Seniya
Seniya

Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan, mungkin akan dilupakan atau untuk dikenang....

Selanjutnya

Tutup

Novel

Kisah Hakim Bao dan Para Pendekar Penegak Keadilan (Bagian 13)

17 April 2018   08:31 Diperbarui: 17 April 2018   21:47 542 0 0

KISAH HAKIM BAO DAN PARA PENDEKAR PENEGAK KEADILAN

BAGIAN 13 - TIKUS KELIMA MELAKUKAN TINDAKAN KSATRIA, DUA PENDEKAR BERBAGI UANG RAMPASAN

Zhan Zhao meninggalkan taman milik Pang dan kembali ke penginapannya pada waktu jaga kelima malam itu. Dengan diam-diam ia memasuki kamarnya dan melepaskan pakaian hitamnya yang kemudian ia bungkus dengan baik. Lalu ia berbaring dan tertidur. Keesokannya ia berpamitan dengan pemilik penginapan lalu pergi ke kantor gubernur untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam. Di dinding bagian luarnya terikat seekor kuda hitam dengan pelana dan tali kekang yang bersinar berkilauan; pada pelana kuda itu tergantung sebuah bungkusan kecil yang merupakan kantong berisi uang. Terdapat seseorang duduk di atas tanah di dekat sana sambil memegang cambuk. Ini menandakan bahwa Xiang Fu belum meninggalkan tempat itu. Zhan segera menuju rumah makan di seberangnya dan naik ke lantai atasnya untuk minum arak sambil mengawasi kondisi di sekitar kantor gubernur tersebut.

Tak lama kemudian Xiang keluar dari kantor gubernur. Orang tadi segera berdiri, menarik kuda tersebut, dan menyerahkan cambuk kepada Xiang yang kemudian naik ke atas kuda. Dengan satu cambukan ia pun pergi. Pendekar Selatan turun dari rumah makan itu lalu mengikuti Xiang secara diam-diam.

Mereka tiba di kota An Ping. Di sisi barat jalan terdapat sebuah rumah makan. Pada papan namanya bertuliskan "Toko Keluarga Pan". Xiang mengikat kudanya dan masuk ke dalam rumah makan itu. Zhan juga mengikutinya masuk ke dalam. Xiang duduk di sebuah kursi pada sisi selatan dan Zhan mengambil kursi pada sisi yang berlawanan. Setelah duduk, seorang pelayan membersihkan meja Zhan dan menanyakan makanan dan minuman yang akan dipesannya. Zhan memesan secara acak. Setelah menerima pesanannya, sang pelayan masuk ke dalam untuk menyiapkannya.

Zhan kembali mengamati sekelilingnya. Di sisi barat terdapat seorang kakek dengan wajah tanpa senyum sedang duduk. Kakek itu tampaknya seorang warga desa yang terpandang dengan penampilan yang sangat kasar. Tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan dan minuman yang dipesan Zhan dan meletakkannya di atas meja. Zhan baru saja meminum araknya ketika terdengar suara langkah kaki di tangga. Tampak seseorang mendekat; ia berpakaian seperti orang dunia persilatan, tampak gagah dan menawan, walaupun usianya masih muda ia tampak menakjubkan. Zhan tanpa sadar meletakkan cangkir araknya kemudian dalam hati memuji dan mengagumi pemuda tersebut.

Pemuda itu baru saja akan memilih tempat duduknya ketika melihat di sisi selatan Xiang Fu segera berdiri memberikan penghormatan kepadanya sambil berkata, "Saudara Bai, lama tidak berjumpa!" Sang pendekar muda membalas salam Xiang tanpa ragu dan berkata, "Saudara Xiang, bertahun-tahun kita tidak berjumpa. Hari ini aku senang bisa bertemu kembali denganmu." Setelah beramah tamah, mereka duduk pada meja yang sama. Xiang menyuruh pemuda itu duduk di kursi kehormatan; setelah menolaknya satu kali, sang pemuda akhirnya duduk juga.

Melihat hal ini, Zhan merasa sangat tidak senang dan berpikir, "Sayang sekali seorang pemuda seperti dia ternyata mengenal orang jahat seperti Xiang Fu. Padahal pembawaan mereka berdua sangat berbeda sama sekali." Kemudian ia mendengarkan apa yang dibicarakan keduanya dengan seksama.

