Mohon tunggu...
I Ketut Merta Mupu
I Ketut Merta Mupu Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Pendamping Sosial PKH Kementerian Sosial RI

Alumni UNHI. Lelaki sederhana dan blak-blakan. Youtube : Merta Mupu Ngoceh https://youtube.com/@Merta_Mupu_Ngoceh

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Resepsi Nikah Bukan Ajang Bisnis

16 September 2015   20:03 Diperbarui: 16 September 2015   23:24 2168
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Upacara perkawinan atau dalam ajaran Hindu disebut ‘Vivaha Samskara’ semakin mengalami pergeseran. Nilai religius dari upacara perkwawinan semakin berkurang, terutama pada bagian acara mengundang kerabat, sahabat, teman dekat, bahkan pejabat, yang lebih dikenal resepsi nikah.

Sering kali kita melihat kenyataan bahwa dalam resepsi nikah yang dipikirkan adalah penggalian dana, meskipun tidak semua orang seperti itu, akan tetapi pasti ada yang berpikiran demikian. Dengan kata lain mengundang seseorang dalam acara resepsi nikah untuk mendapatkan uang yang terselip dalam amplop, resepsi dijadikan ajang bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini tentu sudah menyimpang dan bertentangan dengan dharma karena dalam ajaran agama justru saat upacara pernikahan diwajibkan untuk bersedekah, berdana punia.

Sebenarnya apa hakekat acara resepsi nikah atau ‘mengundang’ ketika upacara perkawinan? Menurut pendapatku berdasarkan ajaran agama, ada dua tujuan utama alasan di balik acara mengundang seseorang ketika melaksanakan upacara perkawinan atau pernikahan, terutama resepsi nikah.

Pengumuman Kelahiran

Melepas masa lajang untuk menikah merupakan babak baru dalam kehidupan berumah tangga. Dari sudut pandang niskala (secara gaib), menikah merupakan sebuah proses kelahiran, dimana kita lahir melalui upacara pernikahan atau wiwaha samskara. Oleh karena itulah adakalanya ucapan menikah itu, ‘Selamat menempuh hidup baru’.

Jangan anggap remeh kelahiran melalui upacara, kelahiran seperti ini lebih agung dari kelahiran secara biologis sebab lahir melalui mantra puja. Oleh karena itu, seseorang yang sudah menikah jangan coba-coba merasa bukan sebagai anak dari orang tua baru, yaitu ibu dan bapak mertua. Demikian sebaliknya seorang mertua jangan menganggap menantu sebagai bukan anak, meski mereka tidak lahir secara biologis.

Kelahiran baru inilah yang perlu diumumkan kepada masyarakat atau bahasa sederhananya kedua mempelai diumumkan kepada masyarakat bahwa mereka sudah menikah, agar masyarakat mengetahuinya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti misalnya agar tidak ada lagi orang lain yang menggodanya layaknya seseorang yang masih lajang.

Bersedekah

Alasan yang lebih sakral, respsi nikah tujuannya adalah untuk bersedekah (berdana punia), terutama membagi-bagikan makanan. Menurut kitab Siva Purana, membagi-bagikan makanan dinyatakan sebagai sedekah yang paling utama. Dengan melakukan sedekah pada saat melaksanakan Yajna maka pahala yajna akan berlimpah, pahalanya berlipat-lipat, tentu jika dilandasi hati yang tulus. Barangkali itusebabnya tamu undangan yang datang membawa oleh-oleh berupa amplop dimasukan ke dalam kotak dana punia atau kotak sumbangan, bukan dimasukan ke dalam kotak penggalian dana.

Menurut ajaran Hindu, seseorang yang melaksanakan Yajna tanpa bersedekah dianggap melakukan perbuatan dosa, melakukan sesuatu yang sia-sia, Yajna seperti itu tidak ada pahalanya. Itu sebabnya ketika mengundang seseorang saat resepsi nikah menjadi hal yang sangat penting untuk menjamu undangan dengan makanan. Menurut ajaran Hindu, tamu itu dewa. Jangan remehkan tamu yang datang ke rumah meski mereka berasal dari orang hina, orang jahat, lebih-lebih mereka datang ketika melaksanakan upacara Yajna.

Dulu, tamu undangan bahkan diwajibkan membawa makanan ke rumahnya, akan tetapi tradisi ini mulai hilang, namun masih diterapkan oleh masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Ketika selesai melaksanakan upacara Yajna, sisa-sisa persembahan seperti buah-buahan, nasi, ketupat, sengaja dibawakan ke rumah warga, terutama tetangga dan kerabat. Tradisi ini disebut ‘ngejot’. Tradisi yang sudah seharusnya dilestarikan, mengingat tradisi ngejot sangat bermakna. Selain membawa pahala Yajna, juga sebagai ajang silahturahmi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun