Mohon tunggu...
Jannu A. Bordineo
Jannu A. Bordineo Mohon Tunggu... Novelis

Jannu A. Bordineo. Lulusan teknik yang menggandrungi sastra. Mulai menulis cerita sejak ikut lomba mengarang cerpen sewaktu SD. Buku kesukaannya adalah Jiwa Pelaut karya Moerwanto. Temui dia di kedalaman hutan atau di keluasan lautan, karena dia pendamba ketenangan. http://www.lautankata.com/

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bab XX

17 Juni 2019   19:35 Diperbarui: 17 Juni 2019   19:39 22 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bab XX
Kutipan Giras

...
Sementara itu, Regep sudah sampai di balai desa. Kedatangannya yang terburu-buru menarik perhatian orang-orang yang ada di sana. Namun, Regep tidak peduli dengan wajah-wajah heran itu, dan terus melangkah maju menghampiri Empu Sambara. Dia abaikan paru-parunya yang kembang kempis menagih istirahat. Dia abaikan pula petinggi asing yang sedang menghadap.

Sesampainya di hadapan Empu Sambara, Regep lebih dahulu mengangkat sembah kepada Kepala Desa dan berkata, "Ampuni saya yang telah lancang menyelang, Pak Kades." Setelah itu dia berpaling ke Empu Sambara, menyembah dada dan berkata, "Darurat, ya, Empu. Awak kapal Tuban mengamuk, baku bunuh dengan awak kapal Demak. Cetbang mereka gunakan, Empu."

Serta-merta sekalian yang hadir terperanjat.

"Apa maksudmu dengan 'awak kapal Tuban mengamuk', hei, kau, orang Nyiur?" Giras yang pertama menanggapi. Menggarang. Dia maju mendesak Regep. "Kami bukan berandal yang tak tahu aturan!"

"Tenanglah, Tuan Giras." Empu Sambara melerai. Dia jauhkan bawahannya dari cengkeraman punggawa Tuban itu, yang lantas memelototi dirinya. Dia abaikan pelototan itu, lalu menanyai Regep, "Apa sebabnya?"

"Kapal dagang Demak lepas kendali dan menubruk kapal perang Tuban."

"Bedebah!" Giras menyumpah. "Minta ditumpas begundal-begundal itu!

Giras langsung pergi tanpa meminta diri ataupun memberi penghormatan. Sudah pasti dia dikuasai amarah. Di samping itu, tidak ada alasan baginya untuk bertahan lebih lama lagi di balai desa Nyiurmelambailambai. Serah terima bea jasa sudah selesai.

Giras sudah mendaratkan pantatnya di pelana, tinggal memberikan aba-aba pada kuda. Namun, saat itulah muncul Empu Sambara menahan tali kekang kudanya.

"Tuan Giras!" Suara itu, Ki Ageng Nyiur, Kepala Desa Nyiurmelambailambai, memanggil Giras sebelum laki-laki itu menyemburkan sumpah serapah ke Empu Sambara. "Tenanglah di sini. Biar Pagar Desa kami yang menangani perkara ini."

"Engkau menyuruh aku diam di sini selagi anak buahku dibantai di sana, ha?"

Giras mencabut pamornya yang berupa keris. Para prajurit yang mengawal dirinya menyambut dengan menghunus pedang. Salah seorang prajurit Tuban itu mendatangi Empu Sambara dan mengayunkan pedangnya.

Empu Sambara bergeming di tempat. Dentingan terdengar dari logam yang beradu kuat. Seorang berseragam Pagar Desa menahan serangan dengan pamornya. Ya, para anggota Barisan Pagar Desa yang ada di tempat itu juga telah bersiaga menanggapi pergerakan prajurit-prajurit Tuban.

Kutipan Ki Ageng Nyiur
Kutipan Ki Ageng Nyiur
"Tuan Giras!" Sekali lagi Kepala Desa memanggil. "Tuan adalah seorang pembesar, bukan seorang berandal. Bersikaplah seperti seorang pembesar, jangan seperti berandal!"
Napas Giras tertahan sesaat, tidak menyangka akan tertohok oleh kata-katanya sendiri. Giras meludah untuk membuang kekeluannya sekaligus meraih kembali wibawanya. Lalu mengacungkan kerisnya dan lantang berkata:

"Kalian orang-orang Nyiur tidak usah ikut campur urusan Tuban negeri kami!"

"Kami akan ikut campur!" Kepala Desa membalas sengit. "Tidak peduli siapa, kami akan ikut campur, dan menentang siapa saja yang merusuh di halaman rumah kami! Tuan sebagai panglima satgas harusnya paling mengerti itu!"

Jawaban keras Ki Ageng Nyiur sungguh mengagetkan. Baik Giras dan prajurit-prajuritnya maupun orang-orang Nyiurmelambailambai sendiri, semuanya pada terperanjat, sama sekali tidak menyangka dengan tanggapan Kepala Desa yang sedemikian keras.

