Mohon tunggu...
Yakobus Molo Dini
Yakobus Molo Dini Mohon Tunggu... Data Diri

Berjalan sambil Menuai

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Intelejen Negara Lemah, Wiranto Ditusuk

10 Oktober 2019   22:49 Diperbarui: 10 Oktober 2019   22:59 0 3 1 Mohon Tunggu...
Intelejen Negara Lemah, Wiranto Ditusuk
Dok. Breaking News kompas

 

Sangat disayangkan seorang pejabat negara yang tengah menjalankan tugas negara tanpa pengawalan ketat dari semua alat negara di negara khususnya intelejen negara yang sulit mendeteksi keberadaan para pelaku yang menggangu negara. 

Akibatnya berbagai kasus yang bermunculan dan mengobrak-abrik keamanan negara. Kasus-kasus seperti bom Bali, Kasus bom bunuh diri di beberapa gereja di surabaya sampai seorang pejabat negara, Wiranto di tusuk dekat mobil dan pada saat itu ada polisi, dan tentara tetapi pelaku mudah menyusup masuk dikerumunan orang.

Kejadian penusukan wiranto di Pandeglang Banten pada kamis siang (10/10/2019) menunjukan bahwa intelejen negara tidak serius dalam menjalankan tugas yang menyebabkan seorang pejabat negara yang harus dilindungi terluka. 

Pada hemat saya bahwa kalau para intelejen negara ini betul menjalankan tugas secara baik dan benar dalam mencium, mengikuti dan mendeteksi setiap pelaku yang bakal berulah dengan tindakan kewaspadaan maka tentu saja tidak terjadi penusukan kepada diri Wiranto. Maka saya bisa katakan bahwa penusukan terhadap Wiranto adalah pembiaran.

Kalau pelaku merupakan jaringan ISIS kaum radikalisme yang terdeteksi oleh polisi dan intelenjen negara maka kemanapun pindah kaum radikalisme itu tetap menjadi pantauan intelenjen bukan dibiarkan tanpa kawalan ketat. Seperti dilansir dari kompas.com; polri menginformasikan bahwa pelaku penyerangan wiranto terpapar radikalisme. 

"Diduga pelaku terpapar radikalisme, nanti kita coba dalami apakah SA masih punya jaringan JAD Cirebon atau JAD lain di sumatra", Dedi dalam jumpa pers di Jakarta, kamis (10/10/2019). Ini berarti intelenjen negara tengah tidur. Biarkan terjadi dulu baru mendalami masalah bukan mengolah masalah dulu agar tidak terjadi masalah. 

Seharusnya intelenjen negara sudah mendalami sekitar 500 lebih anggota ISIS yang sudah digembleng oleh ISIS dan kembali ke indonesia dengan keberadaan dimana saja sudah diketahui.

Apakah anggota intelejen negara ini tidak sebanding dengan anggota Isis. Sehingga anggota intelejen negara tidak mampu mendeteksi jaringan Isis. Ataukah anggaran tidak cukup untuk para intelejen yang menjalankan tugasnya.

Mengapa saya harus mengatakan bahwa intelejen negara lemah dalam melaksanakan tugasnya? Tentu ada beberapa hal yang pada dasarnya saya uraikan terutama berhubungan dengan penusukan terhadap Wiranto yaitu :

  • Beberapa hari sebelum seorang pejabat negara menuju wilayah atau lokasi tugas maka intelejen sudah harus mendeteksi bahwa wilayah yang ditujui tersebut aman dan terkendali.
  • Sekitar lokasi kejadian ada keamanan tetapi pelaku bersama istrinya bisa menyusup masuk dengan membawa alat tajam untuk mencelakakan Wiranto. Padahal mencelakakan wiranto sama dengan mencelakakan negara.
  • Kalau hemat saya ajudan wiranto lemah dalam melindungi diri wiranto sebagai pejabat negara saat kejadian. Sebenarnya wiranto tidak terkena tusukan tetapi ajudan yang melindungi diri wiranto sebagai pejabat negara.
  • Sebenarnya dugaan intelejen akan keberadaan kedua pelaku sudah dideteksi. Sehingga pantauan dan penjagaan ketat sudah dilakukan dilokasi kejadian. Maka kejadian yang melukai pejabat negara sesungguhnya tidak terjadi pada diri wiranto. Berdasarkan empat point tersebut maka intelejen negara harus ditatar lebih baik dan dilengkapi peralatan yang cukup memadai dalam mendeteksi dan mengolah informasi tentang para pengganggu negara yang radikal. Tentu saja kejadian yang dialami Wiranto saat kunjungan kerja dan acara peresmian gedung baru Pondok Pesantren Mathla'ul Anwar di wilayah Menes, Pandeglang Banten cukup memilukan bangsa ini. Dan rakyat indonesia yang ingin hidup damai, aman dan tentram mengutuk kejadian yang menimpa diri Wiranto dalam tugasnya tersebut. Adapun pemikiran lain bahwa para Menteri yang berhasil dalam tugasnya harus dilumpuhkan dan dicelakakan agar mereka tidak lagi diangkat menjadi Menteri pada periode ke-2 Jokowi memimpin negara ini. Bahkan dengan menciptakan berbagai kejadian atau masalah maka fokus pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang sedianya pada tanggal 20 oktober ini akan gagal.

Tentu pemikiran-pemikiran ini menguji kelihaian intelejen negara untuk bekerja ekstra ketat memantau, mendeteksi dan mengawal para pejabat negara agar tidak terulang lagi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x