Mohon tunggu...
Melissa Tjia
Melissa Tjia Mohon Tunggu...

A daily worker and blogger in kamarmelissa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Working Mom Or Full Time Mom? Independent Mom!

27 Januari 2012   11:10 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:23 256 1 4 Mohon Tunggu...

Merujuk pada masa lampau, wanita tidak perlu khawatir masalah finansial. Pencarian nafkah ditanggung oleh kaum pria. Wanita hanya perlu di rumah, mengurus rumah tangga, mendidik dan mengasuh anak, serta melayani suami. Seiring berkembangnya zaman dan berkat emansipasi wanita, sekarang wanita mendapat perlakuan yang sama dengan pria, terutama dalam hal mereguk pendidikan dan berkarir. Wanita mampu membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan dan disejajarkan  kemampuannya dengan kaum lelaki. Malah, dalam beberapa pekerjaan yang menuntut multitasking, wanita dapat dengan mudah melakukannya, dibanding dengan pria. Wanita juga ingin mengaktualisasi diri. Mereka ingin memberdayakan kemampuan otak mereka tak hanya dalam hal mengurus rumah tangga. Bahwa wanita mampu berdikari dan tidak bergantung pada suami dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Bahwa wanita juga mampu sukses dalam karir hingga mencapai pucuk pimpinan tertinggi di suatu perusahaan atau bahan menjadi pemilik suatu usaha. Selain aktualisasi diri, ada juga kini wanita yang bekerja demi membantu suami memenuhi kebutuhan hidup, karena tuntutan hidup yang semakin tinggi dari hari ke hari.

Namun, masalah mulai datang ketika wanita karir ini akhirnya menikah dan memiliki anak. Saat anak masi bayi, mungkin tidak masalah jika ditinggal atau dititipkan selama jam kerja. Tapi, ketika si anak mulai tumbuh dan bisa berkomunikasi, otomatis akan menuntut perhatian dari sang ibu, langsung atau tidak langsung. Jam kantor yang memakan waktu 1/3 hari kita atau kadang bahkan lebih, membuat waktu berkomunikasi dengan anak berkurang. Tak jarang pula, saya menemukan wanita bekerja yang mengeluhkan sulit membagi waktu antara kerja dan anak. Saking fokus dengan kerjaan, karena tuntutan profesional, seorang wanita harus memperpanjang waktunya di kantor. Ketika sudah pulang ke rumah, rasa letih sudah mendera tapi anak masih mengajak bermain atau berbagai bentuk interaksi lainnya. Belum lagi ketika si anak minta diajari atau membantu mengerjakan PR-nya. Pada akhirnya, wanita itu sendiri merasa tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri dan ada perasaan bersalah tidak bisa memiliki kualitas waktu yang baik dengan anaknya. Saya rasa di antara teman-teman wanita Kompasianer ada juga yang merasakan hal ini.

Lalu, bagaimana menyiasati hal ini? Saya yang masih lajang dan belum menikah apalagi memiliki anak, sepertinya bukan orang yang kompeten untuk memberikan solusi begini dan begitu. Tapi, sebagai calon ibu di masa depan, saya sudah memikirkan hal ini masak-masak sejak masa kuliah. Menimbang sisi positif dan negatif pada masing-masing sisi, baik working mom or full time mom.

Menjadi ibu yang bekerja konsekuensinya sudah jelas seperti yang saya utarakan di atas. Tapi, apabila memilih menjadi ibu rumah tangga, otomatis segala pegeluaran rumah tangga bergantung pada suami. Kalau begitu kenapa tidak menjadi ibu yang mandiri? Dalam arti tetap bisa menghasilkan uang tanpa melakukan pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktu. Misalnya berdagang secara online, membuka usaha sendiri, bekerja profesional seperti menjadi penulis, penerjemah, atau membuat kerajinan tangan. Bisa juga membuka usaha antar jemput anak sekolah, memberikan les semi privat, dll. Saya berpikir ada banyak jenis kegiatan part-time yang bisa dilakukan oleh seorang ibu. Jadi, tetap bisa menghasilkan uang sendiri tanpa memangkas waktu bersama anak. Ini adalah pertimbangan saya karena bagi saya pribadi, rasanya berat jika harus meninggalkan anak dalam waktu yang cukup panjang. Apalagi, kehidupan masyarakat sekarang ini sangat riskan.

Tentu setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Mungkin ada juga wanita yang berhasil menyeimbangkan dua kutub kehidupan mereka. Ada juga wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga karena toh penghasilan suami sudah lebih dari cukup. Tapi, bagi para ibu yang mungkin mengalami dilema yang sama, tak ada salahnya mencoba pekerjaan paruh waktu. Menjadi ibu adalah pekerjaan istimewa yang diemban setiap wanita di sepanjang sisa hidup mereka. Mendidik anak menjadi seseorang yang berkualitas adalah hadiah paling agung bagi seorang ibu.

Cheers! :)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x