Mohon tunggu...
Suci Ayu Latifah
Suci Ayu Latifah Mohon Tunggu... Mahasiswa

Satu Tekad Satu Tujuan

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Setiap Penulis Punya Kekhasan

25 April 2019   21:42 Diperbarui: 25 April 2019   21:48 0 9 2 Mohon Tunggu...
Setiap Penulis Punya Kekhasan
hipwee

Penulis tentunya memiliki ragam latar sosial. Latar sosial yang berbeda-beda tersebut, muncullah kekhasan tersendiri tiap penulis. Kekhasan itu menurut Waluyo (2002:68), dalam dilihat dari beberapa hal. Di antaranya (i) metode penceritaan, (ii) proses kreatif penulis, (iv) cara mengekspresikan apa yang ada dalam diri penulis, dan (v) gaya bahasa penyampaian yang digunakan.

Pertama, metode penceritaan adalah bagaimana cara seorang penulis menceritakan sebuah lukisan gambaran kehidupan. Metode ini penting memahami unsur cerita: tema dalam cerita, siapa tokoh dalam cerita, bagaimana alur yang akan diceritakan, di manakah latar cerita, sudut pandang cerita, dan lain sebagainya. Selanjutnya, teknik dalam penceritaan bisa memanfaatkan model narasi atau dialog. Model narasi ditandai dengan adanya deskripsi yang detail dan utuh. Sedangkan dialog, didukung dengan pemberian tanda kutip, yaitu sebuah tulisan yang dituturkan oleh tokoh.

Kedua, proses kreatif cerita berasumsi bahwa bagaimana kreativitas seorang penulis mengemas cerita yang akan dihasilkan menjadi sebuah cerita yang menarik. Kemenarikan cerita, bisa dilihat dengan mengamati gaya penceritaan penulis. Bagaimana seorang penulis kreatif mengolah ide cerita yang ada.

Proses kreatif ini, biasanya dipengaruhi oleh pengalaman membaca penulis. Artinya, saat membaca tanpa sadar adanya proses menikmati pola atau model cerita. Karena itulah, pengalaman membaca menjadi penting guna memperkaya kreativitas cerita. Seperti ungkapan, "Penulis yang baik adalah pembaca yang baik."

Ketiga, cara mengekspresikan apa yang ada dalam diri penulis. Pram, pernah mengutarakan bahwa menulis adalah sebuah keberanian.

Karena itu, tulisan adalah ekspresi diri. Perjalanan hidup penulis memengaruhi hasil karya yang tercipta. Yaitu perjalanan tentang bagaimana menerima, menghadapi, dan menyelesaikan masalah. Biasanya, penulis sastra anak selalu mengingat-ingat bagaimana ia semasa dulu (masa kanak-kanak) ketika berhadapan oleh masalah, bagaimana cara menghadapi, dan cara menyelesaikan masalah yang ada.

Karenanya dalam hal ini, perjalanan hidup masa kecil sering kali tanpa sadar tertuang dalam karya yang diciptakan.

Dan keempat, gaya bahasa yang disampaikan. Sesuai dengan pengantar di atas, sastra anak dalam penggarapan cerita tentunya menggunakan gaya bahasa usia anak-anak. Kosakata yang dipakai harus seusuai usia anak, strukturnya jelas, kalimat sederhana dan relatif pendek, sehingga, anak dengan mudah memahami isi cerita secara utuh.

Dalam bahasa yang sederhana, selalu diupayakan cerita memiliki efek keindahan gaya bahasa, seperti  repitisi, citraan, ungkapan segar, dan lain sebagainya (Nurgiyantoro, 2005:89).

Keempat kekhasan di atas adalah daya tawar seorang penulis dalam penciptaan karya. Harapnya setiap penulis mampu mengemas cerita yang menarik. Sebuah cerita yang mengajak para pembaca untuk berpetualang, berfantasi, menjelajahi imaji cerita, dan masuk ke dalam bagian dari cerita yang dibaca.