Mohon tunggu...
Anna Maria
Anna Maria Mohon Tunggu... Freelancer | Teacher | Heritage Lover | Kebaya Indonesia

Love my life, my family, my friends, my country, my JESUS CHRIST <3 Menulis : wisata, edukasi, humaniora, budaya dan sejarah

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Perhatian Spesial bagi Siswa Berkebutuhan Khusus

19 November 2019   22:22 Diperbarui: 19 November 2019   22:23 0 0 0 Mohon Tunggu...

Selama 5 tahun mengajar setiap tahunnya saya bertemu dengan siswa-siswa kebutuhan khusus.  
Biasanya mereka banyak saya temui di tingkat TK dan SD. Tahun lalu di SMP.

Sebagai pendukung cerita saya di sini, saya pun bertanya tentang anak berkebutuhan khusus kepada teman guru di SKh swasta.  Jadi,  ada golongan pertama dan kedua. Golongan pertama meliputi tuna netra, tuna rungu wicara, tuna daksa. Sedangkan golongan kedua yaitu tuna grahita dengan pelbagai spesifikasinya masing-masing (Down Syndrome, Autism, ADHD/Hiperaktif)

Golongan pertama ini kebanyakan memiliki IQ normal atau di atas rata-rata. Jadi, mereka bisa turut bersekolah di sekolah umum.  Kecuali tuna ganda, yang lebih dari satu ketunaan plus tuna grahita.  

Sedangkan tuna grahita dengan masing-masing spesifikasinya kebanyakan memiliki IQ di bawah rata-rata atau kemampuan kognitif di bawah rata-rata sehingga kesulitan bersekolah di sekolah umum.

Nah, yang sering saya temui adalah golongan kedua di sekolah umum. Seringnya saya bertanya-tanya, mengapa anak-anak ini bersekolah di sekolah umum?  
Adapun setengah dari mereka sebaiknya dengan pendampingan khusus, sedangkan sekolah umum di satu kelas atau bidang studi hanya ada 1 guru.

Dulu waktu mengajar TK ada 3 anak kebutuhan khusus di dalam 1 kelas. Sebut saja A,  B dan C.  A sangat pendiam jika guru memberi contoh mengerjakan ia terlihat sangat asyik sendiri, tapi pada saat mulai praktek ia paling bisa di antara lainnya. Sedangkan B, tidak banyak berbicara tapi tidak mau diam. Sering keluar kelas atau mematikan komputer teman-temannya.  Lain lagi C, setiap di kelas didampingi baby sitter yang menjaga dia.  Hanya bisa tiduran dan mengeluarkan air liur. Padahal saya dulu pernah satu jemputan sekolah dengan anak seperti ini, ya tentunya kami berbeda unit. Saya di sekolah umum SD, dan teman saya itu di unit SLB.

Memang ada yang bisa mengikuti kegiatan belajar seperti A. Bagi guru-guru, perkembangan yang baik bagi anak yang seperti si A sangat membuat kami sukacita. Lainnya mengganggu kelas karena terlalu aktif, minta perhatian khusus, atau ada hanya mengikuti kebiasaan teman-temannya. Perkembangan mereka pun turut menjadi sukacita bagi kami, tapi bagi kami sangat berat berproses bersama mereka (seperti A dan C), sebab sehari-harinya dirasa kurang efektif.

Kali ini saya kembali bertemu dengan 3 anak kebutuhan khusus di kelas 3 SD, dan 1 anak di kelas 2 SD. Di kelas 3, 1 anak selalu minta perhatian ekstra, dia maunya serba benar dan tidak mau salah, sukanya marah membentak jika keinginannya tidak terpenuhi.  
2 anak di kelas 3 dan 1 anak di kelas 2 sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran, 2 anak hiperaktif, 1 anak cenderung pendiam.

Benar-benar merasa kewalahan setiap memberi tugas praktek apalagi penilaian harian (ulangan harian). Saya mendampingi mereka untuk membacakan soal bahkan seringnya memberi bantu menjawab soal. Wali kelas lebih tegas membiarkan mereka saat penilaian harian, "Biar orangtuanya tahu, bu. Anak-anak ini perlu pendampingan khusus.Kasihan."
Pada kegiatan belajar mengajar fokus saya terbagi dua.  Saya tidak bisa memerhatikan siswa lainnya karena mereka juga sanga aktif meskipun bukan tuna grahita. Tapi saat saya memerhatikan teman-teman mereka, mereka ini bisa hilang dari kelas atau tidak berhenti mengganggu kelas.  

