Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Guru

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Harap Senang Ada UNBK

21 April 2019   20:09 Diperbarui: 21 April 2019   20:18 74 0 1
Harap Senang Ada UNBK
Kegiatan Guru Menghadapi UNBK

Cawapres Sandiaga Uno punya program cemerlang yang bisa menggaet generasi milenial. Sandi berjanji akan menghapus UN jika dia dengan Prabowo mampu memenangkan kompetisi Capres-cawapres 2019.

Tapi,  hal demikian juga menunjukkan bahwa politisasi pendidikan terus terjadi dan sering dianggap sebagai hal biasa.  Padahal politisasi pendidikan merupakan awal dari hancur nya pendidikan.   

Seharusnya, pendidikan dikelola secara profesional.   Pendidikan tidak boleh dipolitisasi. Biarkan ahli ahli pendidikan yang ada di lembaga independen yang merumuskan bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan. 

Penghapusan UN yang digagas Sandiaga Uno merupakan politisasi pendidikan.   Demikian juga,  kelahiran UN dulu di zaman Orde Baru.   Lahir karena politisasi, upaya penghapusan nya juga politisasi yang akan membuat pendidikan semakin hancur. 

Orang yang paling gigih mempertahankan UN adalah Wapres Jusuf kalla. Bahkan beliau yang terus menaikan standar kelulusan, waktu itu UN menjadi penentu kelulusan peserta didik, sehingga ada siswa yang gantung diri gara gara tidak lulus UN. 

JK menganggap UN sebagai pemicu semangat belajar.  Tapi, nyatanya bertahun-tahun UN dilaksanakan, tak terlihat semangat belajar. Belajar justru semakin membosankan karena guru pun lebih suka mengulang ulang soal sampai peserta didik hafal jawabannya bukan mampu bernalar dengan baik.  

Dan akhirnya,  UN hanya menjadi persoalan soal soal, bukan sebuah upaya meningkatkan kemampuan bernalar. 

UN bertahun-tahun menjadi momok para siswa.   Sampai akhirnya,  UN yang lahir karena politisasi pendidikan berubah ujud menjadi sebuah peristiwa yang sakral.   Ada gerakan sakralisasi UN.   UN berubah menjadi urusan keagamaan. 

Setiap tahun, menjelang UN,  semua sekolah ramai-ramai menyelenggarakan Istighosah.   Mereka menangis meminta ampun atas dosa dosa selama ini, dan meminta dimudahkan dalam mengerjakan UN.   Benar benar telah berubah menjadi urusan samawi. 

UN semakin menakutkan. 

Padahal kalau secara teori pendidikan,  UN itu kan cuma peristiwa biasa.   Sebiasa ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester. 

Pembelajaran itu dimulai dari perencanaan berupa RPP.  Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pembelajaran di ruang ruang kelas.   Dan diakhiri dengan tes. 

Perencanaan harus ada agar pembelajaran tidak asal asalan.   Pelaksanaan harus menyenangkan agar ilmu diresapi dengan baik.  Dan tes hanya sebagai pengukur sejauh mana penguasaan materi oleh peserta didik. 

Jika perencanaan baik dan pelaksanaan baik, apa yang ditakutkan dari sebuah tes? 

Hanya saja persoalan cukup banyak.   Pertama,  kemampuan guru dalam penguasaan materi memang masih payah.   Buktinya,  nilai uji kompetensi guru (UKG) sangat menyedihkan.   Dari guru yang hebat saja,  belum tentu terlahir peserta didik yang hebat.   Apa yang diharapkan dari guru dengan kompetensi yang menyedihkan? 

Sayang nya, pemerintah sendiri masih gagap dalam meningkatkan kompetensi guru.   Ada upaya saling lempar antara Kemendikbud dengan pemda.   Kemendikbud menganggap tanggung jawab peningkatan mutu guru merupakan tanggung jawab pemda, karena saat ini guru sudah menjadi pegawai pemda.   Di sisi lain,  banyak pemda yang menganggap bahwa Kemendikbud yang bertanggungjawab terhadap peningkatan mutu guru, karena pemda banyak yang anggaran habis hanya untuk gaji pegawai. 

Maka,  guru menjadi mahkluk setengah jadi. 

Kedua, masalah sarpras yang berbeda jauh antara sekolah antara daerah.   Sekolah di Jakarta ada yang sama dengan sekolah internasional, tapi ada juga sekolah sekolah kandang ayam, terutama sekolah swasta yang asal saja.   Bahkan jam sekolah mereka masuk jam 10.00 jam 11.00 sudah keluyuran.  Kenapa?  Karena gurunya pun guru asal asalan yang digaji dengan jumlah yang dibanding penghasilan pencari sampah pun masih kalah. 

Belum lagi jika perbandingan juga ditarik antara sekolah di Jakarta dengan sekolah di Kalimantan, Sulawesi, atau Papua.   Dengan guru yang hanya 1 orang mengajar semua mata pelajaran. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2