Mohon tunggu...
Mohamad Akyas
Mohamad Akyas Mohon Tunggu...

Ilmu Falak 2014 - Fakultas Syariah dan Hukum - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Waspada Riya saat Menolong Orang!

15 Desember 2016   15:33 Diperbarui: 15 Desember 2016   15:40 62 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Waspada Riya saat Menolong Orang!
Sumber: http://dais1079fm.com/

Suatu rutinitas yang kemudian berkurang frekuensinya maupun berganti ritme waktunya lalu tiba-tiba bernostalgia dengan rutinitas tersebut menjadi hal menarik tersendiri, setidaknya bagi saya. Pagi ini, dan entah beberapa pagi sebelumnya saya menyetel frekuensi Radio Dais, 107.9 Mhz. Pengajian pagi menyambut hangatnya suasana dengan makna jawa yang selalu mengingatkan saya kepada para Kyai-Nyai dan ustadz-ustadzah di Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin Pekalongan. 

Bedanya dulu sekuat tenaga menahan kantuk namun sia-sia, tetap saja tumbang. Sekarang malah berbalik seratus delapan puluh derajat. Sehabis shalat shubuh yang biasanya rasa kantuk hebat menyerang begitu hebatnya, terkalahkan oleh pengajian yang disiarkan ini. Bahkan, teman satu kamar yang sedari tadi dibangunkan tetap menggeliat, saat didengarkan pengajian seketika memasang telinga. Mendengarkan dengan seksama, mengumpulkan sisa-sisa nyawa untuk bangkit.

Kajian pagi ini adalah Hadits, yang entah kenapa saya begitu rindu dengan pengajian yang sama saat di PPRM.  Hadits yang dibacakan adalah tentang tolong menolong sesama sudara muslim. Mungkin tema ini sudah sangat sering kali berulang-ulang diajarkan. Akan tetapi, dari penjelasan yang selama ini saya dapatkan ternyata belum sampai menyentuh hati saya (atau mungkin saya yang bebal tidak mempan diberi pelajaran).

Menarik sekali untuk dipikirkan, bahwa ketika ketika menolong orang lain biasanya kita berpikir bahwa suatu saat nanti kita berharap timbal balik dari orang yang kita tolong. Tidak usah jauh-jauh contohnya, saya misalnya membantu meminjami uang kepada teman dengan harapan saat saya membutuhkan uang teman tersebut dapat meminjami balik uang kepada saya. Barangkali tidak hanya saya saja yang berasumsi sama seperti itu (saya yakin ada pembaca yang tidak seperti saya dan kebanyakan orang lain).

Hal yang mengagetkan setelah saya menderngarkan pengajian, bahwa perilaku tersebut dikategorikan dalam bentuk Riya! Nah lo. Sambil mengernyitkan dahi, membuat pertanyaan sendiri dalam hati, Eh, masak sih? Benar, hal tersebut adalah riya karena berbuat baik dengan harapan dilihat, dinilai baik oleh orang lain. Inilah yang selama ini tidak saya pikirkan. Jadi, selama ini saya ketika saya membantu orang lain hanya berharap timbal balik dari orang tersebut.

Lalu bagaimana seharusnya? ---Sebelumnya disini saya bukan bermaksud menggurui, hanya menyampaikan apa yang saya tangkap dari pengajian tadi pagi. Adakalanya yang saya tulis ini benar namun juga dapat mengandung kesalahan.--- Jadi seharusnya perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain semata-mata hanya dilandasi karena Allah Ta’ala. Karena apa? 

Allah SWT lah yang nantinya akan memutuskan seluruh kejadian untuk semua. Boleh jadi kita ditolong oleh orang, cara dan bentuk yang berbeda, juga mungkin tertolong oleh diri sendiri karena Allah memudahkan perkara yang kita alami dan banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang tentu tidak dapat dijangkau oleh akal manusia biasa.

Satu pelajaran yang dapat dipetik adalah tetaplah berbuat baik, sekecil apapun itu. Yakinlah bahwa dengan berbuat baik kepada orang lain, lingkungan dan alam maka sesungguhnya kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri. Mungkin sekarang kita tidak merasakan langsung dampaknya, tapi percayalah suatu saat nanti jika sudah mengerti baru akan terasa. Jadi, marilah berbuat baik kepada sesama dan saling mengingatkan satu sama lain untuk menuju kebaikan. Semoga bermanfaat.

VIDEO PILIHAN