"Sejak kita berpisah, tiga tahun telah berlalu. Telah lama aku ingin mengunjungi kediaman kalian untuk memberikan penghormatan, tetapi aku sangat sibuk. Bagaimanakah kabar kakakmu saat ini? Apakah ia baik-baik saja?" tanya Xiang. Pemuda itu mengerutkan alisnya dan sambil menghela napas menjawab, "Kakakku sudah meninggal dunia." "Bagaimana mungkin penolong hidupku bisa meninggal? Sungguh malang, sungguh malang!" seru Xiang yang kemudian mengatakan beberapa ucapan dukacita secara basa-basi.

Siapakah pemuda itu? Ia tak lain adalah ksatria kelima dari Pulau Xian Kong yang bernama Bai Yutang dengan julukan Tikus Berbulu Sutra. Mulanya Xiang Fu mempertunjukkan keahlian ilmu silatnya sambil menjual obat salep. Ketika sedang mempertunjukkan keahliannya, ia terlibat pertarungan dengan seseorang di jalan dan membunuh orang tersebut. Untungnya kakak Bai Yutang yang bernama Bai Jintang melihatnya mendapatkan tuntutan hukum atas kasus tersebut di kantor kabupaten merasa kasihan kepadanya.

Bai Jintang dengan susah payah menolongnya dan memberikan biaya perjalanan untuknya agar ia dapat pergi ke ibukota untuk mengadu nasib. Awalnya ia datang ke ibukota untuk mencari seseorang yang bisa ia jadikan batu loncatan agar mendapatkan kedudukan. Sangat kebetulan sekali dalam perjalanan ia bertemu dengan Bangsawan An Le yang sedang menuju Chenzhou untuk membagikan bantuan. Mengetahui hal ini ia mengubah arah perjalanannya dan akhirnya berteman dengan Pang Fu yang kemudian merekomendasikannya kepada Pang Yu. Saat itu Bangsawan Pang telah lama mencari seorang pendekar yang dapat membantunya melakukan penindasan terhadap rakyat. Sang bangsawan menyuruhnya tinggal di kediamannya. Xiang pun mendapatkan banyak kehormatan yang sesungguhnya tidak pantas bagi orang rendahan seperti dirinya.

Ketika Xiang dan Bai sedang berbincang-bincang, datanglah seorang kakek yang berpakaian lusuh dan kurus kering mendekati kakek yang sebelumnya duduk di sisi barat. Kakek yang berpakaian lusuh itu bersujud kepada kakek yang pertama kali datang tersebut dengan mata berlinang air mata dan mulutnya memohon dengan iba. Namun kakek yang duduk itu tampak menolak dengan menggelengkan kepala. Melihat hal ini, Zhan yang duduk di sana merasa tidak tahan. Ketika ia baru saja ingin bertanya, Bai datang dan bertanya kepada kakek itu, "Kenapa anda melakukan hal ini? Ada masalah apakah? Katakanlah padaku."

Melihat penampilan Bai yang menakjubkan dan luar biasa, kakek itu menjawab, "Tuan muda tidak mengetahui keseluruhan kisah ini. Karena hamba berhutang kepada tuan tanah, tuan tanah ingin mengambil putri hamba sebagai pelunasannya. Oleh sebab itu hamba memohon kepada tuan tanah agar tidak melakukannya, tetapi ia menolak. Mohon tuan muda membantu saya menengahi masalah ini." "Kakek berhutang berapa?" tanya Bai sambil menatap kakek tuan tanah yang sedang duduk itu.

Melihat Bai menatapnya dengan wajah marah, sang tuan tanah pun menjawab, "Sebenarnya ia berhutang kepadaku sebanyak lima uang perak, tetapi selama tiga tahun ia belum membayar bunganya sebesar tiga puluh uang perak sehingga totalnya menjadi tiga puluh lima uang perak." Bai dengan mencibir berkata, "Jadi, mulanya ia berhutang lima uang perak dan sekarang setelah tiga tahun bunganya sebesar tiga puluh uang perak? Bunga ini sesungguhnya tidak seberapa." Lalu ia menyuruh pelayannya mengambilkan tiga puluh lima uang perak.

