Mohon tunggu...
Andi MuhaiminDarwis
Andi MuhaiminDarwis Mohon Tunggu... Relawan - Menulislah. Sebelum kenangan indah terbuang sia-sia. Hargai hidupmu lebih dari siapapun itu.

Teknik Sipil 2015, Univ. Muhammadiyah Makassar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jasa Parkir dan Titip Sandal di Tempat Ibadah

26 Februari 2019   00:59 Diperbarui: 26 Februari 2019   01:49 119
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Namun, timbul masalah lain berdasarkan pengalaman pribadi saya. Kita yang seyogyanya hendak beribadah tetapi justru ada harga yang ditekankan kepada pribadi. Kasus ini sempat saya tanyakan kepada orang tua saya, tetapi beliau kurang setuju apabila dikatakan bahwa ibadah sudah menjadi sesuatu yang berbayar walaupun beliau tidak pungkiri bahwa ada person yang merasa keberatan dengan hal itu. 

Kasus ini sempat saya tanyakan kepada beberapa teman yang ternyata memiliki kepekaan yang sama. Delapan dari sepuluh orang mengatakan bahwa parkir dan penitipan sandal adalah masalah baru yang timbul layaknya virus baru yang timbul setelah meminum obat untuk suatu penyakit. Parkir dan jasa titip sandal ternyata mempengaruhi minat kebanyakan mahasiswa yang hendak beribadah. 

Mereka menginginkan komunikasi kepada Allah swt. dengan kekhusyukan tapi melihat tukang parkir dengan rompi oranye dan sumpritan tergantung di leher tak bisa mereka pungkiri kadang membuat niat mereka berubah. 

Dan hasilnya, mencari masjid yang lain sebagai tempat pelarian gratis adalah solusinya. Lagipula, apabila dibayangkan jika kita hanya membawa uang selembaran dua ribu rupiah yang kita tujukan untuk dimasukkan ke kotak amal sebagai sedekah jariyah. 

Namun terlintas bahwa akan membayar parkir. Apakah kita menarik sumbangan tersebut untuk menjadi upah pekerja? Pada dimensi yang lain, penjaga parkir dan penitipan sandal juga membutuhkan upah dari jasanya untuk melangsungkan kehidupan duniawi.

Infak adalah sumbangan yang dikeluarkan seseorang secara sukarela dari pendapatan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Tulisan infak sering kita jumpai pada setiap masjid. Parkir dan jasa penitipan sandal. 

Seusai beribadah, penjaga barang atau sandal dengan cekatan menunjukkan kotak infak dengan ketukan yang magis. Penjaga parkir tak ingin kalah cekatannya memegang ekor kendaraan meskipun pengendara masih memperbaiki posisi dan barang bawaannya. 

Di sinilah letak permasalahannya. Makna infak sudah bergeser dari hal yang sebenarnya opsional, menjadi suatu hal yang wajib. Ditambah lagi, budaya saling menghargai yang ditanamkan oleh pendahulu di Sulawesi Selatan juga menjadi tekanan tersendiri apabila ingin menolak.

Saya membayangkan jika seseorang yang hendak meraih keistimewaan dua puluh tujuh derajat kemudian menggunakan kendaraan untuk memudahkannya meraih kesempatan itu, justru harus mengeluarkan dua ribu rupiah untuk satu kali salat. 

Bagaimana jika lima kali dalam sehari? Apakah jika kita menolak untuk hari ini, sudah menjadi kepastian bahwa kita tak akan ditagih untuk kemudian hari? Belum lagi sandal yang sengaja kita sembunyikan justru mereka amankan untuk diserahkan kepada mereka. 

Hal ini adalah sesuatu yang riil terjadi di masyarakat. Tidak menjadi masalah bagi mereka yang berpindah-pindah dalam beribadah. Tapi menjadi masalah bagi yang menetap di suatu tempat ibadah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun