Mohon tunggu...
Meisya Zahida
Meisya Zahida Mohon Tunggu... Perempuan penunggu hujan

Sejatinya hidup adalah perjuangan yang tak sudah-sudah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Surat buat Ibu

20 Maret 2020   10:07 Diperbarui: 20 Maret 2020   10:28 58 1 1 Mohon Tunggu...

Aku ceritakan kembali padamu, Bu! Sajak perjalanan yang pernah kau ramalkan lewat garis tangan, ketika kecil dulu saat aku bermanja dengan kancing bajumu.

"Nasibmu berajah bintang, Nak! Kelak kau  akan jadi hartawan," suaramu berdendang bulan, legam bola matamu menyusuri hitam rambutku. Seolah kau ingin berkata, betapa masa penuh coba tercermin lewat lebatnya. Aku hanya tersenyum memaknai ucapmu, tak pernah paham apakah takdir bisa dilihat sedemikian gampang.

Aku telah dewasa, Bu! Mungkin setelah kita berjauhan aku hanya bisa kau lihat di meja belajar, di dinding kamar, atau di album kenangan kita, bahkan sering kau sapa dalam doamu yang ijabah, seperti azimat rindu menggelitik pikiranku sebab darahmu kekal di jantungku.

Aku merindukanmu, Ibu. Dalam hempas gejolak merajai batinku, masih terngiang sedemikian lekat sebaris kalimat kala kau lepas aku sebelum berangkat.

"Kau tak cukup kuat menantang samudra, Nak. Gelombang pasang di luar sana akan membuatmu tenggelam, bekalmu tak cukup untuk bisa bertahan. bagaimana kau akan minta tolong jika kedinginan, sedang bajumu masih ibu jahitkan, apa kau bisa berenang dengan telanjang untuk sampai ketepian?"

Aku pun menanggapi bahasamu dengan anggukan, sekadar meyakinkan kalau aku hanya butuh kepercayaan.

****

Kini, dalam pengembaraan yang mungkin sudah kau ikhlaskan. Aku dihadapkan dengan banyak persoalan, inikah kekayaan yang ditandai garis tangan, semacam keputusan tak bisa ditolak atau  dialihkan. Gambaran peristiwa kerap meminta kesabaran, kadang aku jatuh, berusaha bangkit dan bangkit lagi.

"Kau benar, Ibu. Aku sudah teramat kaya, bukan karena harta seperti ramalanmu. Tapi, keragaman nuansa hidup semakin membuka pikiranku"

Ibu, bagaimana kabarmu di sana? Apakah aquarium kecil tempat aku bercermin dulu masih jernih, tak pernah kulupa bagaimana semangatmu bercerita tentang ikan-ikan yang bernapas di dalam air, mereka tetap hidup, bergerak, seperti tak pernah letih menggelembungkan air. Kau bilang itu cara ikan mengembangkan pertumbuhan diikuti anak-anaknya. Ikan-ikan yang tak kan sanggup hidup di darat kecuali di air. Entahlah, itu benar atau salah. Yang kusadari aku sangat menikmatinya, merasakan lentik jemarimu tiada bosan menidurkan letihku. Memandangi raut wajahmu sampai aku mengatup mata.

"Tidurlah, Nak! Kelak kau akan paham makna lelah yang sebenarnya, bukan karena ragamu yang debebani muatan, bukan karena bengkak kakimu dalam menempuh jauhnya perjalanan, bukan juga merah matamu karena terlalu banyak membaca buku pelajaran. Bila tiba masanya kau akan mengerti apa itu ketakutan, kesedihan, juga kehilangan. Sekarang bermimpilah untuk kau gapai ketinggian yang kau angankan, di atas puncaknya kau pasti melihat seberapa jauh kau mendaki dan betapa dalamnya jurang yang tengah kau gali," kudengar bisikanmu, Bu. Lamat-lamat tersemat di kalbu.

Ibu, dari sisi pintu yang kuncinya selalu terbuka kubayangkan kau mengintip kesendirianku, seperti dulu, Bu. Kala aku tak mampu meyakinkan ayah dengan kebenaran ceritaku, ayah yang selalu meragukan keahlianku setiap kali aku ingin menggapai mimpi dan menjadi orang berprestasi. Sering ayah tak percaya jika aku gagal dalam usaha memandangku sebelah mata, dan tak memberi kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa, ingatkah kau, Bu? Hanya ibu yang peduli padaku, hanya kau, Bu!

