Syarif Tjan
Syarif Tjan

Lahir Di Tobelo.Tipikal slengean dan suka menentang arus. Senang menekuni dunia Filsafat dan Tasauf. Waktu senggang dimanfaatkan dengan melukis, menulis, dan clubing. Pernah mampir menimba Ilmu Teknik Lingkungan di STTL Yogyakarta ( 1991), dan menyempatkan diri belajar di Magister Sistem Teknik (MST) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Tahun 2007. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Impact semasa kuliah di Yogya.Menulis adalah hobi sejak dari SMA. Pernah menulis di Majalah "Suara Muhammadiyah" Yogyakarta, dan harian Malut Post. Tahun 2004 saya bersama Bapak Mulis Tapi Tapi mendirikan Tabloid Halut Press dan menjadi Pemimpin Redaksi namun hanya bertahan selama 2 tahun. Mendirikan oragnisasi Filantropis "Tjan Institute", sebagai upaya melakukan riset kecil-kecil dibidang lingkungan. Bergelut di dunia konsultan lingkungan untuk menyusun AMDAL, dan UKL/UPL. Selain konsen terhadap masalah lingkungan, sosial politik dan kebudayaan, juga memiliki cita-cita membesarkan usaha "eco- Entrepreneur" sendiri. saat ini suka menggarap banyak pesanan Instalasi Air Limbah dengan biaya murah. Sudah 17 Tahun hidup dan stay di Ternate

Selanjutnya

Tutup

Regional

Seandainya Saya Walikota Ternate

13 September 2017   23:51 Diperbarui: 14 September 2017   00:06 865 0 0

"SEANDAINYA SAYA WALIKOTA TERNATE"

Oleh :

M. Syarif Tjan

(Pemerhati Lingkungan & Sosial)

Sebagai warga Kota Ternate, saya menaruh perhatian besar terhadap proses kontestasi demokrasi yang akan digelar pada 9 Desember 2015 nanti. Barangkali sebagian kecil warga Kota Ternate pernah memperhatikan baliho saya bersama Abraham Samad --mantan Ketua KPK, atau pernah membaca pemberitaan media lokal tentang keikut-sertaan saya dalam "fit and proper test" pada beberapa partai politik, atau pembicaraan non-formal saya di berbagai kesempatan tentang "kesediaan" saya untuk maju sebagai calon walikota Ternate.

Tentu, sebagian besar warga, atau mereka yang memahami tentang pribadi saya akan mengira saya sudah kehilangan akal sehat (rasionalitas) untuk bertarung "melawan" sejumlah tokoh-tokoh berpengaruh khususnya di Kota Ternate dalam pemilihan walikota. Saya pun tahu persis kapasitas dan kompetensi saya, tetapi disinilah, saya ingin menyampaikan, apa yang menjadi "makna" di balik baliho maupun "kesediaan"  saya meramaikan wacana bakal calon walikota tersebut.

Pertama, tidak dapat dipungkiri, Kota Ternate dalam beberapa tahun belakangan ini mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang cukup signifikan di bawah kepemimpinan Dr. H. Burhan Abdurahman, M.M. -- Ir. Arifin Djafar, M.Si. Tetapi, bukan berarti tanpa persoalan. Pada beberapa sisi, kita masih menyaksikan hadirnya masalah, berkaitan dengan penataan lingkungan perkotaan yang mungkin bagi saya masih memerlukan pembenahan. Keberadaan pasar dan terminal sebagai tampilan etalase kota perlu diinisiasi secara kreatif, yang bagi saya, mungkin saja pada tingkatan dinas operasional belum memiliki kemampuan menangkap visi Bahari Berkesan ke depan, sehingga penataan pasar dan terminal masih "asal kelola." Kota Ternate membutuhkan orang-orang yang cakap untuk mengatur kedua obyek vital tersebut.

Kedua, rentang perjalanan pemerintahan sejak Drs. H. Syamsir Andili hingga Dr. H. Burhan Abdurahman, Kota Ternate sama sekali belum memiliki "branding city", identitas sebuah kota yang dapat dihargai sebagai kota yang mampu memberikan nilai jual bagi peningkatan PAD. Kita masih berkutat pada persoalan-persoalan konvensional, yang dari periode ke periode tidak pernah berlanjut tetapi justru saling menyalip kebijakan.

