Mohon tunggu...
Moch Wingga N
Moch Wingga N Mohon Tunggu...

I’m curious about our planet. Meet interesting people, challenge me, see amazing things, explore the world, and learn as much as a can! semua akun: @mochwingga dan blog: http://bit.ly/1nJdrEL

Selanjutnya

Tutup

Politik

Anies Baswedan, Pemimpin dan Mantra Perubahan

8 Maret 2018   20:05 Diperbarui: 9 Maret 2018   09:05 0 0 0 Mohon Tunggu...
Anies Baswedan, Pemimpin dan Mantra Perubahan
pemimpin-dan-mantra-perubahan-5aa1ec40dcad5b1d101be8f2.png

Kita pasti sudah mahfum,bila cerita tentang reformasi birokrasi bukanlah sesuatu yang baru. Sejak tahun98 silam, ketika negeri ini riuh dengan teriakan reformasi, kisah reformasi birokrasi menjadi inti dari semua spirit perubahan yang diinginkan oleh semua lapisan masyarakat negeri ini.

Lalu sekarang, sudahkah cerita tentang implemetasi reformasi birokrasi itu menjelma menjadi suatu yang lebih nyata? Sudahkan kisah itu kini berbuah menjadi tindakan yang dengan kasat mata terlihat dan terasakan hasilnya? Rasanya belum seluruhnya. Lantas dimana masalahnya?

Dalam banyak kisah tentang perubahan, hampir selalu memunculkan tokoh atau figur sentral yang menyebabkan suatu gagasan perubahan itu terimplementasi secara nyata. Singkatnya, perubahan hanya dimungkinkan, bila ada figur yang menyuarakan gagasan perubahan itu, menggerakannya, dan memberikan contoh dalam memungkinkan perubahan itu terjadi.

Kisah yang sama, mestinya juga terjadi dalam upaya implementasi reformasi birokrasi. Peran pemimpin, menjadi kunci keberhasilan dari upaya itu. Masalahnya adalah, bagaimana pemimpin mampu memposisikan diri untuk kepentingan itu? Dalam pandangan saya, sekurangnya ada tujuh kekuatan yang perlu ada dalam diri seorang pemimpin yang harus berperan untuk implementasi Reformasi Birokrasi.

Pertama,dia harus memiliki potret keadaan birokrasi setelah reformasi itu dilakukan. Kreatif memikirkan sendiri dan komparatif.Imajinasi itu menjadi mimpi milik bersama yang harus diwujudkan bersama-sama.

Kedua,figur yang harus siap bertarung atau bertentangan dengan kultur yang selama ini ada dalam demokrasi.

Ketiga,memiliki kemampuan untuk menerjemahkan kerumitan konsep ke dalam bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

Keempat,harus peka dan mampu memberi penghargaan terhadap pencapaian yang dihasilkan.

Kelima,harus memposisikan dukungan sebagai aset bagi pencapaian sebuah perubahan.

Keenam,harus terus belajar dan terbuka terhadap gagasan-gagasan baru, sekalipun gagasan itu datang dari mereka yang dari sisi hirarki berada dibawahnya.

Ketujuh,harus mampu membangkitkan rasa kepemilikan pada setiap orang yang diajak dan terlibat dalam proses reformasi demokrasi.

-AB