KANG NASIR
KANG NASIR profesional

Orang kampung, tinggal di kampung, ingin seperti orang kota, Yakin bisa...!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kisah Orang Ngga Waras

11 September 2017   16:44 Diperbarui: 11 September 2017   16:49 187 0 0
Kisah Orang Ngga Waras
Ngga waras. Dok.Pribadi

Di sekitar rumah saya,  adalah tempat mangkal orang yang kerjanya luntang lantung, berpakaian kumel dan tak pernah mandi. Makanpun tidak ada yang ngirim, ada saja makanan yang ia bawa, entah diperoleh dari tempat sampah dimana, pagi berangkat, siang atau sore sudah kembali lagi, tempatnya kadang di emper samping rumah, kadang di emper warung yang saya kontrakkan. 

Sesekali ia minta rokok ke saya dengan bahasa isyarat sambil tersenyum. Namun terkadang ada juga yang suka usil, diminta untuk pindah,tanpa banyak bicara, ia pergi, tapi malam hari sudah kembali lagi, orang yang melihat, taunya orang ini adalah orang gila alias orang tidak waras.

Suatu hari, saat gerimis rintik rintik, ia duduk santai disamping teras warung, tiba tiba datang seseorang, panggilannya Koper, nama aslinya saya tidak tau. 

Si Koper rupanya agak terganggu juga dengan adanya orang yang kumel ini, lantas menghampiri sambil berkata,

"Kamu ini orang gila, pergi sana", kata si Koper.

Orang yang dipanggil gila, tidak bergeming, malah tersenyum kepada Koper. 

Lantaran tidak bergeming, Koper membentak,

"Dasar gila, kamu punya telinga ngga, ayo pergi sana", 

Tentu saja, bagi orang yang dianggap gila ini, bentakan apapun tidak berpengaruh, boleh dibilang tidak ada takutnya. Si Koper tambah penasaran, nada bicaranya sudah mulai keras, 

"Sompret kamu ini, dasar ngga waras, Siapa nama kamu...!", bentak si koper sambil menakut nakuti dengan gagang sapu yang ia ambil dari depan warung.

Ditanya nama, si gila kelihatan tambah bingung, mungkin dalam pikirannya, apa hubungannya dengan nama segala. Si gila malah dengan asyiknya nyulut puntungan rokok yang didapat dari usaha jerih payah memungut dari sembarang tempat.

"Kamu ini punya mulut engga, ditanya nama tidak jawab, punya telinga tapi tak mendengar, disuruh pergi malah enak enak nyulut rokok, huuuuuuuuh dasar wong edaaan", kata koper gemes sambil menakut nakuti dengan gagang sapu.

Karena merasa terdesak, si gila kali ini sepontan menjawab dengan bahasa Jawa Banten.

"Sire seng edan (kamu yang gila)", kata si gila.

"Aih ternyata bisa ngomong, apa kamu bilang, saya gila...?" gerutu koper.

"Iye, sire seng edan, due kuping cuma ngerokokaken ocehan wong seng ore bener, due aran gawe aran palsu (iya kamu yang gila,punya telinga hanya untuk mendengar omongan orang yang ngga bener, punya nama bikin nama palsu",

"Gustiiiiiii tak pukul kamu", ancam koper.

Si gila tak peduli, terus saja nyerocos,

"Due cangkem, cuma guna nyewoti wong, guna ngoceh sebadeg, ngewadani wong, gawe fitnah doang (punya mulut hanya untuk mencaci maki orang lain, hanya untuk ngomongin orang bikin fitnah)", gumam si gila selanjut.

Kali ini kesabaran koper sudah hilang, gagang sapu dipukulkan. Si Gila ahirnya bangun dan bergegas pergi. 

Beberapa meter kemudian ia balik menghadap kearah si koper sambil mengangkat tangan menunjukkan telunjuk dan memiringkannya didepan jidatnya memberikan tanda miring sambil berteriak;

"Edaaaaaaaan".

Si Koper geram, mau nguber takut dikatain ngga waras.

Jadi siapa yang ngga waras ya.....