Mohon tunggu...
Muh Rifqi Halim
Muh Rifqi Halim Mohon Tunggu... Penulis - Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Selanjutnya

Tutup

Film

Gundala, Film Marvel Versi Indonesia

30 Agustus 2019   10:05 Diperbarui: 1 September 2019   08:27 215
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Malang - 29 Agustus 2019 menjadi hari yang ditunggu-tunggu banyak orang di indonesia. Khususnya bagi penggemar film bergenre action. Gundala ditayangkan perdana serentak di seluruh bioskop tanah air dan mendapat antusiasme yang tinggi dari publik. Bersumber dari instagram Gundala Official, bahwa hari pertama saja film Gundala telah mencapai 174.013 penonton. 

Film besutan Joko Anwar ini secara garis besar bercerita tentang seseorang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan melawan mafia politik di legislatif sekaligus menjadi bos geng preman bernama Pengkor. Kebijakan-kebijakannya di pemerintah yang merugikan rakyat dan para preman yang sering mengusik kehidupan masyarakat menjadi dua titik permasalahan utama dalam film ini. Sosok Gundala hadir sebagai tokoh yang mampu menyelesaikan problema di masyarakat dan di jajaran pemerintahan. Nama asli dari gundala adalah sancaka yang diperankan oleh Abimana Aryasatia.

Sebagaimana film superhero lainnya, gundala juga memiliki kekuatan super dalam melawan setiap musuh-musuhnya yaitu kekuatan petir yang kurang lebih mirip dengan kekuatan Thor. Bedanya, jika Thor dikisahkan sebagai dewa petir di Asgard, gundala hanyalah seorang manusia biasa yang mendapatkan kekuatannya karena sering tersambar petir sejak kecil. Entah apa yang menjadikannya selalu menjadi "incaran" petir, tapi hal itulah yang menjadikan gundala mendapatkan kekuatan super. 

Demi menghindari spoiler yang banyak kepada pembaca, saya tidak akan menceritakan secara detail kisah gundala dalam film ini. Tapi setidaknya ada 3 scene yang menurut saya paling epic dan membuat saya berdecak kagum dan ingin saya share agar yang belum menonton juga ikutan penasaran menonton film gundala.

Pertama, scene dimana pertama kali Cecep Arif Rahman dimunculkan dalam film. Karakternya dalam film ini sebagai salah satu anak buah Pengkor yang otomatis menjadikannya sebagai villain (musuh) gundala. Dalam scene tersebut, Cecep Arif Rahman muncul dengan gerakan seni beladirinya yang khas lalu diringi dengan backsound suara musik yang sangat menginterpretasikan Indonesia. Lalu pertarungan duelnya dengan Gundala yang sangat keren menjadikan film ini sangat pantas diapresiasi. 

Kedua, scene munculnya Sri Asih yang diperankan oleh Pevita Pearce. Sri Asih muncul hanya dua scene di film ini, pertama di akhir film saat gundala gagal menghentikan truk yang membawa stok obat cacat, Sri Asih muncul di depan truk dan dengan kekuatan supernya Sri Asih hanya sedikit menggerakkan tangan dan truk itupun berguling terbalik lalu Sri Asih langsung menghilang. 

Scene ini membuat penonton jadi penasaran dengan sosok Sri Asih lebih dalam, apa saja kekuatannya? darimana dia mendapatkan kekuatannya? Dan beberapa pertanyaan lainnya. Kemunculan kedua di bagian post credit scene, dimana Sri Asih masuk ke sebuah mobil dan entah kemana tujuannya. Scene tersebut berhasil menjadikan penonton penasaran dengan sekuel film berikutnya dan hal itu menandakan bahwa post credit scene film ini berhasil. Keren.

Ketiga, scene di akhir film dimana anak buah pengkor membangkitkan villain bernama Ki Wulaki (mohon dikoreksi jika namanya salah), sosok kakek tua yang kelihatannya sudah sangat lama berada dalam sebuah bangunan tua. Dalam scene tersebut anak buah pengkor berdialog dengan Ki Wulaki menggunakan bahasa jawa. Scene yang singkat tapi mengisyaratkan tentang villain gundala di film selanjutnya sehingga membangun rasa tidak sabar untuk menanti film-film berikutnya di Bumilangit Cinematic Universe.

Masih banyak lagi scene dalam film ini yang keren dan menandakan awal yang sangat baik untuk film yang memiliki universe sendiri. Jika melihat bagaimana keseriusan Bumilangit Production dan Screenplay dalam menggarap proyek Bumilangit Cinematic Universe (BCU), menurut saya BCU layak disandingkan dengan film-film di Marvel Cinematic Universe (MCU). Walaupun ada beberapa aspek yang kontras perbedaan antara keduanya, tapi itu menjadi hal sangat wajar menurut saya. 

Misal dari efek CGI, kuantitas sense of humor, latar belakang budaya, dan beberapa hal lainnya. Efek CGI di film ini juga sudah keren menurut saya, setidaknya tidak seperti  dengan yang ada di acara-acara tv series indonesia biasanya. Jika dibandingkan dengan MCU, kuantitas humor film ini kurang, dan menurut saya penonton semakin merasakan kenyamanan dalam menonton film jika ada jeda di tengah banyaknya adegan yang membuat penonton harus berfikir untuk mengerti alur cerita, kita bisa merasakan hal ini ketika mengikuti seluruh film-film di MCU. Dan menurut saya hal tersebut menjadi salah satu faktor suksesnya film-film di MCU. 

Kemudian budaya yang menjadi latar film ini sangat kental dengan budaya Indonesianya, misal dengan banyaknya adegan pencak silat, dan beberapa aktivitas masyarakat yang mereprentasikan budaya indonesia. Dan bisa dikatakan, BCU adalah MCU versi Indonesia. Keren banget. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun