Mohon tunggu...
Muara Alatas Marbun
Muara Alatas Marbun Mohon Tunggu... Guru - Alumni U Pe' I

Seorang lulusan yang sudah memperoleh pekerjaan dengan cara yang layak, bukan dengan "orang dalem", apalagi dengan "daleman orang"

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Jokes Esempeh yang Membantu "Kampanye" PDIP

16 September 2023   15:00 Diperbarui: 16 September 2023   15:03 1519
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bisnis. Sumber ilustrasi: Unsplash

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan merupakan partai pemenang sekaligus penguasa suprapolitik di Indonesia. Bagaimana tidak? Presidennya adalah orang PDIP; memiliki mantan Presiden PDIP; menguasai mayoritas kursi di lembaga legislatif, dan; Ketua DPR RI adalah seorang PDIP sekaligus pewaris trah Soekarno. Kegemilangan mereka menguasai pemilu pada dua periode beruntun tak lepas dari kedekatan komunikasi dengan masyarakat.

Pada tahun 2014, strategi "Blusukan" menghantarkan posisi Jokowi dari seorang Gubernur DKI menjadi Presiden Indonesia karena semua golongan mengenalnya sekaligus terlihat kemauannya turun ke masyarakat hingga kini. Namun kita tidak bisa menafikan bahwa orang-orang PDIP pun mulai menunjukkan perilaku yang mengarahkan pada tren negatif terhadap mereka sendiri. Tidak sedikit anggota partai mereka yang bertingkah bak penguasa tanpa pesaing, kasus korupsi yang meyeretnya (terutama kasus Korupsi dana Bansos), hingga hal-hal lainnya yang membuat PDIP serasa makin ditinggalkan para pemilihnya dahulu.

Dari sudut pandang lain, PDIP tidak perlu risau karena ada jokes Esempeh yang menolong mereka.

Jokes Esempeh dipahami sebagai jokes-jokes yang diarahkan dan dituduhkan kepada anak-anak baru naik ke jenjang SMP sebagai promotor dan pelestari jokes mereka sendiri. Jokes mereka tidak lepas dari tren yang berkembang di internet dan diadaptasi dalam budaya komunikasi mereka. Alhasil, konteks lawakan atau sindiran yang berkembang di kalangan mereka dan 'dilestarikan' berkaitan tentang tokoh-tokoh seperti Hitler, Aidit, atau Megawati.

Kita akan berfokus pada konten jokes Esempeh yang memfokuskan unsur PDIP di dalamnya. Unsur-unsur PDIP yang sering disebarkan dalam jokes Esempeh via sosial media adalah mengenai isu Megawati yang menjual pulau, sindiran bahwa PDIP adalah partai yang korup, hingga absurd humor yang melibatkan unsur-unsur PDIP di dalamnya. Hal-hal tersebut dikesankan agar mereka terkesan 'pintar' karena 'berhasil' melakukan sindiran atau lawakan terhadap partai penguasa dan menjadi bagian dari publik yang sadar akan politik meskipun mereka mengambil porsi yang kurang berpengaruh pada hal-hal vital perpolitikan di Indonesia.

Berikut beberapa jokes esempeh yang berkaitan tentang PDIP:

PUAN MAHARANI

Jokes Esempeh 1

Jokes Esempeh 2

Inti dari tiga contoh jokes esempeh tersebut tidak terlepas dari sindiran atau sekedar shitposting karena menurut mereka itu populer dan lucu di kalangan mereka. PDIP dalam jokes Esempeh dianggap sebagai partai penguasa yang korup dan 'mengancam' masyarakat jika sindiran mereka dianggap 'berlebihan'. Dari sini kita tahu ada miskorelasi yang perlu diketahui:

1. Jokes Esempeh memaksa adanya keterkaitan antara PDIP dengan "Petrus" yang dijalankan pada zaman Soeharto. Kita tahu bahwa kejadian tersebut terjadi pada saat PDI merupakan oposisi dan tidak ada bukti hukum yang mengaitkan orang-orang PDI sebagai pelaku "Petrus"

2. PDIP tidak pernah terbukti secara hukum melakukan spionase terhadap masyarakat yang menyindir mereka.

Meski begitu, jokes esempeh terus berkembang dan uniknya hanya PDIP yang disinggung, tak pernah ada satupun partai koalisi maupun oposisi yang kena sindir. Hal ini tidak akan mempengaruhi kontestasi pemilu namun dapat memperkuat unsur komunikasi dengan publik melalui konten media sosial, dan PDIP tidak perlu mengeluarkan uang untuk itu.

Generasi Z sekiranya mengetahui lebih kritis tentang konten yang dibicarakan dalam jokes Esempeh karena perkembangan kognitif dimilikinya, ditambah sebagian besar dari mereka adalah pemilih dalam Pemilu 2024. Di masa depan, jika generasi Alfa tidak mengembangkan sikap kritis dan kemampuan pengambilan keputusan yang baik, maka jokes mereka akan berkembang menjadi pijakan propaganda yang mereka buat sendiri.

Ibarat berjuang keras menyindir PDIP, tapi berakhir hanya mengenal PDIP semata.

Jika tujuannya anak muda, maka PDIP cukup 'ongkang-ongkang' saja karena "haters" mereka berfungsi melestarikan nama PDIP di media sosial, terlepas dari negatif atau positifnya konten mereka. Orang-orang PDIP cukup bermain di saluran komunikasi mereka sendiri dan bertindak serius terhadap perkembangan politik mereka.

Jika ingin membuktikan, silakan tanya kepada anak-anak pada generasi Alfa untuk menyebutkan partai pertama dalam benak mereka dan tidak akan heran akan muncul nama "PDIP" karena kuatnya konten PDIP dalam jokes Esempeh.

RINTANGAN

Jika oposisi ingin memanfaatkan peluang yang ada untuk menggunakannya dalam menurunkan elektabilitas lawan, maka mereka perlu berupaya untuk masuk ke jokes esempeh. Itu memang tidak akan mudah mengingat semua partai memfokuskan untuk kegiatan politik praktis yang menyasar pada pemilih aktif termasuk generasi Z. Melihat waktu yang sekarang, menyasar calon pemilih masa depan adalah hal yang kurang efektif dan tidak menjamin elektabilitas.

PDIP yang selalu jadi bahan olokan menemukan bahwa mereka begitu dikenal dengan ornamen merah, banteng, dan perbuatan yang mereka lakukan. Meski begitu mereka tak bisa santai begitu saja karena calon pemilih yang di masa depan akan berkembang dewasa dan memiliki pemikiran kritis akan memahami siapa yang ia olok dan apa yang akan dilakukan terkait keterlibatan dalam politik. Memang betul PDIP adalah partai yang paling terkenal dalam jokes Esempeh, namun mereka pula yang akan dibedah kepantasannya sebagai partai yang layak untuk dipilih dalam Pemilu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun