Mohon tunggu...
Miranda Salsabila
Miranda Salsabila Mohon Tunggu... Miranda Salsabila. 20 yo. Accounting '18. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Life must go on. seberat apapun masalah kita, Allah sudah menyiapkan solusinya. setelah ikhtiar jangan lupa tawakkal

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Jangan Ambil

24 Oktober 2020   14:13 Diperbarui: 24 Oktober 2020   14:21 23 3 0 Mohon Tunggu...

Memiliki sahabat dengan pemikiran out of the box dari orang-orang lain sungguh sangat menarik. Namanya awwal, teman SMA ku. Dulu, dikelas dia sangat pendiam dan dingin. Setiap melihat matanya seolah dia sedang merencanakan pembunuhan dan penyiksaan yang kejam. Tapi, ketika kita mulai saling mengenal, ternyata dia tidak seburuk itu. Dia asyik, hanya saja pikirannya sangat liar. Bukan, bukan jorok. Tapi dia out of the box atau sering ku sebut dia psikopat, karena terlalu sering dia mengatakan hal-hal aneh. Mulai dari hal mistis hingga yang tidak logis. Bagaimana mungkin remaja 20 tahun itu memikirkan kecoa yang akan menguasai bumi dan manusia yang menjadi budak dari kecoa.

Aku dan awwal cukup sering bertemu untuk sekedar mengobrol, berdiskusi, atau berbagi cerita. Angkringan, jadi tempat favorit untuk kita bertukar cerita. Memesan secangkir kopi hitam panas untuk awwal dan good day dingin untukku. Sesekali kita mengambil beberapa gorengan, sekedar untuk menambah kenikmatan ketika menjadi pendengar. Jogja, kota istimewa dengan segala keunikannya. Di pinggir jalan raya, memilih tempat lesehan. Sambil menikmati dinginnya hembusan angin malam, dan terangnya lampu jalan.

Seperti biasa, aku yang membuka percakapan. Aku bercerita tentang mitos yang sudah lama ada di jogja. Tentang suara gamelan yang pernah kudengar samar di kamar kosan saat aku pertama kali sampai jogja.

'Serem kan, cuma aku lho yang dengar. Kamu percaya ngga sama hal mistis gitu?' kataku.

'Artinya kamu disambut. Gapapa. Aku sangat percaya' jawabnya.

'kamu pernah punya pengalaman juga?' tanyaku, awwal memang harus ditanya lebih dulu agar dia mau bercerita. Namanya memang awwal, tapi dia tidak pernah mau mengawali apapun.

'Ini udah malem lho, yakin mau denger? Disini ada pohon gedhe juga ni' tanya awwal, melihat jam tangan coklat kesayangannya yang sudah menunjukkan pukul 9.30 malam.

'Kamu pikir aku takut, tenang aja. Sans, tapi anterin pulang ya' tantangku tak mau kalah.

'Ya udah' jawab awwal sambil meneguk kopi hitamnya yang mulai dingin. Lalu berkata 'Jadi begini...'

 

Waktu itu tanggal 13 Mei 2014. Malam jumat kliwon, aku sangat mengingatnya karena hari itu adalah hari dimana aku sangat merasa kacau. Ayahku selalu menjadikanku sasaran kemarahan. Aku ngga ngapa-ngapain, tapi selalu disalahkan. Aku salah satu anak yang kurang beruntung karena memiliki ayah yang temperamental seperti itu. Luka yang ada di tanganku, adalah salah satu rekam jejak yang ditinggalkan dari sifat tempramen ayahku. Luka ini ada hanya karena aku menumpahkan kopi yang akan diseduh ayahku pagi itu. Entah apa yang terjadi dengan ayahku, tapi ayahku langsung mengambil pisau dan menggores tanganku. Beruntung, ibuku melihat dan langsung membawaku pada bidan. Ibuku adalah wanita yang lembut. Ibuku sangat sayang kepadaku, dan aku beruntung memilikinya. Luka di fisikku memang akan segera sembuh setelah diobati bidan. Namun luka itu sangat menyakiti hatiku. Bertahun-tahun aku hidup, bertahun-tahun juga aku memendam rasa sakit ini. Aku dulu adalah anak periang. Aku terkenal cerewet. Aku sering dipanggil beo oleh saudara-saudaraku. Tapi, semua berubah saat ayahku mulai berlaku kasar. Dan yang paling membekas adalah luka goresan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN