Mohon tunggu...
Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Mohon Tunggu... Writerpreneur

Muhammad Natsir Tahar ~ Writerpreneur - penikmat filsafat - hidup di Batam, Indonesia!

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Mungkinkah Kita Menuju Utopia Negara Ilmiah?

1 Juni 2019   11:44 Diperbarui: 8 Juni 2019   20:24 0 3 1 Mohon Tunggu...
Mungkinkah Kita Menuju Utopia Negara Ilmiah?
Ilustrasi kota masa depan (Thinkstock) | Kompas.com

Negara dapat berjalan secara ilmiah bila anasir-anasir politik di dalamnya bisa direduksi. Campur tangan terlalu kuat politik kekuasaan bisa menyebabkan arah negara berjalan terbalik dari utopia menuju distopia: negara sekarat.

Politik bahkan sudah sangat lama tercerabut dari akar etimologisnya, tentang mimpi indah warga kota versi Yunani atau ars politica versi Romawi yang berarti kemahiran tentang masalah-masalah kenegaraan. 

Bahkan mungkin diksi-diksi politik abad ini dipakai sebagai eufemisme di balik tabiat kolektif cara sirkus guna mempertahankan atau mengambil kekuasaan. 

Atau ketika manusia-manusia politik yang sedang membonceng dan dihidupi oleh negara menciptakan teori kebenarannya sendiri. Mereka merilis drama-drama dan memborong semua peran protagonis.

Negara harus dibersihkan dari akar-akar politik kekuasaan dengan seperangkat teori-teori kelirunya yang jauh dari esensi. Kita bisa memegang dua konsep politik ini.

Pertama, pandangan klasik Aristoteles yang mengemukakan bahwa politik digunakan untuk mencapai suatu kebaikan bersama yang dianggap memiliki nilai moral yang lebih tinggi daripada kepentingan di luar itu.

Kedua, pandangan modern Max Weber, bahwa politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara. Ia melihat negara dari sudut pandang yuridis formal yang statis dan memperkenalkan suatu bentuk ideal (ideal type) untuk negara modern dan rasional.

Konsep Aristoteles mempersyaratkan penyelenggara negara yang bijak serta bermoral tinggi dan Weber menginginkan negara dikelola secara ilmiah, bebas dari sentuhan-sentuhan politik yang karut dan distopis.

Unit-unit kerja profesional dalam suatu negara seperti aparat hukum harus dijauhkan dari suruhan-suruhan politik oleh satu atau sekelompok elite yang sulit beradaptasi dengan konsep negara modern versi Weber sekaligus filsafat moral negara yang diamanatkan Aristoteles.

Bila kita bermimpi memiliki negara dengan mengadopsi konsep moral sekaligus modern, maka negara harus memiliki sistem imun yang kuat untuk memfilter masuknya unsur-unsur negatif ke dalam tubuhnya yang dikirim atau diteriaki dari luar pagar oleh elemen-elemen politik. 

Partai politik atau parpol mestilah hanya mesin yang berfungsi memproduksi dan merekomendasikan anak-anak bangsa terbaik untuk dipekerjakan ke dalam negara. Bila parpol gagal melakukan hal ini, eksistensinya mesti dipertanyakan, ditiadakan bahkan dihukum.

Parpol harus bisa menggeser kuadrannya sebagai bagian dari solusi utopia, bukan malah menggelayut pada puncak kekuasaan dan susunan akrobat kabinet serta lembaga tinggi sepanjang periode. Parpol lebih tepat difungsikan sebagai roket pendorong dan segera lepas, ketika pesawat ruang angkasa sudah melewati atmosfer.

Presiden dan jabatan eksekutif di bawahnya yang terpilih secara elektoral, hendaklah dibatasi hanya satu periode, karena hampir semua petahana, akan menggerakkan sumber kapital dan unit-unit dalam negara sebagai alat mempertahankan kekuasaannya, dan proses demokrasi tidak akan mungkin bisa berjalan adil (fair play) sebanyak apapun narasi karut yang ditumpuk untuk membantah fakta ini.

Negara ilmiah juga bisa dijalankan dengan autopilot. Secara logika, sistem dalam suatu negara dapat berjalan tanpa adanya kehadiran pemimpin. Autopilot lebih dikenal sebagai sistem navigasi, mekanikal, elektrikal, atau hidrolik yang memandu sebuah kendaraan tanpa campur tangan dari manusia.

Bila negara sudah memiliki cetak biru dan hanya dikelola oleh manusia-manusia bermartabat dan profesional, tidak akan jadi soal apakah kemudian presiden atau bupati hanya ditugasi sebagai pembaca teks pidato atau penggunting pita.

Bila kita melompat jauh ke depan, 100 bahkan 50 tahun lagi, sistem alogoritma lah yang berada di puncak peradaban. Pidato-pidato, orasi retoris, dan debat panggung televisi oleh mulut-mulut politisi dari spesies manusia segera dibekap dan digantikan oleh sistem otomasi yang presisi dan efektif serta jauh dari kata salah secara Negara Ilmiah.

Negarawan dan Perdana Menteri dari Jerman Otto Von Bismarck (1815-1898) pernah berujar, jangan pernah mempercayai apa pun dalam politik sampai hal itu resmi diingkari. ~MNT