Ia bertanya kepada tuan tanah itu, "Pada waktu itu apakah ada surat perjanjian utangnya?" Mengetahui uangnya akan dikembalikan, sang tuan tanah dengan sangat senang bangkit dari tempat duduknya dan berkata, "Ada." Lalu ia mengeluarkan sepucuk surat dari kantong dadanya dan memberikannya kepada Bai. Setelah melihat surat itu, Bai menyerahkan uang yang dibawakan pelayannya kepada sang tuan tanah. Kemudian ia berkata, "Hari ini di depan semua orang, uang dan surat perjanjiannya telah diserahkan sehingga tidak ada hutang lagi."

Setelah menerima uang itu, tuan tanah tua tersebut dengan tertawa gembira berseru, "Tidak ada hutang lagi! Tidak ada hutang lagi!" Kemudian ia memberikan penghormatan dengan mengangkat tangannya dan segera pergi meninggalkan rumah makan tersebut. Bai menyerahkan surat hutang itu kepada sang kakek lalu berkata, "Dengan bunga setinggi ini, kelak kakek jangan meminjam uang dari orang itu lagi." "Aku tidak akan berani meminjam lagi," kata kakek itu sambil bersujud sampai kepalanya menyentuh tanah. Kemudian Bai kembali ke tempat duduknya dan sang kakek mengucapkan beribu-ribu terima kasih sebelum akhirnya pergi.

Ketika kakek itu melewati meja di mana Zhan sedang duduk, Zhan memanggilnya, "Kakek tidak perlu terburu-buru. Di sini ada arak, minumlah secangkir untuk menenangkan dirimu. Ini tidak akan membuat kakek terlambat." "Aku bahkan tidak mengenal anda, Tuan. Bagaimana aku bisa menerima kebaikan anda?" jawab sang kakek. "Orang yang melunasi hutang kakek tadi, jangan katakan ia tidak menawari kakek secangkir air pun. Jangan anggap aku orang lain, silakan duduk." "Baiklah, aku sangat berhutang budi kepada Tuan." Sang kakek pun duduk di sana.

Zhan memesankan untuk kakek itu satu kendi arak lagi lalu bertanya, "Siapakah nama tuan tanah tua tadi? Di manakah ia tinggal?" "Ia tinggal di desa keluarga Miao dan bernama Miao Xiu. Karena putranya Miao Hengyi bekerja sebagai pegawai pemerintah di kantor gubernur. Ia memanfaatkan jabatan anaknya untuk menipu sesama penduduk desa dengan mengambil keuntungan dari bunga pinjaman yang tinggi. Bukan karena ia telah menipuku sehingga saya mengatakan ucapan yang penuh kebencian tentang dirinya. Jika tidak percaya, Tuan bisa bertanya kepada orang-orang di sini. Tuan akan tahu bahwa perkataanku bukan bualan." Zhan mendengarkan cerita sang kakek dengan seksama. Setelah menghabiskan beberapa cangkir arak, kakek itu pun pergi.

Kemudian Zhan kembali mendengarkan pembicaraan Bai dan Xiang tentang perkembangan terakhirnya. Xiang berkata, "Aku sangat berterima kasih atas kebaikan kakakmu yang telah menyelamatkanku dan memberiku uang agar aku bisa pergi ke ibukota mengadu nasib. Tak disangka dalam perjalanan aku bertemu dengan Bangsawan An Le yang kemudian mempekerjakanku. Sekarang aku ditugaskan secara khusus untuk pergi ke kota Tianchang guna melaksanakan hal yang sangat penting." "Bangsawan An Le yang manakah?" tanya Bai. "Mungkinkah ada dua orang Bangsawan An Le? Ia tak lain adalah putra Guru Besar Pang, Pang Yu," jawab Xiang dengan bangga.

Jika Bai tidak menanyakannya, mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Namun setelah mendengarnya Bai menjadi sangat marah. Dengan muka memerah sampai ke telinga, ia sedikit tertawa sambil berseru, "Beraninya engkau bekerja untuk mereka! Baiklah!" Ia segera menyuruh pelayannya membayar tagihan kemudian langsung pergi meninggalkan rumah makan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2