Mohon tunggu...
Millah Nur Chanifah
Millah Nur Chanifah Mohon Tunggu... Lainnya - learner

Compilation of thought

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Kendali Rasa

7 Mei 2024   13:46 Diperbarui: 7 Mei 2024   14:12 82
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ren, kutemukan lembaran kertas-kertas lusuh dalam sebuah binder mungil bergambar peter rabbit putih dengan aroma lusuhnya di pojok lemari baca yang sudah reyot itu. Khas benar kupandangi diary kecilku, walau sedikit ragu atas rasa takut akan apa yang mungkin aku temukan didalamnya. Benar saja, Ren. Catatan gedrik pena hitam yang ditulis anak 9 tahun itu sukses memanggil kembali rasa itu, memutar memori-memori dan memainkan kembali adegan-adegan lama yang ingin kubuang saja dari "storage" kenangan yang pernah terjadi dalam hidupku.

Ren, ia hanyalah seorang anak SD yang kebingungan dan kedinginan di dalam hatinya. Hari-hari yang ia ingat adalah bentakan-bentakan, makian, dan umpatan kemarahan yang menyengat jiwa kecilnya nya. Sudah menjadi santapannya sehari-hari, Ren. Tiap kali berbuat lalai ia akan diganjar dengan gagang sapu, selang, cubit, dan pukul.  Seolah, dunia membuatnya familiar akan perlakuan semacam itu, dan menjadikannya pantas menerimanya. 

Ia bukan anak yang bodoh, Ren. Kepalanya tidak kosong. Dalam tahun-tahun pendidikan dasarnya, hampir selalu ia berhasil mengalahkan ke 37 teman kelasnya, membuatnya mampu bertahan naik turun diperingkat 3 besar setiap tahunnya. Tidak teringat memori ucapan selamat maupun penghargaan dari ibu dan bapaknya walaupun tidak pernah ia mengharapkan itu. Yang terjadi, ia justru dibanding-bandingan dengan pencapaian orang-orang disekelilingnya, apalagi sang kakak yang paling hebat. Sesekali, ia hanya ingin dipeluk dan ditenangkan, Ren. Ia berharap dunia memberinya jeda, dan kehangatan bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah hal yang benar dan layak diapresiasi.

Ren, rasanya, tiada hari baginya tanpa berbuat kesalahan. Aku ingat memori itu, betapa tidak tahannya anak itu berada di dalam rumah. Beberapa orang sepupu yang lebih berumur kerap meledekinya sebagai anak angkat. Sehari-hari, ia lebih nyaman berada disekitar teman-temannya, Ren, karena disanalah ia temukan tempat yang hangat. Bersama segelintir teman-temannya, ia tumbuh menguat, Ren. Berpetualang dan belajar dengan caranya sendiri, yang tak pernah bisa ia ceritakan pada Ibu dan Bapak.

Memori itu kembali menerbangkanku pada kenangan di hari Jum'at, waktu dimana Ibu akan mengajarnya tiap kali terlambat pulang kerumah. Setelah habis pukulan itu, diseretlah ia masuk ke dalam gudang kotor dibelakang. Masih ingat betul aku, Ren, betapa ia menangis bersedu menggedor pintu dari dalam, memohon agar pintu yang terkunci itu dibuka. Tentu saja sia-sia, Ren. Ia menangis dalam jiwa kecil yang hancur tanpa pernah bisa mencerna perbuatan dosa apa yang ia lakukan sehingga perlakuan macam itu yang pantas ia diterima. Menggedor dan pasrah ia, hingga Bapak pulang dari pabrik dan hendak berangkat shalat jum'at itu akhirnya datang menolong. 


Terlepas dari segala kepahitan itu, sejatinya, aku selalu percaya ia adalah anak yang baik, Ren. Ia gemar mencurahkan peluhnya kepada Yang Maha Memegang Kendali. Seringkali ia berharap agar tabungan trauma dan ketakutan masa kecilnya tidak akan terus menghantui hidupnya sekarang. Dalam dunia masa depan dan kompleksitas yang ia hadapi saat ini, aku percaya, Ren. Ia adalah anak yang kuat, yang selalu berusaha, yang selalu ingin berdampak dan bangkit dari setiap keterpurukan. Dan satu lagi, Ren. semenyakitkan apapun memori itu, aku tahu ia akan selalu tetap mencintai dan berbuat baik pada Ibu dan Bapaknya. Aku tahu Ren, ia anak yang kuat. Ia memiliki kendali, kendali atas rasa dan kendali atas kebaikan dirinya sendiri.

Terimakasih sudah menyempatkan waktumu membaca suratku, Rena.

Salam, Kinan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun