Mohon tunggu...
Moh Syahri
Moh Syahri Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jangan Ragukan Ke-NU-an Orang Madura

9 Agustus 2018   12:53 Diperbarui: 9 Agustus 2018   13:12 0 0 0 Mohon Tunggu...
Jangan Ragukan Ke-NU-an Orang Madura
Kumparan.com

Sebagai orang Madura yang cinta dan bangga dengan tanah dan pulau kelahiran rasanya gak terima jika ada tokoh figur asal madura dikerdil-kerdilkan. Apalagi ke NU annya masih diragukan.

Sekaliber Mahfud MD masih diragukan ke NU annya, ya perlu di pertanyakan juga dari mana dia tau kalau pak Mahfud bukan orang NU. Beliau memang bukan orang NU struktural, karena beliau tidak pernah masuk dalam list direksi PBNU baik cabang maupun ranting.

Tapi saya yakin seyakin-yakinnya beliau adalah orang yang tulus, cinta dan bangga dengan NU yang selama ini membesarkan beliau lewat keluarganya. Jadi apa yang salah dengan ke NU an Mahfud MD, dia orang NU kultural.

Kebanyakan orang Madura itu memang NU nya itu NU kultural. Sebab jika semua harus jadi pengurus atau masuk dalam NU struktural maka kursinya gak cukup, kalaupun cukup bisa jadi chat biru kebanggaannya gak cukup, maka harus ada yang mengalah. Bukan kalah tapi mengalah, sebab orang NU itu gak pernah memikirkan kalah ataupun menang. Camkan....

Bukan karena kakek dan buyutnya orang NU, sampai ke bawah pun Mahfud MD tetap orang NU. Bagi saya mau NU struktural maupun kultural selama dia punya rasa hormat dan rasa memiliki, merawat dan ngopeni terhadap organisasi terbesar ini maka tetaplah orang NU.

Gusdur saja gak pernah mempermasalahkan ke NU annya pak Mahfud. Mbak Yeni putri Gusdur saja mengatakan bahwa Mahfud MD adalah orang NU yang tulen, orang NU asli, saya jamin, sebab dia sering bertemu saya di acara-acara NU. Bahkan boleh jadi orang se-Madura mulai dari Bangkalan sampai Sumenep pun gak akan pernah meragukan ke NU annya pak Mahfud. Terus apalagi yang mau diragukan dari ke NU an Mahfud MD.

Jika karena tidak masuk dalam daftar kepengurusan NU lantas diklaim sebagai orang yang bukan NU, saya pikir itu alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Maka perlu rasanya membaca kembali serta menghayati betul apa yang dipesankan KH. Hasyim Asy'ari " Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya do'akan husnul khotimah beserta anak cucunya"

Kata "mengurusi" dalam pesan beliau tentu tidak harus masuk dalam kestrukturannya,  sebab tidak semuanya orang yang masuk struktur organisasi lantas ia bisa mengurus organisasinya dengan baik dan benar. Maka dari itu, kata "mengurusi" itu bisa dalam segala aspeknya, melestarikan budayanya, amalannya, dan norma-normanya.

Saya kadang ketawa ngakak sambil terheran-heran, saat bertanya kepada orang Madura di pelosok desa saat tahlilan " sampean tahlilan ini ikut siapa?" Gak tau cong, saya ini ikut orang tua dulu, orang tua mengajarkan saya suruh tahlilan dan terus melestarikan amalan-amalan seperti ini", terus saya tanya lagi: lho orang tua sampean ikut siapa? Katanya Ikut gurunya.

Jika saya timbali pertanyaan lagi maka jelas akan terkesan tidak sopan bagi orang Madura, maka saya sudahi pertanyaan sampai disitu saja.

Praktek-praktek seperti ini yang seharusnya menjadi landasan ke NU an kita, bukan simbol sublimatik yang cenderung artifisial. Orang Madura memang kebanyakan bingung ketika ditanya "sampean NU  apa Muhammadiyah?" Karena mereka kebanyakan hidup dalam keterbatasan ruang dan waktu, tapi gak perlu diragukan praktek sosial ke NU annya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2