Ketiga, Kota Ternate memiliki ruang wilayah yang amat terbatas, yang tentunya semakin didesak dengan pembangunan fisik, akan memberikan ekses dan pengaruh pada sisi yang lain. Karena itu, sudah semestinya dipikirkan penataan kota yang meluaskan ruang gerak warga secara berimbang. Sentralitas dan dinamika gerak hanya pada satu sisi, yakni Kota Ternate semata, dan mengabaikan ruang wilayah lain, akan melahirkan ketidak-seimbangan ruang kota di masa mendatang. Ini tentunya akan memicu makin bertumpuknya persoalan-persoalan perkotaan yang tidak diharapkan.

Keempat, pemanfaatan air bersih bagi warga di Kota Ternate makin berkurang. Ini tidak diikuti dengan langkah-langkah  konkrit untuk meningkatkan daya dukung air tanah (biopori). Persoalan air hari ini, mungkin akan dianggap sebagai angin lalu, tetapi dengan makin padatnya penduduk dan makin sesaknya pembangunan, kebutuhan air akan makin menjadi barang langka yang akan menimbulkan persoalan panjang. Pemerintah sudah harus berhitung pemanfaatan air bersih bagi warga di setiap pemukiman, maupun pemanfaatan air bersih pada setiap penginapan dan hotel di Kota Ternate. Setidaknya, diperlukan kebijakan dalam penggunaan air.

Mengukur Kompetensi

Bagi saya, pemilihan Walikota/Wakil Walikota Ternate 2015 sangat menarik dibanding dengan kabupaten/kota lain di Maluku Utara. Betapa tidak, suatu kebanggaan bagi warga  Kota Ternate, karena yang akan bertarung nanti, adalah calon walikota dengan latar pendidikan semuanya S3, atau doktor : Dr. Sudjud Siradjudin, MH;  Dr. H. Burhan Abdurahman, MM; Dr. Sidik D. Siokona, M.Pd; dan Dr. Abdurahman.

Memperhatikan para calon walikota dengan gelar doktor, akan memberikan harapan besar, bahwa empat persoalan Kota Ternate yang saya sampaikan di atas, mungkin akan sedikit berkurang. Karena keempat calon walikota ini memiliki visi, konsep, dan metode yang tepat untuk memberi jawaban atas persoalan kota.

Di sinilah kemudian, saya menyadari, seandainya kemarin saya lolos dalam pencalonan sebagai Walikota Ternate dan berada di antara keempat tokoh dengan latar pendidikan yang disebutkan di atas, betapa saya menjadi demikian tidak berarti apa-apa. Ibarat, semut di antara para gajah.

Tetapi kemudian saya lalu menyadari. Kemampuan dan kompetensi kepemimpinan seseorang tidak diukur dari latar belakang pendidikan yang disandangnya, namun dari karya nyata yang pernah dihasilkan, serta memberikan manfaat bagi orang banyak, itulah kepemimpinan.

Saya pun sedikit merenung, bahwa masing-masing orang tentu memiliki talenta kepemimpinan dan pikiran untuk bekerja sesuai dengan pilihan-pilihan nalurinya. Saya pun bertaruh dengan diri sendiri, sekiranya satu dari keempat calon walikota yang ada keluar sebagai pemenang, dan dalam lima tahun kemudian tidak mampu memecahkan persoalan kota ini, atau dengan kata lain tidak ada yang memberikan pengaruh bagi pembangunan Kota Ternate, berarti saya pun akan mulai berpikir  ulang untuk mengumpulkan koin-koin dari hasil kembalian beli rokok sebagai modal bertarung  menjadi calon walikota Ternate tahun 2020 nanti.

Saat ini, saya bersyukur, masih diberi kemampuan berkhayal dan berimajinasi dari Tuhan untuk menjadi orang yang dapat bekerja memperbaiki Kota Ternate. Sambil menikmati sebatang rokok, secangkir kopi, mengumpulkan sisa-sisa angan, lalu berhitung dan bertanya : "seandainya saya walikota Ternate, dari mana saya akan mulai bekerja?" Sisa kopi masih ada, diam-diam saya berpikir : memang tidak mudah menjadi pemimpin. Tidak sekadar punya semangat, punya dana, atau negosiasi partai politik, tetapi lebih penting, dapatkah mengurus diri orang lain? Sementara diri sendiri masih belum selesai diurus.....Hehehe tabea []