Mohon tunggu...
GENESIS
GENESIS Mohon Tunggu... -

Genesis adalah media menulis bebas, belajar menulis, dan belajar apapun itu....!!!!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sepucuk Surat Santri kepada Kyai Hasyim Asy’ari

31 Januari 2016   20:51 Diperbarui: 2 Februari 2016   13:07 244
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya begitu merinding mendengar cerita itu, andai saja masih ada tokoh NU seperti kyai saat ini. Pasti tidak akan pernah terpecah NU dan menyatakan bahwa Nu-nya adalah NU yang paling benar serta sesuai dengan cita-cita pendahulu. Mereka sibuk berebut benar terkait ke-NU-annya, andai saja mereka semua bisa meneladani cerita-cerita kyai, pasti tak akan ada hal seperti ini kyai...

Kyai, jika dulu saat jenengan mendirikan NU dan memimpinnya, hanya memiliki beberapa cabang dan ranting. Kini, cabang NU hampir di setiap Kota dan Kabupaten di indonesia. Bahkan di tanah papua saya juga terdengar suara lantunan yasin tahlil yang menjadi ciri khas jama’ah NU.

Mungkin kyai juga mengerti dan bangga, karena NU hari ini memiliki jama’ah/kader yang tidak hanya pandai membaca kitab kuning. Kini tak sulit lagi kyai, mencari kader NU yang pintar membuat bahasa pemrograman komputer, ahli nuklir atau ahli dalam berbagai bidang sains lainnya. Prinsip dakwah bagi NU bukan hanya dengan menjadi dai di panggung, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan. NU juga berhasil memberi warna dalam perjalanan negeri ini melalui para tokoh publik yang mengelola negara.

Selain itu kyai, Kini NU juga memiliki sejumlah layanan sosial. Rumah sakit, klinik kesehatan, perguruan tinggi, panti asuhan, dan lainnya yang merupakan bukti nyata peran NU di masyarakat. Seperti halnya petuah kyai berikan bahwa “ agama dan nasionalisme adalah 2 kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian agama dan keduanya saling menguatkan”. NU saat ini juga masih menjadi garda terdepan dalam melindungi keutuhan NKRI dengan semboyan yang sering di ucapkan “NKRI Harga Mati”.

Tapi banyaknya cabang, kader/jama’ah, serta beberapa kemajuan lainnya bukan menjadi satu-satunya acuan organisasi NU besar kyai, lantaran kini juga banyak kader/jama’ah NU yang tidak mencerminkan bahwa dia kader NU.

Saya mungkin tak perlu menyebutkan kyai siapa saja, saya yakin kyai sudah tahu siapa saja mereka yang dengan jelas mencoreng nama NU dengan tindakannya. Ada yang korupsi, ada pula yang gemar mengkafirkan dan menyalahkan, adapula yang melakukan tindak pidana lainnya. Semoga mereka segera terlepas dari belenggu kejahatan, Amin!!!

Tapi saya yakin kyai, kalau itu adalah salah satu cobaan dan tantangan NU di umurnya yang semakin tua. Hal ini terlihat bahwa masih banyak pula kader-kader NU yang turut serta membangun negri ini dengan cara mereka kyai. Ada yang melalui seni, ada yang melalui usaha, ada yang melalui pendidikan, dan lainnya kyai. Yang mana diharapkan dengan adanya kader NU di berbagai lintas kelas ekonomi, jabatan, struktural negara, perkerjaan, suku, etnis dan lainnya NU mampu mewarnai perubahan dunia dengan nilai-nilai Islam yang ramah, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Ngapunten kyai, saya hampir lupa menyampaikan ini. Saat ini indonesia di pimpin oleh presiden Jokowi dimana wakil presidennya adalah jusuf kalla yang merupakan kader NU. Ia adalah putra hadji kalla kyai, seorang sodagar kaya dari bugis yang selama hidupnya mengabdikan diri sebagai bendahara NU Sulawesi Selatan dan bendahara Masjid Raya yang merupakan masjid besar bersejarah di Makassar, Kyai pasti kenal. Disamping itu kyai, ada pula beberapa menteri yang berasal dari kader NU. Seperti halnya Khofifah Indar Parawangsa kini dia menjadi menteri sosial. Hanif Dhakiri menjabat menteri tenaga kerja. Marwan Jakfar diposisikan menteri desa daerah tertinggal dan transmigrasi. Imam Nahrowi menjabat menteri Pemuda dan Olahraga. Lukman Hakim menjadi menteri agama dan beberapa kader NU yang menduduki posisi strategis dan pemerintahan lainnya.

Itulah nama nama yang saya tahu kyai. Jika kyai berkenan, masuklah ke dalam mimpi-mimpi mereka kyai, sampaikanlah petuah-petuahmu agar mereka benar-benar amanah dan bekerja untuk kepentingan bangsa ini.

Sehingga saat mereka bangun nanti, mereka benar-benar sadar bahwa yang mereka nikmati dan duduki saat ini adalah berkat jasa NU dan hanya sebatas titipan yang kelak akan di pertanggung jawabkan.

Jika kyai berkenan pula, masuklah ke dalam mimpi-mimpi para kader/tokoh NU yang berebut benar tentang ke-NU-annya. Sehingga ketika mereka bangun esok hari, bisa mengerti dan paham kalau pentingnya bersatu demi kemajuan NU, bukan malah saling menyalahkan antara satu sama lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun