Mohon tunggu...
melisa emeraldina
melisa emeraldina Mohon Tunggu... Lainnya - Menulis untuk Berbagi Pengalaman

"Butuh sebuah keberanian untuk memulai sesuatu, dan butuh jiwa yang kuat untuk menyelesaikannya." - Jessica N.S. Yourko

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Alasan Generasi Z Terancam Susah Punya Rumah

20 Januari 2023   12:00 Diperbarui: 20 Januari 2023   20:11 1780
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi anak generasi Z beli rumah. Sumber: Shutterstock via Kompas.com

Sebuah studi penelitian yang dimuat dalam Kompas, mengungkap bahwa 66% karyawan di Indonesia ingin bekerja secara remote atau hybrid. Hal ini juga berkaitan dengan kemacetan, jarak lokasi yang jauh dan waktu tempuh perjalanan. 

Gen Z akan memilih menjadi pekerja remote atau freelancer yang bisa bekerja di rumah, atau di coffeeshop yang memiliki suasana yang nyaman. Mereka akan membuka laptop dan bekerja disana hingga selesai. 

Karena nyatanya  menjadi freelancer memungkinkan mereka menjangkau klien dari mana saja dengan penghasilan total yang seringkali lebih besar dari UMR. Apalagi bagi mereka yang tinggal di luar Jabodetabek. 

Ilustrasi cara bekerja Gen Z (Freepik/Tirachardz)
Ilustrasi cara bekerja Gen Z (Freepik/Tirachardz)

Coba bandingkan bila mereka bekerja sebagai pegawai. Zaman sekarang banyak perusahaan yang menggunakan sistem kontrak dan outsourcing. Mereka rentan di PHK, tak ada jenjang karir, penghasilan rendah, penghasilan yang dipotong dan tak ada fasilitas yang menjamin mereka sebagai pekerja. Pun harus mengikuti aturan kantor dan lingkungan kerja yang tak selalu menyenangkan.

Banyak perusahan zaman sekarang juga menghindari memiliki pegawai tetap. Mereka lebih suka pegawai kontrak karena kemudahan proses rekruitmen, tak perlu memberikan tunjangan, tak perlu melanjutkan kontrak jika pegawai kurang kompeten, terbebas dari banyaknya kewajiban, dan tak perlu memberikan pesangon. 

Kondisi seperti ini juga dialami oleh banyak generasi milenial akhir. 

Dengan melihat berbagai kondisi diatas, generasi Z ini memiliki kecenderungan untuk bekerja tidak tetap, sangat mudah untuk berpindah pekerjaan dan bahkan berpindah Kota. 

Tidak jarang mereka hanya bekerja 1-2 tahun saja dan kemudian berpindah ke pekerjaan lain. Ini bukan sepenuhnya keinginan mereka. Karena mereka juga beradaptasi dengan sistem kerja yang memang banyak tak menguntungkan bagi mereka. 

Sementara pekerjaan tetap di "Pemerintahan dan kawan-kawannya" diangaap terlalu birokratis, kaku, menghambat kreativitas dan susah maju. 

APA KAITANNYA DENGAN MEMBELI RUMAH?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun