Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membaca Kembali Konsep Diri sebagai Seorang Guru

1 Desember 2019   08:21 Diperbarui: 1 Desember 2019   08:20 38 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membaca Kembali Konsep Diri sebagai Seorang Guru
Dokumen pribadi

Kehadiran seorang Nadim di dunia pendidikan memang sebuah anomali tersendiri. Orang yang tidak pernah terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam dunia pendidikan, serta merta menjadi orang pertama di dunia tersebut. 

Tapi, justru beginilah perubahan akan terjadi.  Orang orang yang sudah terlalu lama bergelut di dunia pendidikan, malah sudah terlalu nyaman dan tenteram sehingga tak mampu lagi melihat jika di dunia pendidikan persoalannya sudah terlalu sangat amat parah. 

Nadiem hadir dengan pikiran yang bersih. Belum terkontaminasi apa apa. Sehingga pemikiran sederhana nya justru semakin menyadarkan kita semua bahwa dunia pendidikan terlalu merumit rumitkan diri sendiri sehingga kehilangan kesederhanaannya. Apakah jika rumit lebih hebat? Tentu tidak! Perumitan hanya menjadi beban dengan tanpa hasil jelas. Atau bahkan dapat dikatakan, tak akan pernah menuju keberhasilan. 

Dan ketika pendidikan dilihat dengan cara sederhana model Nadiem, kita melihat masalah pendidikan yang harus disederhanakan.  Masalah pendidikan bukan di ruang luar, persoalan pendidikan justru ada di dalam. 

Bagaimana kita selama ini selalu muter muter melihat eksistensi ujian bernama ujian nasional. Padahal jika kita lihat secara sederhana model Nadiem yaitu pertanyaan dasar, "apa ada manfaatnya bagi user pendidikan yaitu peserta didik?".

Pertanyaan sederhana itu begitu menohok dan langsung menjawab kerumitan eksistensi ujian nasional yang sudah puluhan tahun tak juga terselesaikan karena kementerian pendidikan dan kebudayaan memang tak beranjak ke mana mana kecuali merumitkan diri sendiri. Seolah-olah memikirkan padahal tidak sama sekali. Hanya seolah olah belaka. 

Demikian juga dengan keluhan guru tentang beban administrasi yang akhirnya mengalihkan fokus guru dari ruang ruang belajar. Jawaban selama ini selalu muter muter dan merumitkan diri sendiri.  Seolah-olah sedang menyelesaikan persoalan. Tapi persoalan nya sendiri malah semakin akut. Pertanyaan dasar, Nadiem, langsung menjadi jawaban mujarab tanpa perumitan dan kerutan dahi. 

Pendidikan selama ini memang menjadikan guru terbelenggu berbagai aturan.  Tak mungkin guru yang dirinya terbelenggu mampu menanamkan kreativitas kepada anak muridnya. Guru yang terbelenggu hanya akan menjadi robot robot membosankan. 

Cetusan Nadiem tentang guru penggerak. Guru, yang menurut Nadiem mampu menciptakan kurikulum nya sendiri. Guru yang selama ini dibenci kepala sekolah dan pengawas sekolah karena berprilaku tak baku alias nyeleneh. Tapi guru yang sekali gus dicintai anak anak didiknya karena pembelajaran nya tak pernah membosankan justru dibangkitkan Nadiem agar dilindungi dan diberi keluasan untuk membantu dan menginspirasi rekan rekan nya. 

Perubahan memang tak mungkin hanya dari atas. Nadiem berharap guru guru nyeleneh ikut membantu perubahan dari bawah. Lawan birokrat pendidikan, kepala sekolah dan pengawas sekolah, dari kejumudannya. Pecahkan gelas gelas itu. Biar gaduh. Biar semua nya sadar jika mereka telah menganut kesesatan dalam mengimplementasikan pendidikan di lapangan. 

Hari hari ini, sebagai seorang guru, penulis mewajibkan dirinya sendiri untuk mendefinisikan ulang konsep dirinya sebagai guru. Inspirasi dari Nadiem tentang guru penggerak dan perubahan dari bawah merupakan kesempatan yang tak mungkin akan datang berkali-kali. Harus dimanfaatkan sebaik mungkin. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x