Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Guru

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Anjing yang Kehilangan Suaranya

20 April 2019   19:51 Diperbarui: 20 April 2019   20:15 31 2 0

Anjing tetangga ku yang biasanya menggonggong, malam ini tak terdengar gonggongan nya.  Ini jelas tak biasa. 

Aku pengin nelpon tetangga ku yang punya anjing, tapi tak etis kalau malam malam begini menelepon hanya untuk menanyakan tentang anjing nya yang tak menggonggong. 

Tapi,  di sisi lain,  rasa penasaran ku tak terbendung lagi. 

Aku membuka pintu hanya pengen tahu apa yang terjadi dengan anjing tetangga. 

Baru mau membuka pintu, mendadak ada bayangan berkelebat,  sehingga aku tutup kembali pintu.  Aku naik ke lantai 2 rumah.  Pengin mengintip dari atas, kira kira bayangan siapa yang barusan berkelebat. 

Jangan jangan maling? 

Cukup lama aku mengintip, tapi tak ada apa-apa, tak ada siapa siapa, dan tak terdengar apa pun.  Akhirnya, aku putuskan untuk turun dan keluar rumah mengintip anjing tetangga yang belum juga terdengar gonggong annya. 

Aku biarkan pintu rumah terbuka.  Kalau ada apa apa, aku bisa langsung masuk rumah secepat kilat. 

Anjing itu sedang duduk.  Seperti biasa. Hanya saja,  biasanya dia menggonggong melihat ku, kali ini dia diam saja.   Hanya sorot matanya yang masih tajam. 

Ketika melihat ku, anjing itu seperti hendak bangun, tapi dibatalkan dan kembali duduk. 

Aku lempar kerikil ke arah anjing itu.  Diam diam saja.  Hanya melirik ke arah kerikil yang sempat mengenai ekornya. 

Aku lempar lagi dengan batu yang agak besar.  Nyaris kena kepala nya. Dia menghindar. Tapi tetap diam saja. 

Pengin aku lempar dengan balok, namun nurani ku berkata, jangan.  Maka aku kembali masuk rumah. 

Besok saja aku tanya kan kepada yang punya anjing.  Besok hari Minggu, biasanya dia jalan pagi sambil mengajak anjingnya. 

Saat pagi justru terdengar ribut ribut di rumah tetangga ku. 

Sudah banyak orang di rumah tetangga.   Masih orang satu komplek. 

"Ada apa? " tanyaku pada Warto. 

"Anjingnya mati.  Kepala nya pecah,  seperti nya ada orang yang melempari kepala nya, " jawab Warto sambil begidig membayangkan kekejaman orang yang telah membunuh anjingnya. 

"Anjing itu memang sudah tak bisa menggonggong, atau lebih tepatnya tak mau menggonggong.  Sudah satu minggu anjing itu mogok menggonggong.  Tapi tega juga orang yang memecahkan kepala nya.  Otaknya sampai keluar berantakan., " Sambung Warto. 

Aku bingung sendiri.   Karena semalam aku hanya melempari nya dengan kerikil dan batu agak besar tapi tak mungkin sampai memecahkan kepala nya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2