Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mari Belajar Menulis Sederhana

28 Agustus 2017   09:11 Diperbarui: 28 Agustus 2017   10:24 0 10 5 Mohon Tunggu...
Mari Belajar Menulis Sederhana
(Foto: antaranews.com)

"Tulisan yang baik adalah yang  menyajikan suatu masalah njlimet-rumit secara lurus-sederhana". Itu nasihat guru saya dulu, yang selalu saya pegang. "Sebab kalau tak bisa menjelaskan soal rumit dengan cara yang sederhana, berarti kamu sebenarnya tak paham apa yang kamu jelaskan," kata guru saya dulu.

Pertanyaannya, apa mungkin menjelaskan kerumitan dengan cara dan bahasa yang sederhana? Jawabnya, " Mengapa tidak? Sebab bukankah Tuhan menciptakan dunia ini sederhana saja? Pikiran manusialah yang membuatnya rumit."

Tak perlu jauh-jauh cari contoh. Di Kompasiana ada teladan fenomenal  penulis sederhana. Pak Tjiptadinata Effendi namanya. Perhatikan, artikel-artikelnya sederhana, tapi berbobot, sarat pesan dan pelajaran. Cara tutur, gaya bahasa, susunan kalimat, dan pilihan kata, semuanya bersahaja. Gampang ditangkap dan dicerna.

Menulis sederhana yang saya maksud, ya, seperti  capaian Pak Tjip itulah. Topik, pesan,  konsep, alur, gaya bahasa, alinea, kalimat, dan pilihan  kata semuanya sederhana. Tidak membuat kening penulisnya berkerut saat menulis. Juga tak membuat kening pembaca berkerut saat membaca. Jadi, tidak boros energi. Yang muda tak cepat tua, yang tua awet tua.

Jujur, saya sedang berjuang untuk mampu menulis sederhana. Seperti model Pak Tjip itu. Tapi tentu dengan proses dan hasil "sederhana yang beda", khas saya sendiri. Bukan peniru atau pengekor Pak Tjip. Apalagi plagiat, amit-amit.

Sejumlah artikel saya terdahulu, saya niatkan sebagai tulisan sederhana. Sebagai contoh, yang saya ceritakan di sini,  artikel "Sosiologi Pekuburan di Jakarta" (Kompasiana, 21/8/17). Sosiologi punya kecenderungan untuk jatuh pada kerumitan, sehingga tantangan untuk tiap sosiolog adalah menjelaskan suatu gejala sosial secara sahaja.

Artikel "Sosiologi Pekuburan di Jakarta" itu berangkat dari pengalaman sederhana, ziarah kubur ke TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di sana saya bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang sederhana, para pekerja kuburan asal Karawang, Jawa Barat.

Dengan Pak Dadang, salah seorang dari mereka,  keluarga saya menjalin kesepakatan  perawatan makam.  Sejak penggaluan kubur, dia sudah diplot untuk merawat makam kerabat saya.

Saya kerap berbincang dengan Pak Dadang dan teman-temannya. Dari merekalah saya mendapat informasi tentang kehidupan sosial-ekonomi para pekerja kuburan.

Ternyata mereka bekerja secara informal. Menggantungkan nafkah semata pada relasi dengan dan kemurahan hati dari kerabat almarhum/ah. Sekadar untuk bertahan hidup, survival, dengan kondisi serba marjinal di Jakarta.

Maka saya coba cari konsep sosiologi untuk menjelaskan relasi sosial antara Pak Dadang dan saya, selaku wakil kerabat. Terpikirlah konsep "patron-client" (majikan - pekerja), sebuah relasi resiprokal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x