Muhamad Mustaqim
Muhamad Mustaqim Dosen

Dosen IAIN Kudus

Selanjutnya

Tutup

Budaya Artikel Utama

Mendambakan Kota Ramah Sepeda

16 Mei 2018   05:52 Diperbarui: 16 Mei 2018   09:20 1575 3 1
Mendambakan Kota Ramah Sepeda
Sumber: k.sina.cn

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota di Belanda, seperti Amsterdam, Den Hag, Almere, dan Rotterdam.  Ada beberapa hal menarik perhatian di sana, salah satunya adalah fenomena bersepeda.

Hampir dijumpai di beberapa jalan utama kota, lalu lalang orang bersepeda dengan jalur khusus yang telah disediakan. Meskipun dalam kondisi musim dingin dengan suhu berkisar enam derajat celcius, tidak menyurutkan orang untuk bersepeda.

Di setiap ruang publik seperti kampus, market, sekolah, terminal, bahkan bandara sekalipun, selalu menyediakan tempat parkir untuk "tambat" sepeda. Rasanya, bersepeda sudah menjadi budaya dan bagian hidup masyarakat.

Hal ini tampak berbeda jika kita bandingkan di Indonesia. Sepeda dianggap sebagai transportasi kaum miskin dan anak-anak. Orang menjadi tidak pede ketika harus bersepeda. Yang terjadi, penggunaan motor menjadi tak terbendung. 

Semua orang menjadikan motor sebagai transportasi cepat untuk mengatasi kemalasan. Mulai anak-anak "di bawah umur" sampai orang tua, semua menggunakan motor. Bahkan untuk jarak yang relatif dekat, seseorang dengan begitu malasnya menggunakan motor sebagai medianya.

Kecenderungan ini secara makro berdampak pada beberapa hal:

Pertamasemakin padatnya lalu lintas kita. Jalan raya kita boleh jadi semakin hari semakin lebar dan besar, namun kuantitas motor yang tak terkendali menjadikan jalanan tampak semakin sempit. Potensi kemacetan dan kecelakaan pun terpicu dari kecenderungan ini.

Kedua, konsumsi bahan bakar motor yang kian membengkak. Pencabutan subsidi BBM yang tidak diimbangi kebijakan pengendalian jumlah motor, hanya akan menjadi bom waktu defisit cadangan migas.

Konsumsi sepeda motor masyarakat kita sungguh sangat memperihatinkan. Sekarang ini, kebijakan pembelian motor sangatlah mudah. Orang dengan hanya mengeluarkan uang, katakanlah limaratus ribu, sudah bisa mendapatkan sepeda motor baru. Budaya konsumerisme motor, secara simultan menjadikan penggunaan sepeda kian tergeser.

Ketigadalam konteks lingkungan, emisi gas karbon yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor tentu berdampak terhadap kualitas udara. Meskipun hal ini hanya akan tampak dalam durasi waktu yang lama, namun emisi karbon tetap saja memberi akibat bagi kerusakan lingkungan dalam jangka panjang. Keempat, munculnya budaya malas.

Keberadaan motor, sudah barang tentu menjadikan seseorang malas dalam melakukan transportasi secara manual. Motor, bagaimanapun telah menggeser kemampuan manusia untuk menggerakkan tubuhnya, baik itu dengan berjalan maupun bersepeda.

Belajar dari Belanda

Berdasar observasi sederhana yang penulis lakukan, kiranya ada beberapa anasir dalam mengguatkan budaya bersepeda di Belanda. 

Pertamaregulasi tentang bersepeda. Menurut informasi dari salah seorang teman kami yang sudah dua puluh lima tahun tinggal di Belanda, ada kebijakan tentang regulasi SIM (Surat Ijin Mengemudi), baik motor maupun mobil. Di Belanda, untuk mendapatkan SIM, orang  harus mengeluarkan uang sekitar 5000 Euro, atau sekitar 75 juta rupiah. 

Itupun harus melewati tes dan uji berkendara yang sangat ketat. Sehingga orang akan berpikir dua kali untuk menggunakan sepeda motor di jalan raya. Bandingkan dengan regulasi di Indonesia. untuk mendapatkan SIM, cukup dengan uang sekitar 300 ribu saja. Bahkan dengan budaya calo yang begitu melekat, orang bisa mendapatkan SIM tanpa harus ujian.

Kedua, fasilitas dan infra struktur yang ramah sepeda. Pesepeda rasanya benar benar dihargai dalam sistem lalu lintas yang ada. Jalur khusus sepeda dibangun tengan sistem keamanan yang memadai. Beberapa tempat parkir dengan sistem penambat untuk keamanan - dari pencuri- sudah disediakan pada hampir semua fasilitas publik.

Ketigamentalitas bersepeda yang kiranya sudah mengakar. Selain faktor kebijakan dan infra-struktur, faktor mentalitas juga sangat mempengaruhi budaya bersepeda. Ketika seseorang bersepeda, ia tidak terkungkung oleh jeratan kelas sosial yang disandangnya. Bersepeda itu mulia, begitu kira-kira. Dan saya menyaksikan sendiri, seorang dosen dan mahasiswa doktoral menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya.

Dari sini kiranya kota-kota kita perlu belajar dari fenomena tersebut. Beberapa kota kita, masih belum menempatkan pesepeda dengan layak dan ramah.

Sehingga orang menjadi tidak nyaman ketika beraepeda. Belum lagi ancaman keselematan yang setiap saat bisa mengintai bagi pengendara. Membangun kota ramah sepeda kiranya relevan dalam rangka mengatasi situasi lalu lintas dan cadangan sumber daya mineral kita. Dan bersepeda rasanya tidak mengurangi kekolotan suatu kota.