Saya suka khawatir dengan anak-anak ini, mereka yang terlalu dipaksakan untuk di tengah-tengah siswa sekolah umum.  Saya khawatir mereka dibully temannya. Syukurlah, di sekolah-sekolah swasta tempat saya mengajar tidak seperti itu. Saya memerhatikan betapa teman-temannya melindungi mereka. Mereka memberi pengertian kepada guru, "Bu, sabar ya. Si ini agak berbeda. Maklum ya bu, tapi nanti dia bisa kok sendiri.. "
dan membantu menenangkan serta mengarahkan teman yang berkebutuhan khusus tersebut.  

Ada satu kejadian menarik buat saya di kelas 3. Ada sekelompok siswi yang karakter persahabatannya sangat elok buat saya. Mereka ceria, murah senyum dan saling membantu mendukung teman-temannya.  Mereka selalu mau untuk mengajarkan murid kebutuhan khusus di kelasnya. Pernah wali kelas bercerita tentang S anak kebutuhan khusus yang pendiam.
Kelompok siswi tadi suka menyuapi si S saat makan bersama di kelas.

Saya sering memandang sebelah mata anak-anak generasi Z dan Alpha karena banyak dari mereka yang kelewat malas membaca, egois, maunya serba instan, melawan aturan, dan cenderung maunya sendiri bertindak.  Tapi ternyata mereka masih punya kepekaan luar biasa untuk berempati dengan teman lainnya, apalagi kepada yang berkebutuhan khusus.  
Keberadaan anak-anak kebutuhan khusus di tengah mereka ternyata juga mengasah sikap hati mereka.  

Anggaplah memang Tuhan memang punya rencana.  Tapi kembali pada pertanyaan saya, "Mengapa orangtua malu menyekolahkan anak-anak mereka yang perlu perhatian khusus ini untuk di sekolah khusus? "
Saya berpikiran tentu mereka akan lebih terarah untuk mengasah kemampuannya bersikap mandiri dan menghasilkan karya. Bukankah banyak di antara mereka yang malah lebih maju dan berkembang dengan kemampuan motoriknya?

Sampai saya pun bertanya pada teman guru di Skh. Ya memang benar begitulah yang diajarkan supaya mereka terbiasa mengerjakan pekerjaan sehari-hari sendiri, dan beberapa materi praktek yang bisa mereka lakukan untuk menghasilkan karya, yang bisa jadi nanti sebagai alat mata pencahariannya.

Namun bagi mereka yang benar-benar pasif tidak bisa apa-apa, bisa jadi ada terapi khusus untuknya.

Ya, memang kebanyakan orangtua malu jika anaknya berada di sekolah khusus.  Entah apa yang menjadi keputusan mereka ini, mengapa tidak terpikirkan lebih jauh tentang masa depannya ketika nanti orangtua tak bisa lagi merawat penuh si anak, bahkan jika mereka telah tiada?  Kepada siapa nanti anak-anak ini akan bergantung?

Apakah sekolah khusus tidak terjangkau biayanya? Saya sendiri kurang yakin jika itu menjadi jawaban pertanyaan saya. Saya pun beberapa kali mendengar curhatan para suster yayasan tempat saya bersekolah dulu yang bercerita ada beberapa anak yang ditinggal di tempat itu (di unit Skh, dulu SLB C) dan tidak pernah lagi dijemput orangtuanya.  

Pantas saja dulu ketika saya melewati susteran banyak anak sekolah khusus yang masih bersenda gurau di teras asrama dengan teman-temannya dan para suster.  Saya berpikiran waktu itu mereka belum dijemput orangtuanya. Ternyata orangtua mereka memang tidak pernah kembali menjemput mereka.  

Saya tidak tahu dan tidak merasakan apa yang menjadi beban para orangtua mereka.  Jasi, Saya tidak berani menggurui.
Hanya saja saya terus merenung, kepada siapa lagi mereka nanti akan bergantung jika saat ini orangtua kurang tepat/tidak tepat bersikap untuk mendidik anak-anaknya yang berkebutuhan khusus?

Apakah anak-anak yang ditinggalkan tidak merasa rindu kepada orangtuanya?  Apakah orangtua tidak pedih hati harus jauh dari anak-anaknya?  Saya tidak berani lagi membayangkan.  

Semoga saja para orangtua dan pengasuh mereka benar-benar punya hati dan kepekaan jauh ke depan bagi anak-anak ini.  Sebab,  mereka juga manusia, mereka pun juga punya tujuan hidup dari mereka dihembuskan nafas kehidupan.

VIDEO PILIHAN