Mohon tunggu...
Misbah Murad
Misbah Murad Mohon Tunggu... "Tidak ada sekolah menulis; yang ada hanyalah orang berbagi pengalaman menulis."- Pepih Nugraha, Manager Kompasiana. chanel you tube misbahuddin moerad

"Tidak ada sekolah menulis; yang ada hanyalah orang berbagi pengalaman menulis."- Pepih Nugraha, Manager Kompasiana. chanel you tube misbahuddin moerad

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Berburu Api Biru di Kawah Ijen

16 Oktober 2019   09:33 Diperbarui: 16 Oktober 2019   09:35 0 2 0 Mohon Tunggu...
Berburu Api Biru di Kawah Ijen
dokpri

Walau lelah, dipaksakan untuk tetap semangat, karena dari jam 4 aktivitas sholat subuh berjamaah, kemudian senam pagi bersama, kemudian pemeriksaan kesehatan oleh tim Dokter bagi yang akan mendaki Ijen, setelah itu, keliling untuk melaksanakan kegiatan rutin, dan berakhir pada jam 21.00 selanjutnya kembali hotel dan bersiap-siap lagi karena jam 23.00 akan di jemput untuk menuju Ijen, jadi waktu istirahat tinggal 2 jam itupun sudah termasuk dengan mandi.

Tepat jam 23.00 semua peserta yang akan mendaki Ijen sudah bersiap di lobby hotel menunggu jemputan, total peserta yang akan mengikuti kegiatan ini sebanyak 53 peserta dari 183 peserta Temu Aktivis Dewan Kerja, peserta yang boleh mendaki setelah mendapat ijin dari dokter yang melakukan pemeriksaan kesehatan pagi sebelumnya.

dokpri
dokpri
Tepat jam 00.15 tiga mobil yang membawa rombongan sampai di tempat parkir Ijen, sudah banyak pengunjung yang akan mendaki Ijen pagi ini, mungkin karena dipenghujung minggu, ada wisatawan lokal dan banyak juga dari manca negara, mengingat belum di buka pendakian, kami menghangatkan badan dulu dengan minum jahe, dan beberapa minum kopi susu.

dokpri
dokpri
Tepat pukul 00.00 petugas pendakian mengijinkan untuk peserta yang akan mendaki, diawali dengan berdo`a menurut agama dan keyakinan masing-masing, kami terpecah menjadi dua bagian, satu bagian untuk mereka yang melakukan pendakian dengan berjalan kaki dan satu bagian lagi dengan menaiki Pajero, istilah yang kami gunakan untuk mereka yang menaiki gerobak dan mereka menyebutnya ojeg

Untuk biaya pulang pergi menggunakan ojeg sebesar Rp. 800.000,- didorong oleh 3 orang, dua orang menarik di bagian depan dan satu orang di bagian belakang, jumlah kami yang menaiki ojeg sebanyak 12 orang dari 53 peserta, saya dan istri mencoba untuk jalan kaki.

dokpri
dokpri
Memasuki 15 menit pertama rombongan sudah mulai terpecah, karena memang banyak yang berusia lanjut dari rombongan kami, saya dan istri dan satu peserta dari Kalimantan timur kak Irwana termasuk yang tertinggal, karena beberapa kali istirahat, sebelum memasuki pos 1 saja kami ada sekitar 7 kali berhenti untuk istirahat, saya tetap memberikan semangat kepada istri dan Irwana.

dokpri
dokpri
Cuaca dingin dan gelapnya malam menambah indahnya suasana, kadang kami di dahuli oleh rombongan dari Rusia, India dan Prancis serta beberapa wisatawan dari dalam negeri, kadang kami juga mendahului rombongan yang beristirahat. Total jumlah istirahat kami sebanyak 18 kali, maklum istri sudah berusia 54 tahun, walau kami sering melakukan pendakian, namun faktor usia tidak bisa di bohongi.

Tidak terasa dengan semangat untuk melihat Api Biru, kami sampai di Puncak Ijen, waktu yang kami tempuh mendekati 3 jam lebih perjalanan, Kami istirahat sebentar seraya melihat beberapa pengunjung yang mulai menuruni kawah untuk melihat Api Biru, beberapa rombongan kami sudah banyak yang turun.

dokpri
dokpri
Azan subuh terdengar dari Handphone, kami kembali naik untuk melaksanakan sholat subuh secara berjamaah dengan rombongan yang tersisa sekitar 12 orang, yang lain sudah terpisah, ada yang turun dan ada yang beristirahat di tempat lain, maklum suasana masih gelap, jarak pandang sangat terbatas.

Sholat subuh kali ini saya di daulat sebagai imam, dengan takyamum semua karena tidak ada air disini, dan shapnya pun terpencar karena kami sholat diatas bebatuan yang jaraknya terpisah-pisah menyesuaikan batu yang ada.

dokpri
dokpri
Selesai sholat kembali kami mencoba untuk menuruni tebing untuk melihat api biru, ada beberapa yang tidak sanggup kembali naik dan ada beberapa yang turun dengan modal nekat, suasana dingin yang semakin menusuk membuat kami mencari ranting-ranting kering untuk kami jadikan api unggun, setelah ranting dan kayu kayu kering terkumpul, kemudian dibakar, api unggunpun menyala, sebagai anggota Pramuka, kamipun bernyanyi bersama lagu api unggun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x