Keangkuhan dan keakuan Giras seketika runtuh. Dia salah mengira sikapnya yang lancang akan terus dimaklumi. Orang-orang Nyiur itu, tidak akan ada yang berani menegah sangkanya. Ya, dia benar-benar salah.

Namun, pengecut mana pun tidak akan mau mengakui kesalahannya. Sebaliknya, makin terpojok dia, makin keraslah suaranya.

Giras membuang ludah ke muka.

"Dengar kalian, orang-orang Nyiur! Jika binasa yang kalian cari, silakan halangi jalan kami!" Giras beralih ke Empu Sambara. "Hei, kau orang Nyiur! Singkirkan tanganmu dari kekang kuda kami!"

Empu Sambara menatap tenang Giras yang memasang tampang garang. "Maaf, Tuan. Tidak bisa."

Merah padam wajah Giras. Mendidih darahnya.

"Empu Sambara!" Kepala Desa berseru. "Amankan Tuan Giras."

Mendengar perintah yang menghinakan itu, Giras tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertindak. Dia ayunkan kaki, menendang Empu Sambara yang mengadang jalan.

Empu Sambara menangkis tendangan dengan lengan kirinya, dan dengan lengan yang sama mencengkeram kaki itu. Dia seret empunya kaki melalui kakinya. Giras balas menendang dengan kaki satunya yang bebas.

Empu Sambara terpental, sedangkan Giras terjatuh dari kuda.

Sementara itu, melihat junjungannya baku hantam dengan musuh, para prajurit Tuban pun memulai perkelahian. Pagar Desa Nyiurmelambailambai yang menjadi lawan mereka.

Pertarungan itu berlangsung singkat, karena tahu-tahu semua pada jatuh bergelimpangan, baik yang bertarung maupun yang tidak. Balai desa dan sekitarnya mendadak berubah menjadi perairan, menelan orang-orang yang ada di sana. Hanya ada satu orang yang tidak ikut menggelepar, yang punya kuasa menapak pada permukaan air. Orang itu, tidak salah lagi, dialah yang menanam sirep. Orang itu, seorang perempuan tua dengan raut wajah yang keras. Orang itu adalah Empu Nil.

Empu Nil berjalan menghampiri Giras yang bersusah payah menjaga tubuhnya agar tetap mengapung. Empu Nil memandang rendah Giras dan berkata:

"Jika binasa yang kalian cari, silakan melawan kami."

Bertukar pandang dengan Empu Nil, tidak tampak lagi keangkuhan di sorot mata Giras. Panglima satgas kapal peronda Tuban itu menyadari kekalahannya dari pendekar tua itu. Kalah pengetahuan, kalah pengalaman. Kalah siasat, kalah nekat. Pendek kata, kalah segala-galanya.

Empu Nil berbalik dan berjalan kembali ke tempatnya semula. Kesan yang muncul dari sikap Empu Nil adalah acuh tak acuh, terhadap Giras, terhadap semua. Empu Nil kembali menunjukkan kehebatannya. Di langkahnya yang ketiga, sirep yang dia pasang menghilang.

Tidak ada perlawanan lebih lanjut dari kubu Tuban setelah pertunjukan dahsyat dari Empu Nil. Kemudian Empu Sambara menyilakan Giras untuk kembali ke balai desa, sementara kuda-kuda diambil alih oleh para anggota Pagar Desa. Hanya sebatas itulah pengamanan yang dilakukan Empu Sambara, dan sudah sesuai dengan kehendak Kepala Desa. Walau bagaimanapun, Giras dan para prajuritnya adalah tamu, dan bukan sembarang tamu. Mereka adalah tamu agung. Sudah sepatutnya mereka dimuliakan terlepas dari tindak tanduk mereka. Bahkan senjata para prajurit Tuban tidak dilucuti demi menjaga harga diri mereka.

"Regep!" panggil Empu Sambara setelah keadaan terkendali. Yang dipanggil menjawab dan mendekat. "Apa Pagar Desa di Pasir Putih sudah mengambil langkah-langkah penanggulangan?"

"Saya yakin sudah, Empu. Ada Sutasoma datang bersama beberapa kawan."

"Baguslah kalau begitu. Kita percayakan saja semua pada Sutasoma." Tampak benar kelegaan Empu Sambara.

Lain Empu Sambara, lain pula Giras. Sekilas, tanpa diketahui orang-orang, matanya menajam ketika mendengar nama Sutasoma disebut, lalu kembali seperti sedia kala.

Andai kata ada orang yang melihat perubahan resam tubuh Giras, tentu orang akan mengerti makna dibalik perubahan yang didorong oleh naluri itu.
...

________

Naga Angin 1

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x