Mohon tunggu...
Taufiq Febrianto
Taufiq Febrianto Mohon Tunggu...

belajar, berkembang, dan berkontribusi

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

"High Risk High Return"?

19 November 2015   17:43 Diperbarui: 19 November 2015   19:30 1270 4 2 Mohon Tunggu...

Ilustrasi - risiko berinvestasi (Shutterstock)

Sebuah istilah dalam perekonomian yang sering kita dengar, tepatnya dalam dunia investasi. Investasi merupakan upaya penanaman modal untuk menghasilkan keuntungan di masa mendatang. Sebuah upaya yang didorong oleh kebutuhan akan masa depan karena ketidakpastian dan hal-hal tak terduga dalam hidup.

Investasi inilah yang kemudian berkaitan dengan teori mengenai risiko-pengembalian, high risk high return, perhitungan risiko menjadi dasar dalam pengambilan keputusan berinvestasi untuk mengharapkan pengembalian yang sesuai di masa depan. Dalam konteks efficient market, hubungan antara risk-return dengan investasi bersifat linier, untuk mendapatkan return investasi yang tinggi, risiko yang diambil juga tinggi, sedangkan risiko rendah berarti tingkat pengembalian atau hasil yang rendah juga.

Implementasinya dapat terlihat pada instrumen investasi. Setidaknya terdapat tiga contoh (banyak instrumen investasi lainnya) bentuk investasi dengan perkiraan risiko dan pengembaliannya; deposito, obligasi, dan saham. Deposito -sebagaimana yang telah dikenal oleh mayoritas- merupakan instrumen investasi yang dikeluarkan oleh bank. Sistemnya adalah investor memberikan pinjaman dana kepada bank dengan imbalan bunga atas nilai pokok pinjaman, tentunya dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Sedangkan obligasi -surat utang- mirip deposito namun bukan produk bank melainkan pemerintah atau perusahaan. Bedanya, deposito jangka pendek sedangkan obligasi jangka panjang dan bisa diperdagangkan di pasar. Untuk saham -juga telah dikenal mayoritas- merupakan instrumen investasi berisiko tinggi, namun banyak diminati karena potensi hasilnya yang juga tinggi. Bagaimana dengan potensi dan peluang keuntungannya dibandingkan dengan risiko masing-masing?

  • Deposito - instrumen investasi berisiko rendah, namun juga dengan tingkat pengembalian (keuntungan) yang rendah.
  • Obligasi - instrumen investasi berisiko sedang, namun juga dengan tingkat pengembalian (keuntungan) yang sedang.
  • Saham - instrumen investasi berisiko tinggi, namun juga dengan tingkat pengembalian (keuntungan) yang tinggi.

Tentu faktor risiko dan pengembalian dipengaruhi oleh banyak hal, sedangkan gambaran di atas hanya sepotong cuilan singkat mengenai gambaran contoh instrumen investasi. Sebenarnya, apa yang ingin disampaikan ini bukan tentang risiko dan pengembalian dalam investasi atau penanaman modal, namun hanya berbicara tentang risiko, ya, RISIKO. Mungkin bisa dikomparasi atau di-andai-kan dengan konteks perekonomian, namun istilah high risk high return tadi saat ini dipinjam sesaat untuk menggambarkan sepotong dinamika kehidupan.

Risiko. Dalam KBBI dimaknai sebagai akibat yang kurang menyenangkan, merugikan, atau membahayakan -hal negatif- dari suatu tindakan. Kurang lebih sama jika dikaitkan dengan dunia investasi, risiko dapat berarti hilang atau berkurangnya modal yang ditanamkan dan tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan untuk masa depan.

Dalam hidup, risiko berarti kemungkinan adanya suatu efek samping yang dapat terjadi ketika sebuah tindakan atau keputusan diambil. Bukan modal yang berkurang atau hilang, namun bisa berbentuk hal-hal lain yang lebih umum; seperti kenyamanan, pertemanan, lingkungan, ataupun hal-hal lainnya. Sedangkan, dalam menata atau menjalani hidup untuk mencapai masa depan kita tidak akan pernah bisa terlepas dari yang namanya pengambilan keputusan.

Sehingga pertanyaannya saat ini adalah “mau diapakan risiko itu?”

Dalam investasi, risiko tidak bisa dihindari namun bisa diminimalisir dengan strategi diversifikasi seperti ungkapan yang sering kita dengar, “don’t put all eggs in one basket”. Untuk menghasilkan keuntungan di masa mendatang, investasi menjadi pilihan dan risiko yang ada diambil kemudian disiasati sedemikian rupa agar tidak merugikan. Sama halnya dalam hidup, untuk mencapai masa depan yang “tidak biasa” perlu ada keputusan yang diambil, risiko akan selalu ada dan mau tidak mau harus dihadapi.

Risiko mungkin bisa dihindari, namun apakah akan selalu dihindari? Sampai kapan akan seperti itu? Risiko ada untuk dihadapi, dengan segala bentuk mitigasinya. Mungkin terkadang memang terdapat pilihan, jika ada yang mudah kenapa harus ambil yang susah. Tentu semua dengan konsekuensi apa yang akan didapatkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x