****

Ibu, aku percaya kau selalu mengikutiku, aku yakin kau pasti merasakan kesakitan bagaimana yang saat ini mendera batinku. Aku hanya menunggu sebuah kesempatan agar sesegera mungkin bersimpuh di kakimu, aku telah melewati hari-hari yang melelahkan bersama kawan-kawan lain yang bertaruh demi hidup, setelah kami semua luntang-lantung di tengah samudra, dan kapal yang kami tumpangi terdampar di pulau kecil yang jauh dari jangkauan, setelah beberapa hari yang lalu kami memilih pulang dari Saudi karena situasi covid-19 yang melanda banyak negara, apakah mungkin waktu akan kembali mendekatkan kita, Bu?

Apakah pulau garam yang sarat dengan budaya tak kan bisa lagi aku saksikan, kerapan sapi yang riuh penonton kerap menjadi ajang perlombaan demi menemukan sepasang sapi yang kuat, tangkas dan layak di sebut juara. Cerita rakyat yang diabadikan dalam lakon seronin, adalah sebentuk hiburan yang dilestarikan, aku selalu ingat bagaimana kau sering mengulang cerita itu sebelum tidur Bu, potre koning perempuan yang sarat dengan aroma bidadari, sampai kini telaga tempat beliau membersihkan diri diyakini kaum hawa mampu mempercantik diri jika mandi di sana. 

Joko tole lelaki perkasa, sakti mandra guna berhasil merebut hati raja majapahit Arya Wiraraja berkat kesaktiannya merekatkan bagian pintu gerbang raksasa istana hingga dianugerahi putri raja. Semua bagian dongeng yang tak henti kau rekam ulang, hingga sejarah pulau-pulau kecil di Sumenep berikut nama-namnya. Setelah kini, aku yang berjuang antara hidup dan mati, masih adakah jalan yang bisa membawaku padamu, Bu. Sementara tak ada tanda keberadaan kami terlacak, hanya kejauhan yang memanjang, rimbun pohon  bakau yang lebat, dan igauan kami yang berakhir kalimat tanya.

***

Inginnya aku menceritakan padamu, aku telah menuntaskan kerinduan di depan Ka'bah. Pertama melihatnya, aku seperti berada di sebuah ketinggian, Bu. Aku tak kuasa membendung rasa haru, tak bisa kubayangkan, rumah Tuhan yang selama ini hanya di bayangan telah kudatangi dengan seluruh jiwa dan raga yang utuh. Air mata bahagia tak pernah selesai kualirkan, aku bertekad suatu saat aku bisa membawamu ke sana, kecamuk haru dan sedih serasa menyatu, sambung menyambung.

Kau tahu, Bu. Aku pun telah hijrah ke Raudah, di dekat pesarean Rasulullah yang tertutup tabir bibirku bagai terkunci, meski berdesakan dan sempat terjatuh di antara kerumun ratusan orang, tangisku tumpah ruah tak tertahan. Antara percaya dan tidak, ahirnya aku bisa menjejakkan kaki di salah satu tempat ijabah, doa-doa dan harapan bagai sederetan pesan tak tercegah, andai aku bisa memeluk dan membimbing tanganmu di sana, maafkan aku ibu.

Aku juga melihat masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah, Gunung uhud yang telah banyak menewaskan para mujahid, termasuk sayyina Hamzah juga terbantai di antara cabikan kuku-kuku Hindun yang haus darah. Begitu banyak yang belum kukabarkan, Bu. Kebun kurma yang rindang, jalanan kota yang hanya dihiasi bebatuan, serta rumah-rumah yang asing di mataku. Aku juga telah menuliskan namamu dan Ayah  di ketinggian gunung jabal Rahmah, tempat dipertemukannya Adam dan Hawa, aku berharap cinta kalian abadi, seperti cintaku juga pada kekasihku. Apakah dia masih mengingatku ya, Bu. Sebab keputusanku jadi TKW sangat ditentangnya.

Mungkin tiga tahun jarak yang pendek bagi sebagian orang, tapi bagiku sangat lambat berputar. Entahlah, aku sangat bersalah karena tak sempat mengabarimu, aku hanya ingin menunjukkan setelah sukses aku akan datang padamu dalam pelukan.

Karenanya, kukirimkan surat ini, surat yang kutulis dalam pikiran, surat yang kulafadz dengan rintihan, semoga akan segera tiba sebelum air mataku memenuhi dadamu, sebelum aku tak mampu mengenali aroma tubuhmu, sebelum putih rambutmu menutupi wajahku, sebelum aku tak sanggup lagi membenamkan kata-kata dalam doamu.

Bacalah garis tanganku lagi, Ibu. Lalu katakan padaku, takdirku masih panjang, meski di sela gigil dan demam, ketakutan merajam perasaan,  tapi aku pastikan aku akan tiba padamu, entah sebagai apa. Bukankah putih kasihmu lebih abadi dari virus jahat ini, bu?

Bacalah pesanku ya, Bu! Baca dengan seluruh kerinduanmu.

Madura, 20 Maret 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x