M Saekan Muchith
M Saekan Muchith Dosen IAIN Kudus Jawa Tengah

Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial Agama dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Idulfitri, Saatnya Amin Rais dan Prabowo Introspeksi

14 Juni 2018   15:32 Diperbarui: 14 Juni 2018   15:56 180 0 0
Idulfitri, Saatnya Amin Rais dan Prabowo Introspeksi
JiroMedia

Hari raya Idul Fitri merupakan momentum bagi manusia (umat Islam) untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah) terhadap semua kekurangan, kekhilafan dan kesalahan di masa masa lalu untuk dijadikan bahan renungan menyusun masa depan yang cerah atau cemerlang. Islam memiliki prinsip bahwa jika hari kemarin lebih baik dari pada hari ini dikategorikan orang yang celaka. 

Jika kemarin sama dengan hari ini itu golongan orang yang rugi. Jika hari esok lebih baik dari pada hari ini itulah orang yang beruntung. Artinya keberhasilan manusia di masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana mampu mengetahui dan memahami realitas hari kemarin dan sekarang.

Hari raya idul fitri sangat tepat bagi umat Islam untuk merenungkan dan meresapi semua kekurangan di masa lalu untuk dijadikan pelajaran agar tidak terulang lagi beberapa kesalahan di masa lampau.  Pada hari raya idul fitri umat Islam memiliki pahala yang diibaratkan seperti halnya bayi yang baru lahir yaitu bersih dari segala dosa dan kesalahan akibat di ampuni setelah selama satu bulan menjalankan ibadah puasa ramadhan dan amalan lainnya. 

Agar mulai tanggal 1 syawwal dan seterusnya selalu dalam kondisi bersih dari dosa, maka harus selalu mengingat semua kekhilafan di masa silam untuk tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Jika tidak di imbangi dengan instrospeksi terhadap semua kekurangan dan kesalahan di masa lalu, maka idul fitri hanya menjadi acara forml ceremonial rutin tahunan yang tidak akan ada manfaatnya apa apa bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.

Instrospeksi menjadi sangat penting bagi para elit atau tokoh politik bangsa Indonesia yang akan berlaga dalam pemilu presiden tahun 2019. Tokoh yang santer diperbincnagan bakal meramaikan bursa calon presiden ada tiga tokoh yaitu Incumbent Presiden Joko Widodo, Tokoh atau sesepuh Partai Amanat Nasional (PAN) Amin Rais dan ketua Umum sekaliguis sesepuh partai Gerindra Prabowo Subiyanto.

Amin Rais dan Prabowo dilihat dari hak asasi manusia tidak ada larangan untuk ikut dalam percaturan atau kompetisi pencalonan presiden tahun 2019, karena tidak ada satupun regulasi yang melarang Amin Rais dan Prabowo untuk maju sebagai calon presiden. Sebagai umat Islam yang taat dan patuh (beriman) nampaknya Amin Rais dan Prabowo Subiyanto perlu melakukan instrospeksi (muhasabah) secara mendalam sebelum memutuskan untuk ikut bursa calon presiden tahun 2019.   Muhasabah didasarkan oleh beberapa hal sebagai berikut ;

Pertama, dilihat dari usia kalender. Amin Rais pada tahun 2019 telah berusia 75  tahun (lahir tanggal 26 April 1944). Dalam ukuran orang Indonesia usia 75 tahun sudah dikategorikan terlalu senior untuk berkompetisi sebagai Presiden.

Kedua, dilihat dari prospek karir politik. Amin Rais sejak terjun ke dunia politik, dapat dikatakan karir politiknya tidak begitu berkibar. Pada tahun 2004 Amin Rais maju sebagai calon presiden berpasangan dengan Siswono Yudohusodo, hanya memperoleh  suara 15 % sehingga gagal menduduki kursi presiden RI. 

Perolehan suara PAN yang dinahkodai Amin Rais juga tidak menggambarkan besarnya dukungan dari rakyat. Pada Hasil pemilun tahun 1999 PAN memperoleh suara sebesar 7,12 %. Hasil pemilu  tahun 2004 PAN memperoleh dukungan suara sebesar 6,44 %. Hasil pemilu  tahun 2009  PAN memperoleh dukungan suara sebesar 6,01 %. Dan hasil pemilu  tahun 2014 PAN memperoleh dukungan suara sebesar 7,59 %. 

Sedangkan untuk tokoh nasional Prabowo Subiyanto dilihat dari usia kalender juga sudah dapat dikatakan sangat senior untuk menjadi presiden Indonesia. Pada  tahun 2019 nanti, Prabowo berusia 68 tahun karena lahir pada tanggal 17 oktober 1951. Dari aspek karir politiknya, Praboeo juga tidak memiliki karir yang cemerlang. 

Pada tahun  2004 Prabowo kalah bersaing dengan Wiranto dalam konvensi partai Golkar sehingga tidak bisa maju sebagai calon presiden dari partai golkar. Akhirnya maju sebagai calon wakil presiden bersama Megawati pada tahun 2009 meskipun akhirnya gagal memenangkan percaturan politik nasional. Kegagalan dalam tahun 2009, tidak menyurutkan nyali Prabowo yang mantan jenderal tersebut. Pada tahun 2014 maju sebagai calon presiden berpasangan dengan  Hatta Radjasa, akhirnya juga kalah bersaing dengan Pasangan Joko Widodo Yusuf Kalla

Amin Rais dan Prabowo sama sama tokoh nasional yang seringkali mengalami kegagalan dalam kompetisi politik nasional. Keledai saja tidaka mau masuk lubang untuk yang ekdua kalinya. Apa lagi Amin Rais dan Prabowo adalah sosok politisi yang cerdas dan berwawasan luas, sudah barang pasti tidak akan melakukan langkah langkah sangat gegabah yang justru akan menurunkan citra dan wibawa dirinya. 

Di saat hari raya idul fitri ini, kedua tokoh akan lebih baik jika melakukan evaluasi semua kegagalan yang pernah di alami dalam proses politik nasional. Selain pertimbangan kegagalan masa lalu, dari usia juga perlu menjaid bahan pertimbangan. Akan lebih terhormat jika kedua tokoh itu memposisikan sebagai King maker dalam kelompoknya masing amsing dan memebri kesempatan yang berusia muda. 

Untuk tahun 2019, bukanlah tahun kesuksesan bagi Amin Rais dan Prabowo Subiyanto. Tahun 2019 justru tahunnya Amin Rais dan Prabowo untuk menjadi sesepuh, pembina, pengarah den pengayom kader dan rakyat Indonesia. 

Tahun 2019, bukan saatnya Amin Rais dan Prabowo bertanding dalam Pilpres, lebih mulia tentang calon presiden diserahkan kepada yang masih usia muda berkisar 45-65 tahun. Monggo silahkan bapak Amin Rais dan Prabowo untuk merenung secara mendalam sehingga mendapatkan solusi yang tepat dalam konteks politik nasional.