Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menantu Pak Jokowi Itu Mandailing tapi Batak

10 November 2017   07:46 Diperbarui: 10 November 2017   10:06 36938 17 11
Menantu Pak Jokowi Itu Mandailing tapi Batak
Suasana persiapan acara pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution di Graha Saba, Solo, Senin (6/11/2017).(Fabian Januarius Kuwado)

"Bobby Nasution Menantu Jokowi, Batak Atau Mandailing?" Pertanyaan itu menjadi judul menggoda untuk artikel rekan Ishak Pardosi di Kompasiana dua hari lalu (8/11/17).

Pada akhirnya rekan Pardosi tidak menjawab tapi mengambangkan pertanyaan itu. Mungkin karena menilai isu Mandailing sebagai Batak atau bukan Batak, dianggap sebagai isu rada sensitif.

Sebenarnya tidak perlu takut ada yang tersinggung. Sebab sejak lama sudah ada konvensi bahwa etnis Batak itu terdiri dari lima puak (sub-etnis) yaitu Toba, Simalungun, Karo, Pakpak-Dairi, dan Mandailing. Bahkan Nias juga pernah dipersepsikan sebagai puak keenam.

Jika merujuk konvensi itu, maka sebenarnya tidak perlu ada pertanyaan seperti judul artikel rekan Pardosi. Tapi generasi yang lebih muda mungkin mulai berpikir tentang eksistensi eksklusif, karena puak Mandailing atau yang lain mungkin tidak mau disamakan identitas kulturalnya dengan puak Toba, atau mungkin karena alasan sosial-budaya-politik lain.

Belakangan ini di kalangan warga Batak Lima Puak memang cukup santer terdengar suara "menolak jadi Batak". Saya sudah pernah membahas soal ini di Kompasiana tahun lalu ("Batak Itu Komunitas Terbayang", K.14/10/16).

Sumber: KapanLagi.com
Sumber: KapanLagi.com

Dalam artikel itu saya sebutkan bahwa Batak adalah konstruksi sosial sebagai sebuah "bangsa", yaitu sebagai sebuah "komunitas terbayang" (imagined community) ala konsepsi Ben Anderson. Artinya Batak sebagai sebuah kesatuan "bangsa" bukan realitas empiris. Dia hanya konsepsi yang eksistensinya hanya mungkin dibayangkan oleh setiap warga Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, dan Mandailing. Jadi, menolak jadi Batak sebenarnya sama dengan upaya menepis sebuah "bayangan".

Konotasi Batak adalah puak Toba, tak punya dasar antropologis dan historis. Sebutan "Batak" itu adalah konstruksi sosial orang luar yaitu para pengelana/peneliti, lalu zendeling dan mssionaris, dan akhirnya, Pemerintah Kolonial Belanda. Kosa kata "Batak" tidak berasal dari khazanah bahasa asli puak-puak Batak.

Penamaan "Batak" (Batta, Bata) adalah pelabelan orang pesisir yang lebih maju untuk orang gunung atau pedalaman. Arti kata itu adalah "pengembara, liar, kanibal, belum beradab".

Penamaan itu kemudian diikuti oleh para orientalis pertama yang menulis tentang Batak, seperti Tome Pires dan Wiliam Marsden, serta para zendeling RMG Jerman dan misionaris Katolik pada paruh kedua 1880-an. Nama itu kemudian dikukuhkan Pemerintah Kolonial Belanda sebagai konstruksi sosial-politik untuk penyatuan seluruh masyarakat dari Mandailing di selatan sampai Karo di utara, dan dari Habinsaran/Parsoburan di timur sampai Dairi di barat.

Pada masa kemerdekaan, "penyatuan" lima puak itu dalam satu "komunitas terbayang" bernama Batak, mendapatkan relevansinya sebagai perwujudan Bhinneka Tunggal Ika ala Batak. Dilihat dari sisi itu, konsepsi "bangsa lokal" Batak sejatinya adalah sebuah potensi kekuatan bangsa Indonesia.

Maka, jika kembali ke pertanyaan apakah Bobby Nasution itu Batak atau Mandailing, jawabnya sederhana saja. Semua marga Nasution secara konvensi adalah Batak, tapi secara realitas sosial-budaya adalah Mandailing. Maka Bobby Nasution, menantu Pak Jokowi itu pastilah orang Mandailing tapi Batak. Jadi, 100 persen Mandailing 100% Batak.

Lantas bagiamana dengan suara penolakan sebagai Batak? Saya tidak melihat alasan substansil untuk sebuah penolakan, sebab Batak sebagai komunitas terbayang tidak pernah melenyapkan Mandailing, Toba, Simalungun, Pakpak, ataupun Karo. Sama seperti konstruksi sosial-politik bangsa Indonesia tak melenyapkan ragam suku yang membentuknya.

Ketimbang mempertanyakan kebatakan, hal yang lebih penting sebenarnya adalah mengangkat potensi persamaan, bukan perbedaan di antara puak Batak, sebagai basis gotong-royong untuk mewujudkan "Bangso Batak yang Makmur".

Horas. Mejuah-juah. Njuah-juah. Jahowu!***