Mohon tunggu...
Mirantie Boreel
Mirantie Boreel Mohon Tunggu... Lainnya - Laman Blog Mirantie Boreel

Ibu rumah tangga, penggila sastra dan musik.

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Sembuh dari Kelumpuhan dengan Sholat

11 Juni 2021   19:05 Diperbarui: 11 Juni 2021   19:30 207
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Sejak kecil, aku kerap sakit-sakitan. Ketika usiaku 3 tahun di tahun 1987, aku mengalami koma yang misterius yang menyebabkan aku lumpuh saat bangun. Anehnya, kelumpuhan itu dengan cepat sembuh dan aku kembali seperti anak-anak normal yang lain. Ketika masuk sekolah juga aku bisa jalan kaki selayaknya teman-teman yang lain. Aku bukan termasuk anak pemalas selama duduk di bangku sekolah. 

Keanehan tentang koma misterius itu kembali datang di bulan Agustus tahun 2012. Saat itu aku sedang sibuk main musik di Bandung. Pertama, yang kurasakan sebelum koma tahun 2012 adalah lemahnya kaki kiri secara tiba-tiba. Aku berkata kepada anakku yang sulung, "ibu mau tidur dulu ya...". Kemudian aku tidak ingat apa yang terjadi. Aku terbangun di Sukabumi sebulan setelah aku koma. Keluargaku berkata bahwa aku sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Bandung. Aku tidak ingat sama sekali. 

Setelah bangun, kedua kakiku lumpuh. Aku tidak merasa marah apa-apa. Aku menerima keadaan apa adanya. Ketika itu ibuku membelikan sebuah kursi roda. Aku sempat menggunakan kursi roda itu untuk jalan-jalan di sekitar perumahan. Saat aku di kursi roda, aku tidak merasa kecewa atau kesal. Dalam hatiku bilang, "Oooh, begini ya rasanya naik kursi roda". 

Ada keluarga yang menemani dan selalu mengajak bercanda. Lama kelamaan aku jenuh juga kalau keadaan seperti itu terus. Aku bilang ke suamiku bahwa aku mau belajar jalan sendiri. Sebelumnya aku sholat dengan cara duduk. Aku juga tidak lupa dengan wirid yang kupunya sejak aku SMA. 

Aku sungguh bersyukur dengan wirid yang dipelajari itu karena bisa saja wirid tersebut menolong saat aku sedang dalam bahaya. Di bagian jari-jari tangan terasa bekas wirid yang selalu kulakukan ba'da sholat fardhu. Ternyata hasil wiridan itu bisa longlasting, lho!

Tetap saja yang paling utama adalah sholat. Sebagai umat muslim, sholat adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. 

Setidaknya aku pernah merasakan pengalaman sholat sambil duduk. Terasa sedikit aneh karena aku terbiasa sholat berdiri. Dalam hatiku, aku hanya ingin kesembuhan seperti dulu lagi. Aku menyadari bahwa ada kemiripan dengan yang terjadi di tahun 1987. Hanya saja keadaan sudah jauh berbeda. Waktu aku kecil, aku belum tahu tentang sholat. Toh, tetap saja aku bisa sembuh. Nah, rasanya yang terjadi di tahun 2012 itu jauh lebih besar daripada tahun 1987. 

Kini aku sudah dewasa. Sudah diajari untuk mengenal Allah SWT. Sholat sudah menjadi kewajiban karena sudah punya ilmu tentang itu. Adapun wirid yang dipelajari juga merupakan sunnah dari Nabi Besar Muhammad S.A.W.. 

Sholat sambil duduk itu tidak lama kulakukan karena aku bersikeras ingin sholat  berdiri lagi. Alhamdulillah di tanggal 17 Januari 2013, aku sudah bisa sholat berdiri. 

Aku percaya bahwa Allah S.W.T. adalah ahsaanul kholiqiin, Pencipta yang paling baik. 

Aku kembali menyadari bahwa gangguan yang kualami sebetulnya bukan gangguan. Kalau kata dokter sih ada gangguan di bagian sumsum tulang belakang. Dalam Islam, gangguan sumsum tulang belakang kaitannya adalah tulang sulbi. Tulang sulbi atau tulang ekor itu tidak akan hancur meskipun kita sudah meninggal. Kelak tulang sulbi itu akan memberi kesaksian di hari kiamat. Justru apa yang terjadi padaku bisa saja merupakan anugerah untuk menghapus segala dosa-dosaku di dunia. Uniknya juga dengan sholat itu aku bisa sembuh. Meki tidak seperti saat aku suka main musik, setidaknya peristiwa itu menjadi hikmah agar aku senantiasa mendekatkan diri kepada Allah S.W.T..

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun