Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Ode Kehidupan dalam Segelas Kopi

11 April 2021   01:28 Diperbarui: 11 April 2021   10:31 873
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
pinterest.com/AuthorTCB

" tempat ini bebas bagi siapa saja. Tak ada yang boleh melarang orang yang datang untuk duduk. Ini tempat umum dan terbuka bagi siapa saja. Mereka bebas meilih kursi sesuai dengan seleranya," jawab perempuan itu.

 ' Dan pilihan saya malam ini tepat. Saya duduk dihadapan orang yang baik dan memuliakan orang. Anda sudah memesan kopi," tanya lelaki itu.

" Seperti yang anda lihat," kata perempuan itu.

lelaki itu menyeruput kopi yang baru diantarkan ke hadapannya. Matanya terus menatap perempuan itu. Sementara mata perempuan itu menatap ke langit. Menatap cahaya malam yang bertabur bintang-bintang.

" Tampaknya Anda malam ini gelisah," kata lelaki itu. Perempuan itu melongos. Tak tertarik dengan ocehan lelaki itu.

" Bolehkan kegelisahanmu dibagi denganku," suara lelaki itu kembali membuat jengkel perempuan itu.

" Itu pun kalau anda tak berkeberatan. Aku cuma menawarkan solusi. Lagi pula tak perlu membayar jasa konsultasi," sambung lelaki  itu. Perempuan itu kembali menatap lelaki itu seraya menggelengkan kepalanya.

Hari sudah memasuki gerbang malam. Bentangan purnama muncul dengan wajah penuh pesona. langkah kaki peremuan itu sangat tergesa-gesa. Dan saat tiba di warung kopi dibawa jembatan itu, matanya menatap lelaki itu. Dia langsung duduk di depan lelaki itu.

" Bolehkah aku duduk disini," sapanya berbasa-basi.

" Seperti yang anda katakan semalam, tempat ini bebas. Tak ada orang yang boleh melarang melarang untuk duduk di kursi mana pun. Dan saya berterima kasih, anda sudah mau menemani saya malam ini," jawab lelaki itu sembari menyeruput kopinya. Perempan itu mati kartu dengan jawaban lelaki itu. Mulutnya terkunci.

" Anda tak usah risau. Duduklah disini semalam suntuk untuk menumpahkan kegelisahanmu. Anda dapat melarung kegelisahanmu bersama malam yang bertabur cahaya purnama. Dan jangan beranjak sebelum purnama melepas cahayanya," sambung lelaki itu. Kembali perempuan itu terdiam. Tak ada jawaban dari mulutnya. Hanya airmata yang mengalir dari kelopak matanya yang indah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun