Mohon tunggu...
Muchtadi Darmawan
Muchtadi Darmawan Mohon Tunggu... Lainnya - Feel Free

...

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Menikmati "Dongeng" dalam Romantika Sepak Bola

20 Mei 2022   00:26 Diperbarui: 20 Mei 2022   00:29 853
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: https://mojokstore.com/

Nama-nama tersebut kerap menjadi public enemy atas perilakunya, atas gaya permainannya, atas aksi bengalnya, atas komentarnya maupun pendapatnya. Namun, terkadang apa yang kita lihat dilayar kerap menipu, kita gampang menilai hingga membenci seseorang tanpa mengetahui lebih dalam. 

Dalam beberapa tulisan yang disajikan, Muhammad Ilham menulis sosok tersebut, menceritakan seorang yang kita benci dan dicap public enemy sebagai sosok yang sangat rendah hati dan tulus.

Saya adalah penggemar Liverpool, tetapi masa kecil saya banyak diisi keheranan kakak saya yang tergila-gila dengan Inter Milan. Saya pun ikut terbawa, Menyaksikan Inter yang perkasa di era Mancini hingga Mourinho adalah keistimewaan tersendiri bagi saya. 

Melihat Adriano yang perkasa, Materazzi yang 'nakal', Milito yang spartan, Sneijder yang cerdik, dan Eto'o yang oportunis. Namun, dalam buku Romantika Sepakbola, Ilham terang-terangan sebagai Milanisti, seorang penggemar AC Milan dan banyak membicarakan AC Milan dalam buku ini.

Saya belum lahir dan bahkan belum menyaksikan langsung puncak keemasan Seria A di medio 90an hingga 2000an. Tetapi satu hal yang pasti, era keemasan Seria A selayaknya "dongeng" pengantar tidur yang nikmat untuk didengarkan. 

Dalam buku ini, Muhammad Ilham sebagai seorang yang tumbuh dan menyaksikan era keemasan Seria A, mencurahkan dengan apik "dongeng" tersebut kedalam Romantika Sepakbola.

Sebagai penggemar AC Milan, kesenangan dalam membaca buku ini saya rasa akan berlipat ganda. Di tiga tulisan awal ia membicarakan AC Milan, menceritakan pengalamannya semasa meliput kompetisi paling bergensi antar negara Eropa. 

Piala Eropa 2012 dan 2016 mempertemukannya dengan idola yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di layer kaca. Sheva, Desailly, hingga Rui Costa adalah tokoh-tokoh yang diceritakan. 

Sebagai seorang jurnalis Ia tidak hanya melihat langsung idolanya, tetapi berbicara langsung, mewawancarainya, bahkan mengungkapkan rasa cintanya pada pemain tersebut. 

Apa yang ditulis dalam tiga Bab awal sangat emosional, siapapun yang mencintai sepakbola, bahkan pendukung rival sekalipun akan terbawa suasana pengalaman penulis bertemu idolanya.

Sekali lagi, judul yang diberikan dalam buku ini tidak meleset. Seperti yang ditulis di akhir kata pengatar bahwa tulisan yang ada dibuat dengan penuh cinta. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun