Mohon tunggu...
Moko Kusdiarto
Moko Kusdiarto Mohon Tunggu... The true writer has nothing to say. What counts is the way he says it

No walking stick is needed to wander the wild of the mind, the high country of the heart.

Selanjutnya

Tutup

Film

"Departures" Hidup dari Kematian

8 April 2021   08:33 Diperbarui: 8 April 2021   08:38 153 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Departures" Hidup dari Kematian
Sumber Gambar: imdb.com

Pada era modern saat ini, pandemi virus Covid-19 barangkali akan dikenang sebagai tahun-tahun kematian.  Benar bahwa setiap saat niscaya memang ada kematian, namun amplifikasi jumlah korban meninggal akibat pandemi virus Covid-19 seolah terus bergema pada kesadaran kita.

Ada berbagai konsep dan pandangan tentang kematian, tapi rasanya tak ada yang berani menyatakan diri ahli kematian. Tak sedikit filosof berusaha mendedah makna kematian. Ernest Cassirer, misalnya, menyatakan bahwa  kematian merupakan fakta alamiah yang bersifat individual sekaligus sosial. “Ketakutan akan kematian tidak diragukan lagi adalah salah satu naluri paling umum dan paling mengakar yang dapat ditemukan pada diri manusia," seru Cassirer.

Kematian itu menakutkan. Tak heran orang cenderung berpaling menghindari kematian. Namun demikian ada juga sosok yang akrab dengan kematian, bahkan hidup dari kematian orang lain. Kesan itu yang terbersit dalam Departures, film yang memenangkan Academy Award kategori Film Asing Terbaik 2009.

Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) tadinya seorang cellist (pemain cello) sebuah grup orkestra di Tokyo, Jepang. Sesudah sang pemilik  membubarkan grup orkestranya, Daigo bingung bagaimana harus mencari sandaran hidup. Pilihan terbaik adalah kembali ke Yamagata tinggal di rumah warisan ibunya. Keputusan ini didukung oleh Mika (Ryoko Hirosue), istrinya.

Daigo menjajal peruntungan dengan melamar pada perusahaan NK Agency, yang dia kira sebuah agen perjalanan wisata. Dalam lowongan iklan NK Agency  menyebut bidang usahanya dengan kata "Departures".

Daigo kemudian tahu bahwa NK Agency bergerak di bidang usaha "pemberangkatan jenazah", tepatnya memandikan dan merias jenazah orang yang sudah meninggal. Dirinya gamang untuk menerima tawaran pekerjaan ini. Tetapi mengingat gaji yang diperoleh terhitung besar, Daigo akhirnya mengambil kesempatan ini.

Sebagaimana jamaknya penyesuaian diri dengan pekerjaan baru tidaklah mudah, itu juga dialami Daigo. Bagaimana tidak, ia harus memandikan jenazah orang yang sudah dua pekan meninggal. Orang Jepang menyebutnya dengan istilah "Kodokushi". Suatu fenomena meninggal sendirian yang sekarang banyak terjadi di Jepang.

Dengan tuntunan mentor Sasaki, sang boss, akhirnya Daigo mampu melakoni profesi ini dengan baik. Ia menjadi sosok yang ahli kematian.

Menyaksikan proses memandikan jenazah dalam budaya Jepang, tak terbayang rasa takut dan jengah. Seperti upacara minum teh ala Jepang yang penuh seni dan penghayatan--bukan sekadar menuang dan meneguk teh dengan rakus--proses memandikan jenazah merupakan upacara pemberangkatan terakhir menuju kehidupan berikutnya.

Bagi saya upacara ini sangat mulia lantaran menjadi kenangan terakhir dengan orang yang ditinggalkan. Walaupun begitu anggapan orang terhadap profesi Daigo cenderung negatif. Yamashita (Tetta Sugimoto), teman masa kecil Daigo menasihatinya agar ia mencari pekerjaan lain yang lebih pantas di mata masyarakat.

Begitu pula sesudah Mika mengetahui pekerjaan Daigo sesungguhnya, ia mengultimatum memilih istri atau pekerjaan. Daigo tetap keukeuh bertahan dengan profesinya karena menurutnya memandikan dan merias jenazah adalah panggilan tugas mulia,  bukan lagi perkara gaji yang besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x