Mohon tunggu...
Meilawati Indah Ramadhani
Meilawati Indah Ramadhani Mohon Tunggu... Mahasiswa - @meilawt_ir

Pendidikan Sosiologi A; Universitas Negeri Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Implementasi E-learning terhadap Pendidikan Karakter Budaya pada Masa Pandemi Covid-19

28 Desember 2021   20:47 Diperbarui: 28 Desember 2021   21:19 242
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ruang Kelas. Sumber Ilustrasi: PAXELS

Covid-19 pertama kali dilaporkan oleh pemerintah di Kota Wuhan, China pada Desember 2019. Mulanya penyakit ini didiagnosis sebagai gejala infeksi virus pneumonia. Namun, hasil sekuensing genom menunjukkan bahwa agen penyebabnya adalah coronavirus baru. Di Indonesia sendiri, Covid-19 terdeteksi pertama kali pada tanggal 2 Maret 2020 hingga hari ini virus Covid-19 belum usai. Covid-19 ini telah ditetapkan sebagai wabah global. Bahwa penyakit ini merupakan musuh dunia yang harus kita lawan bersama.

Dengan adanya wabah pandemi ini, pemerintah Indonesia bahkan seluruh dunia banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan terbaru terkait pencegahan penyebaran virus ini. Khususnya pada segmen pendidikan, pemerintah mengeluarkan beijakan pembelajaran e-learning. Pembelajaran berbasis internet atau yang sering disebut dengan e-learning merupakan salah satu bentuk inovasi dari pemanfaatan teknologi dalam pendidikan khususnya sangat efektif untuk digunakan pada masa pandemi Covid-19. 

Namun secara tidak langsung pada dasarnya e-learning juga dapat dijadikan sebagai media pembentukan karakter peserta didik. Karena media pembelajaran memiliki peranan dalam proses pembelajaran yang tentunya terkait dalam penyampaian informasi dari guru ke siswa. Media pembelajaran ialah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta kemampuan peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi di dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif (Sukiman 2012:29).

Dalam pembelajaran e-learning yang sifatnya jarak jauh, memberikan tugas dan tanggung jawab eksternal serta tantangan bagi guru untuk mampu menciptakan lingkungan pembelajaran dalam upaya perkembangan etika, tanggung jawab dan karakter peserta didik tersebut. Karena metode evaluasi dari pendidikan karakter salah satunya dengan observasi langsung oleh guru, yang mengamati sikap atau perubahan baru yang muncul pada diri peserta didik. 

Belum lagi kendala yang dihadapi guru dalam penerapan pembelajaran daring misalnya penguasaan teknologi, kendala jaringan internet dan inovasi pengintegrasian pendidikan karakter pada pembelajaran dari yang seolah baru bumi ketika pandemi Covid-19 terjadi.

Pendidikan karakter budaya adalah proses mengembangkan sikap kepribadian yang berupa pendidikan nilai, contoh keteladanan yang baik sehingga dapat dijadikan pedoman dalam pendidikan di sekolah. Pendidikan karakter budaya merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan yang maha esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan Kamil (Muslich 2011:84).

Menurut Wiyani (2013:48-49) pendidikan karakter di Indonesia didasarkan pada 9 pilar karakter dasar yang dirumuskan oleh Heritage Foundation, antara lain : "Pertama, cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya.Kedua, tanggung jawab, disiplin, dan mandiri. Ketiga, jujur. Keempat, hormat dan santun. Kelima, kasih sayang, peduli, dan kerjasama. Keenam, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah. Ketujuh, keadilan dan kepemimpinan. Kedelapan, baik dan rendah hati. Kesembilan, toleransi, cinta damai, dan persatuan."

Dalam menganalisis persoalan budaya, Menurut Antropolog Indonesia Koentjaraningrat, pengertian budaya adalah sebuah sistem gagasan dan rasa, sebuah tindakan serta karya yang dihasilkan oleh manusia yang di dalam kehidupannya yang bermasyarakat. Selain itu Koentjaraningrat juga mendefinisikan budaya lewat asal kata budaya dalam bahasa Inggris yaitu "colere" yang kemudian menjadi "culture" dan didefinisikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam. 

Jika dihubungkan dengan keadaan sekarang. Bahwa budaya pembelajaran e-learning adalah segala daya dan kegiatan pembelajaran yang digunakan sehari-hari untuk mengolah berjalannya sistem pendidikan dan paling efektif untuk sekarang.

Adapun pengimplementasian e-learning terhadap pendidikan karakter budaya yang dilakukan seperti :

  • Dalam hal disiplin, mandiri dan tanggung jawab adalah pada fitur pengumpulan tugas yang diberikan oleh pengajar kepada peserta didik dalam pemilihan tema, menu, tampilan, serta tindak lanjut yang ada pada setiap progres yang dipilih oleh peserta didik. Sehingga setiap desain yang dikembangkan e-learning menjadi kebebasan individu oleh peserta didik dengan tetap mengedepankan mandiri, disiplin, dan tanggung jawab.
  • Menggunakan bentuk diskusi via zoom meeting, google meet ataupun chatting, sehingga karakter yang muncul pada proses ini ialah komunikatif dan cinta damai dimana peserta didik dan pendidik melakukan tindakan komunikatif secara baik.
  • Pengajar bisa menggunakan metode tanya jawab setelah penyampaian materi ataupun sebaliknya nya, bahan yang dibutuhkan pada tahapan ini adalah nilai karakter menghargai prestasi yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain (Kementerian Pendidikan Nasional dalam Suyadi, 2013:9).

Walaupun e-learning ini sangat efektif untuk digunakan, namun memunculkan berbagai tantangan. Terutama pada jaringan internet yang belum merata atau terkadang sedang mengalami gangguan internet di daerah-daerah tertentu, lalu tidak semua peserta didik memiliki fasilitas teknologi e-learning yang baik karena gadget atau laptop yang mereka miliki ada kerusakan sehingga penyampaian materi kurang jelas karena video dan suara pengajar terdengar putus-putus, lalu juga tantangan itu muncul dari diri peserta didik itu sendiri, karena dia merasa tidak ada guru yang mengawasi secara langsung jadi peserta didik merasa lebih menyepelekan pembelajaran, yaitu tidak mendengarkan, tidur, asik main gadget buka aplikasi lain, melakukan pembelajaran sambil main di luar rumah dan lain sebagainya yang dapat mengambat pembentukan karakter peserta didik yang tanggung jawab, mandiri, menghargai dan lainnya. Karena keadaan tersebut justru yang terjadi malah sebaliknya, yaitu malas, tidak menghargai, kurang komunikatrif yang baik, tidak sopan dan lain sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun