal yang menjadi tawaran strategi, dalam membangun dakwah ramah ini. 

Pertama, prinsip Keteladanan. Meskipun secara bahasa dakwah berarti mengajak, yang merupakan kata 'aktif", namun dakwah dengan contoh merupakan dakwah yang "pasif". Mengapa dikatakan dakwah "pasif"? Karena kita hanya perlu untuk menata sikap dan prilaku kita, tanpa harus mengajak orang lain. 

Ketika kita mampu menghias diri kita sebagai individu ataupun komunitas yang baik, maka orang akan simpati  dan apada akhirnya mengikuti kita.

Rasulullah SAW adalah contoh konkrit dalam kaitannya dengan hal ini. Karena akhlak Rasulullah adalah akhlaq yang bersumber dari Al-qur'an. Dalam sebuah ayat dijelaskan bahwa, seandainya Rasulullah itu tidak lemah lembut, maka orang-orang pasti akan lari meninggalkannya. 

Dengan kelembutan, tanpa kekerasan, dan kasih sayang, maka orang akan semakin mendekat dan simpati kepada kita. Dakwah dengan kekerasan, walaupun berdalih amar ma'ruf nahi munkar hanya akan menjadikan orang lain semakin apatis dan menjauh dari kita. Islam yang ramah harus diawali dari membangu diri untuk menjadi suri tauladan bagi orang lain.

Kedua, prinsip toleran. Toleransi merupakan penghargaan terhadap orang lain atas perbedaan yang ada. Dalam era "benturan peradaban", maka toleransi adalah upaya untuk membuktikan bahwa tesis benturan antara Islam dan Barat adalah isapan jempol belaka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2